Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pernyataan Cinta Roy


__ADS_3

Tangan Nara menepis pelan tangan Roy. "Maaf, Nara, aku hanya mengambil sisa makanan yang ada di bibir kamu." Roy menunjukkan remahan puding yang dimakan oleh Nara.


"Oh iya, terima kasih." Nara tersenyum memaksa.


"Nara, apa kamu dulu di sekolah memiliki kekasih?" Roy bertanya dengan suara lembutnya.


Nara menggeleng perlahan. "Bagiku sekolah itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari kekasih. Aku sudah bersyukur sekali bisa bersekolah, Mas Roy."


"Memangnya keluarga kamu benar-benar sangat tidak mampu ya?"


Nara bingung menjelaskan. Dia sebenarnya dari keluarga mampu, tapi pamannya seolah malas untuk membiayai hidupnya, padahal sebenarnya bisa.


"Paman dan Bibiku bukan orang yang punya cukup banyak uang, apalagi harus membiayai tiga orang."


"Oh ... jadi karena itu setelah lulus kamu memilih bekerja di sini? Tapi kamu, kan, bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik daripada di sini? Kamu cantik dan pasti kamu juga pintar. Kenapa mau menjadi seorang pelayan?"


Andai saja si mas Roy ini tau kenapa Nara bisa menjadi pelayan si Tuan yang suka seenak jidatnya itu, tapi pasti mas Roy juga tidak akan bisa berbuat apa-apa. Pengen dibunuh dia sama Jaden kalau sampai ikut campur urusan Jaden.


"Tidak apa-apa menjadi pelayan Tuan Jaden. Bukannya pekerjaan ini juga tidak buruk? Daripada aku menjadi wanita penghibur di club malam," pada kalimat itu Nara bicara lirih.


"Kamu bicara apa, Nara?" Roy mendengar samar kalimat terakhir Nara.


"Mas Roy sendiri kenapa memilih pekerjaan menjadi seorang pengawal?"


Pria yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya itu tersenyum manis. "Karena menjadi pengawal, upah yang aku terima sangat banyak. Aku bisa menabung dengan cepat untuk membeli rumah buat calon istriku kelak."


"Jadi Mas Roy sudah memiliki calon istri?"


"Belum Nara. Aku masih sendiri."

__ADS_1


"Masak, sih? Aku tidak percaya."


"Benar, Nara. Aku dulu pernah memiliki kekasih, tapi dia berselingkuh dariku dan aku memutuskan dia."


"Wah! Jahat sekali. Kenapa orang harus berselingkuh, ya? Kalau sudah tidak cocok mending langsung putus dan mencari lainnya, daripada harus menyakiti pasangan kita."


"Ucapan kamu benar sekali, aku sangat setuju dengan apa yang kamu katakan. Nara." Tiba-tiba tangan Roy memegang tangan Nara. Nara tentu saja sangat kaget dengan hal itu.


"Mas Roy," Nara mencoba menarik tangannya perlahan.


"Maaf, Nara, tapi aku hanya ingin mengatakan kalau kamu gadis yang benar-benar seperti apa yang aku harapkan."


Nara tersenyum aneh. "Terima kasih, tapi Mas Roy baru mengenalku." Nara beranjak dari tempat duduknya.


"Nara, kamu mau ke mana?"


"Mas Roy, ini sudah malam, dan aku mau istirahat. Aku capek sekali."


"Nara, kamu jangan marah atau takut dengan apa yang aku katakan tadi. Aku hanya mengatakan hal yang tiba-tiba ada di hatiku. Kamu gadis baik, cantik dan aku yakin kamu bisa menjadi istri yang baik. Apa kamu mau menjadi kekasihku?"


Nara benar-benar speechless mendengar pernyataan cinta dari pria yang baru beberapa hari mengenalnya. Nara tidak menyangka akan ada seseorang yang menyatakan cinta padanya karena seumur-umur baru kali ini ada orang yang memintanya untuk menjadi seorang kekasih.


