Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pernyataan Cinta yang Sia-sia


__ADS_3

Jaden yang malah gemas mengecup kembali bibir Nara, tapi kali ini dia memberikan kecupan kecil.


"Aku masih punya hati, Nara, tapi kalau kamu mencari sebuah arti cinta di pada diriku. Maaf, aku tidak mengenalnya." Jaden mengusap lembut pipi Nara.


"Tuan, kalau aku bilang aku tidak takut jika menjadi kekasih Tuan Jaden, apa Tuan Jaden tidak mau membuka hati untukku?" Nara melihat serius, tapi agak takut pada Jaden.


Jaden seketika menarik tangannya dari pipi Nara. "Kamu tidak takut, tapi aku yang takut kamu terluka. Jangan berpikiran atau berharap semua akan baik-baik saja jika kamu bersamaku."


"Tapi, Tuan aku--."


"Cukup Nara! Kita tidak perlu berdebat seperti ini. Kamu dan aku, kita sudah memutuskan akan menjalani hal seperti biasa. Kalau kamu menginginkan suatu status hubungan denganku. Aku sarankan kamu bisa pergi saja dari rumahku, tapi aku akan menjamin semua kebutuhanmu."


Nara menggelengkan kepalanya. Dia mau ke mana? Walaupun dia mendapat banyak uang, tapi hati dan cintanya sudah terpenjara oleh pria yang sudah mengambil mahkotanya itu. Sungguh Nara yang menyedihkan.


"Kita pulang saja kalau begitu, Tuan. Aku sudah mengantuk." Nara sampai menguap di depan Jaden.


"Kita pulang sekarang." Jaden melihat pada para pengawalnya yang ternyata masih memejamkan kedua matanya.


"Kalian kenapa?"

__ADS_1


"Kami menuruti sesuai perintah Tuan Jaden kalau tidak boleh melihat adegan yang romantis," terang salah satu pengawal Jaden.


Nara yang awalnya mengantuk menjadi ketawa karena ucapan bapak pengawal itu.


"Buka mata kalian! Kita kembali sekarang."


"Baik, Tuan!" Mereka serempak membuka mata.


Perjalanan pulang Jaden mengemudi sendiri dan di sampingnya Nara duduk dengan manis. Hingga tidak terasa mereka sampai di rumah.


"Nara, kita--." Jaden tidak meneruskan kata-katanya karena melihat Nara yang ternyata tengah tertidur dengan lelapnya. Jaden tersenyum simpul dan keluar dari mobilnya. Jaden menggendong Nara dan membawanya ke dalam kamar milik Nara sendiri.


"Tidurlah dengan nyenyak. Aku mencintai kamu, Nara," ucap Jaden lembut dan mendaratkan kecupan pada kening Nara. Pria itu beberapa detik masih berdiri dengan menatap Nara yang sedang lelap tertidur.


***


Keesokan harinya, Nara yang terpaksa terbangun karena suara bising dari bunyi ponsel entah milik siapa.


"Berisik sekali! Aku masih mengantuk," ocehnya, tapi suara bunyi ponsel itu tetap tidak menurut pada Nara.

__ADS_1


Nara bangkit dari tidurnya dan menatap sekitar. Aku tidur di kamarku sendiri?" Nara tersenyum sendiri. "Memangnya aku harus tidur di mana? Di kamar Tuan JL. Helow Nara, kamu itu jangan berharap lebih. Dia terlihat tampan sebenarnya saat mengatakan hal itu."


Nara baru sadar tentang suara ponsel yang tadi mengganggunya. Dia mencari di sekitar kamarnya dan ternyata itu suara ponsel miliknya yang kemarin Jaden belikan.


Tidak lama ponsel itu berdering lagi. Nara agak kaget karena dia tidak merasa mengaktifkan ponselnya.


"Halo,"


"Nara! Kamu tidur apa pingsan? Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku?"


"Aku tidur, dan yang membuat aku sulit membuka kedua mataku karena kamu yang mengganggu mimpiku, Tuan JL."


"Aku? Memangnya kenapa denganku?"


"Aduh! Kenapa mulutku keceplosan begini," gerutu Nara.


"Nara! Jangan menggerutu!" seru Jaden kesal.


"Ada apa Tuan meneleponku? Tuan kan bisa memanggilku di kamarku, atau aku nanti juga akan ke kamar Tuan."

__ADS_1


"Sekarang bersiap-siap. Aku akan mengajak kamu lari pagi. Aku menunggu kamu di bangku pinus."


"Tapi--." Nara agak malas.


__ADS_2