Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Menemukan Putra Jacob


__ADS_3

V tampak heran menatap mereka bertiga. V melihat pada pria yang duduk di kursi roda. Wajah pria itu seperti pernah V lihat, tapi dia lupa di mana.


"Iya, aku anak dari Renata, wanita yang makamnya sedang kalian datangi. Siapa kalian? Apa kalian mengenal ibuku?"


Wanita cantik dan seorang pria yang berdiri saling berpandangan. "Siapa nama kamu?"


"Namaku Vero Jackuel Thomson, tapi aku lebih sering di panggil V."


"Apa kamu mau melakukan tes DNA dengan putraku?"


Kedua alis V mengkerut mendengar apa yang dikatakan oleh pria dengan rambut putihnya. "Tes DNA? Apa maksud kamu? Apa kalian salah mencari makam seseorang? Sebaiknya kalian pergi karena aku ingin bertemu ibuku."


"Jika kamu benar putra dari Renata dan Jacob itu berarti kamu adalah cucu kami."


"Apa? Cucu kalian?"


"Iya, karena Jacob adalah putra kami."


V melihat kembali pada pria yang duduk di kursi roda. "Apa dia adalah ayahku?" tanya V dengan nada bicara ragu-ragu.


"Tentu saja, dia adalah ayah kamu, tapi kita tetap akan melakukan tes DNA untuk mengetahui kamu benar cucu kami atau bukan," ucap pria yang mengaku kakek V dengan tegas.


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan jika memang aku terbukti cucu kalian?"


"Tentu saja kamu harus ikut dengan kami dan menjadi keluarga Thomson karena kamu adalah satu-satunya keturunan keluarga Thomson."


"Ck! Enak sekali kalian bicara. Ke mana saja kalian selama ini? Aku dan ibuku hidup menderita selama bertahun-tahun dan kalian tidak ada yang peduli."


Pria yang tak lain adalah Carlos menahan geram mendengar apa yang dikatakan oleh V, tapi dia harus menahan emosinya karena dia ingin keturunan Jacob bisa bersama dengan mereka untuk meneruskan perusahan.


"Kami bukannya tidak peduli, tapi kami baru tau jika Renata dan Jacob memiliki seorang anak. Kami berusaha mencari kalian selama ini."


"Kalian orang kaya, dan pasti untuk mencari keberadaan aku dan ibuku tidak sulit. Kalian memang tidak peduli dengan kami."


"V, kami peduli dengan kamu dan ibumu, tapi kalian yang seolah menghilang bak di telan bumi. Apa lagi kami tidak bisa menanyai ayah kamu karena keadaan ayah kamu yang koma selama ini." Wanita itu menangis.


"Kalau kamu mau menyalahkan kehidupan kamu yang menderita, itu bukan salah kami, tapi itu salah kakak angkat dari ayah kamu. Dia penyebab semua hal buruk yang menimpa kamu dan ibumu."


"Apa? Kakak angkat ayahku? Memangnya apa yang sudah dia lakukan pada kedua orang tuaku?" Tatap V penasaran.


"Ikutlah bersama kami, maka akan aku ceritakan semuanya."

__ADS_1


V tampak terdiam sejenak. "Percayalah pada kami karena hanya kami keluarga kamu satu-satunya sekarang."


"Baiklah kalau begitu, tapi tidak hari ini karena aku masih ada praktik kuliah yang tidak bisa aku tinggalkan." V ingin segera memberikan dessert yang dia buat untuk Denna.


"Kalau begitu nanti kita bertemu di restoran ujung jalan ini. Ini nomor teleponku yang bisa kamu hubungi."


Carlos memberi kartu nama pribadinya. V menerimanya dan melihat sekali lagi pada Jacob yang duduk terdiam.


"Dia ayahku, kan?"


"Iya, dia Jacob-- ayah kamu. Dia hidup, tapi mati. Dia sadar dari komanya, tapi dia tidak ingat apa pun, bahkan dia sama sekali tidak bisa di ajak komunikasi."


V berjalan mendekat pada Jacob dan dia duduk berjongkok di depan Jacob.


