Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Mendekati Hari Pernikahan


__ADS_3

Hampir satu jam Renata berada di sana dan saling bercerita tentang pengalamannya.


"Nara, bagaimana kamu dan Jaden bisa bertemu?"


"Aku?" Nara melihat pada Jaden. Tidak mungkin juga Nara cerita jika dia diculik oleh Jaden dan menjadi pelayan di rumahnya.


"Iya, bagaimana kamu bisa bertemu dengan Jaden dan sampai bisa menaklukkan si muka dingin itu?" Bahkan kalian sampai menikah. Wow! Kami gadis yang luar biasa keren!" seru Renata sambil menunjukkan kedua jempol tangannya.


"A-ku--?"


"Apa penting Nara bercerita hal itu sama kamu? Aku jatuh cinta pada Nara dan Nara jatuh cinta padaku. Itu saja selesai."


Renata mengerutkan kedua alisnya. "Nara, kamu benar-benar betah ya memiliki suami seperti dia?"


Nara malah tersenyum aneh. "Tuan JL itu baik dan sebenarnya dia lelaki yang perhatian, hanya saja caranya mungkin agak aneh."


"Aneh bagaimana? Jangan bicara sembarangan! Hei! Penjual jepit rambut, sana pergi ke dokter yang mau memeriksa kaki kamu, kenapa juga lama-lama di sini? Kalau kaki kamu tambah sakit menyalahkan kita di sini," usir Jaden.


"Ya ampun! Keterlaluan sekali ucapan kamu. Nara, jangan sampai anak kalian seperti ayahnya. Cukup satu saja yang menyebalkan!"


"Leo, antarkan dia ke tempat dokter yang akan dia kunjungi."


"Kenapa harus di antara oleh Leo? Aku bisa sendiri."


"Kalau kamu nanti terjatuh di jalan bisa ada yang menolong."


"Ternyata benar apa kata Nara. Cara perhatian kamu aneh."


"Huft! Aku sengaja ingin mengusir kalian biar aku bisa berduaan dengan Nara."


"Nenek juga diusir?" Renata tampak kaget.


"Nenek sudah tau sifat cucu nenek, Renata. Kalau begitu nenek ikut kamu saja karena banyak yang ingin nenek bicarakan sama kamu. Boleh?"


"Tentu saja boleh. Aku di sini juga sendirian. Tinggal sendirian di apartemen dan tidak ada keluarga. Aku ke sini karena kerja sama yang baru asisten pribadiku kirimkan pada perusahaan Diamond Group."


"Apa? Perusahaan Diamond Group? Itu kan perusahaan milikku," jawab Jaden agak kaget.

__ADS_1


"Jadi kamu pemilik perusahaan itu? Wow! Kebetulan sekali. Aku dari perusahaan RR Company."


Leo ingat pernah mengunjungi untuk kerja sama dengan RR Companya, tapi Leo tidak tau jika pemilik perusahaan itu milik Renata.


"Jadi Nona. Em! Maksud saya Renata adalah pemilik RR Company?"


"Iya, Leo. Kalau begitu kerja sama ini pasti akan membawa manfaat kedua belah pihak karena aku akan bekerja sama dengan perusahaan yang tepat." Renata tampak bahagia.


Wajah Jaden biasa saja. Dia tau jika Renata wanita yang pandai dan profesional di balik sikap apa adanya dia. Benar apa yang dikatakan oleh Renata, bahwa kerja sama mereka akan berjalan baik.


"Kalau begitu aku tunggu kedatangan Tuan Jaden Luther dan si asisten charmingnya ke perusahaan milikku."


Mereka semua akhirnya pergi dari kamar Nara dan meninggalkan Nara dengan Jaden.


Si pria dingin itu melihat pada gadisnya yang tidur dengan membelakanginya. Jaden tau jika begitu pasti ada yang salah dengan dirinya.


"Kamu kenapa?" Jaden duduk di samping ranjang Nara dan mengusap lembut pipi Nara.


"Kamu kenapa tidak bercerita jika waktu itu menggendong Renata?"


"Nara, hal itu tidak perlu diceritakan. Aku hanya menolongnya saja. Bahkan jika orang lain yang melihat hal itu akan melakukan hal yang sama."