"Ma-mas Roy, Mas Roy bicara apa, sih? Aku tidak mengerti maksudnya?" Nara pura-pura bego saja, dia tidak mau menanggapi serius apa yang dikatakan pria itu.


"Mungkin ini terlalu cepat bagi kamu, apalagi kamu tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya, tapi saat pertama kali bertemu kamu dan kamu dengan baiknya perhatian sama aku, aku merasa kalau kamu adalah gadis yang pantas untuk menjadi masa depanku, Nara.


"Maaf, Mas Roy, tapi aku belum memikirkan hal itu. Aku masih mau menikmati diriku seperti ini saja. Mas Roy, ini sudah malam dan mungkin Mas Roy sudah mengantuk, sebaiknya Mas Roy tidur."


Saat Nara akan berjalan pergi, tangan Nara dipegang dengan cepat oleh pria itu. "Mas Roy, ada apa lagi?"

__ADS_1


"Nara, aku harap kamu memikirkan kata-kataku, tadi. Aku tidak akan mempermainkan kamu, dan jika kamu mau bersamaku, aku akan bicara dengan Tuan Jaden agar aku bisa membawa kamu pergi dari sini."


"Maaf, tapi aku sudah senang seperti ini. Senang berkenalan dan bisa berteman dengan Mas Roy." Nara melepaskan pegangan tangan Roy dan berjalan pergi dari sana.


Pria yang baru ditolak oleh Nara itu mengeram kesal. Kedua matanya masih memperhatikan Nara yang berjalan pergi dari sana.


Nara masuk ke dalam rumah dengan melamun memikirkan kata-kata pria tadi. "Dia kenapa malah bicara seperti itu? Kita saja baru mengenal, dan sangat tidak bisa dipercaya dia sudah menyukaiku dan yakin padaku." Nara berpikir sejenak.


"Tapi tadi dia mengatakan jika aku mau menjadi kekasihnya, dia akan berbicara dengan Tuan Jaden. Sebenarnya kesempatan emas bagiku bisa keluar dari sini dengan aman. Tapi tidak! Siapa tau dia bukan pria baik dan malah bisa lebih menakutkan dari si pria dingin JL itu," Nara malah berbicara sendiri dari tadi.


"Huft! Sudahlah, aku lebih baik di sini saja dulu. Pulang pun takutnya malah aku nanti dijual atau kalau tidak aku dinikahkan dengan pria tua asal kaya raya. Ikut Mas Roy pun belum tentu dia baik. Apalagi aku melihat wajahnya tadi ada yang dia sembunyikan. Mending di sini saja, kata orang tempat yang aman adalah tempat yang menyeramkan, seperti di sini. Pemiliknya saja seram." Nara malah terkekeh.


Nara berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman yang biasa dia siapkan di kamar Jaden. Dia selalu mengganti air di kamar Tuannya itu sesuai perintah Jaden.


Saat mendekati kamar Jaden, Nara melihat pintu kamar Jaden yang terbuka, dan dia mendengar suara seseorang di dalamnya.


"Mba Sandra? Kenapa malam-malam begini masih di dalam kamar Tuan?" Nara mengetuk pintu dan dua orang itu melihat bersamaan ke arah pintu.


"Nara? Kamu membawakan teko air untuk Tuan Jaden?"


"Iya, aku ke sini mau menaruh air ini."


"Kamu telat, aku sudah mengambilkan yang baru. Kamu terlalu asik bicara berduaan sama pengawal itu sampai lupa dengan pekerjaan kamu."


Nara melihat ke arah Jaden. "Maaf, Mba, tapi memang biasanya aku membawakan air di jam seperti ini. Kalau memang sudah di ganti aku permisi saja."


"Kenapa terburu-buru? Kamu mau bertemu lagi dengan Mas Roy kamu?" Sandra sengaja menggoda Nara.


Nara dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku mau tidur, Mba, lagipula ini juga sudah malam. Mba Sandra juga tidak beristirahat?"

__ADS_1


"Sandra malam ini akan tidur di kamarku karena dia akan menemaniku mengerjakan pekerjaan kantorku. Aku butuh teman untuk berbicara," ucap Jaden tegas.


__ADS_2