"Ayah, apa kamu bisa mendengarku?"


V mencoba berkomunikasi dengan Jacob, tapi Jacob sama sekali tidak merespon pada panggilan V.


"Dia sama sekali tidak akan merespon kamu. Aku berharap 0 paruh baya itu mengusap lembut rambut V.


Mi mi S1 Ext 3s 3s l 3DS


"Apa benar dia putra dari Jacob dan Renata?"


"Kenapa kamu tidak percaya? Dia ada di makam Renata, dan kamu ingat saat Renata datang ke rumah dan mengatakan jika dia memiliki putra dengan Jacob, tapi kita mengusirnya karena dari awal kita tidak menyukai Renata."


"Iya, dan sekarang kita mencarinya karena harapanku sudah sirna saat melihat keadaan Jacob. Siapa yang akan meneruskan garis keturunan Thomson jika bukan putranya Jacob walaupun kita tidak menyukai ibunya. Dia di keluarganya saja sudah tidak dipedulikan karena tidak mau menikah dengan teman ayahnya."


"Kita bisa mengetahui dia cucu kita atau bukan dengan tes DNA."


"Bagaimana caranya? Dia bisa marah karena kita meragukan dirinya."


"Dengan ini." Wanita cantik itu menunjukkan apa yang ada di tangannya."


"Kamu mengambil rambut Vero? Kamu memang pintar, Sayang."


"Tentu saja karena aku tidak mau mengakui cucu yang salah. Sayang, kalau dilihat dari wajah anak itu, dia mirip sekali dengan Jacob. Apa kamu tidak melihatnya?"


"Iya, aku melihatnya. Kita sebaiknya sekarang ke rumah sakit dan membawa rambut anak itu."


Sebelumnya di rumah Denna. Gadis itu berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Nenek menyusul Denna dengan membawa kotak makanan.

__ADS_1


"Denna, kamu tidak membawa bekal kamu? Kamu belum sarapan pagi."


"Tidak perlu, Nek. Aku sudah terlambat."


Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela napas pelan. Cicitnya tadi sudah berpamitan tanpa makan pagi katanya dia sudah terlambat ke rumah sakit.


"Nona, tidak membawa bekalnya?"


"Aku sudah terlambat, Dimas. Kita berangkat sekarang."


Denna masuk ke dalam mobil. Denna yang sedang di dalam mobil tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya melihat ke arah luar jendela mobilnya.


"Dimas, kenapa kita berhenti di sini?" Denna melihat sebuah rumah makan.


"Nona belum sarapan pagi, kita makan pagi dulu."


"Aku sudah terlambat, Dimas."


"Bukannya masih setengah jam lagi? Kita makan dulu, nanti Nona kalau sakit bagaimana?"


"Bukan urusan kamu kalau aku sakit. Kita berangkat sekarang karena aku mau bertemu dokter pembimbingku pagi sekali sebelum beliau visit ke ruang rawat anak."


Dimas agak kaget dengan jawaban ketus Denna. "Baiklah, kita berangkat saja."


Dalam perjalanan ponsel Dimas berbunyi dan Dimas tanpa melihat siapa yang menghubunginya menjawab dengan menyalakan earphone bluetoothnya.


"Halo."


"Dimas, kamu di mana?"


"Mitha, ada apa kamu menghubungiku sepagi ini?"


"Maaf, apa aku mengganggu kamu? Aku sengaja menghubungi kamu sepagi ini karena aku ingin mengajak kamu makan pagi sebelum kamu bekerja."


"Maaf, tapi aku sedang ada pekerjaan jadi aku tidak bisa menerima ajakan makan pagi kamu."


Dimas melihat pada Denna yang masih duduk dengan melihat ke arah jendela.


Di dalam hati Denna merasa sakit mendengar pembicaraan Dimas dengan Mitha, walaupun tidak seharusnya Denna merasa sakit hati.


"Kalau begitu besok saja. Besok, kan, hari Sabtu dan kamu pasti libur bekerja. Kamu mau tidak kalau kita bertemu? Aku butuh seorang teman untuk berbagi."

__ADS_1


__ADS_2