"Kita akan menikah dan aku harap kita harus saling percaya satu sama lainnya. Aku sangat mencintai kamu dan tidak mungkin aku mudah jatuh cinta pada lainnya, walaupun dia orang dari masa laluku, Nara."


"Aku takut, Tuan JL. Takut kehilangan kamu karena kamu dikelilingi banyak wanita cantik."


Jaden tersenyum kecil. "Kamu paling cantik buatku, apa lagi saat hamil begini." Jaden mengecup lembut bibir Nara.


Beberapa menit ciuman mereka saling bertaut.


***


Keadaan Nara sudah mulai membaik. Namun, tetap saja Leo adalah orang yang selalu harus dekat dengan Nara. Entah kenapa Nara malah mengidam ingin selalu dekat dengan Leo. Jaden pun harus ekstra sabar dan mengerti dengan ngidamnya Nara.


"Yah, itu mobil siapa yang ada di depan rumah?" Soraya memberi tau suaminya yang sedang duduk dengan tangan menulis sesuatu di atas kertas.


"Tidak tau? Perasaan aku sudah membayar kemarin tunggakan hutangku."

__ADS_1


Nenek Miranti keluar dari mobil itu setelah dibukakan pintu oleh Leo. Sebuah rumah berukuran minimalis dan tampak beberapa jemuran baju di depannya.


"Yah, itu bukannya neneknya Jaden?" Tangan Soraya menepuk-tepuk pundak suaminya beberapa kali."


Seketika mata paman Nara itu mendelik kaget dan segera membereskan kertas-kertas yang ada di mejanya.


Paman dan bibi Nara segera menyambut kedatangan nenek Miranti.


"Nyonya besar, ada apa ke sini? Dan dari mana bisa tau tempat tinggal kami yang baru?"


"Mencari alamat rumah kalian itu tidak sulit. Aku ke sini karena ingin berbicara dengan kalian berdua. Apa boleh aku masuk?"


"Tentu saja boleh. Soraya, kamu siapkan minuman untuk Nyonya Miranti."


Nenek Miranti masuk dan duduk sambil mengedarkan pandangannya melihat sekeliling dalam rumah itu.


"Benu, aku ingin kamu lusa bisa datang sebagai wali di acara pernikahan Nara dan cucuku Jaden."


Deg!


"Apa? Pernikahan Nara dan Tuan Muda Jaden Luther?" Benu tampak shock dan terkejut.


"Iya. Cucuku Jaden Luther akan menikah dengan Nara keponakan kamu dan pernikahan mereka akan dilangsungkan lusa dan kamu serta keluarga kamu aku harap bisa datang ke sana."


"Kok bisa mereka sampai akan menikah? Apa tuan muda Jaden tidak salah dalam memilih calon istri? Nara itu gadis yang malas, tidak tau terima kasih dan dia suka menggoda banyak lelaki."


"Cukup, Benu!" bentak Miranti marah saat Benu mengatakan hal buruk tentang Nara. "Kamu hanya aku suruh datang sebagai wali untuk Nara karena aku masih menghormati kamu sebagai paman Nara, tapi aku tidak suka jika kamu menjelekkan calon cucu menantuku dengan kata-katamu yang tidak benar!"


Leo yang berdiri di sana juga geram mendengar apa yang dikatakan oleh paman Benu. Ingin sekali dia menghajar mulut kotor paman Benu itu. Padahal Benu yang sudah menjual Nara pada Tuan Jaden, tapi dia malah menjelek-jelekkan Nara.


"Tapi apa Nyonya tau bagaimana dulu Nara sampai bisa bekerja di rumah Tuan Jaden Luther?"


Tertarik senyum miring dari sudut bibir wanita paruh baya itu. "Tentu saja aku tau semuanya. Kamu tidak perlu memberitahuku masalah itu."


"Maaf, Nyonya Miranti, tapi saya--."


Belum selesai paman Benu mengatakan tidak bisa datang. Di depannya sudah diletakkan segepok uang yang tentu saja buat dia tidak bisa menolak.

__ADS_1


"Datang tepat waktu, atau aku buat hidup kamu dan keluarga kamu tambah menderita. Paham!" serunya kesal.


Miranti berdiri dari tempatnya dan pamit pergi dari sana. Leo menatap kesal pada Paman Nara dan sepupu Nara yang baru saja datang dari kuliahnya.


__ADS_2