
Renata ternyata mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi Nara di rumahnya. Dia sudah merencanakan akan membuat seolah-olah Nara di rampok rumahnya dan karena ketahuan akhirnya Nara di bunuh.
"Ke mana wanita itu?"
"Aku akan mencarinya sampai ketemu dan setelah aku menemukannya, akan aku pastikan wanita itu aku habisi."
"Cepat lakukan! Tapi jangan seolah-olah dia dibunuh oleh seseorang, buat rencana yang tidak membuat Jaden curiga."
"Baik, Bos."
Nara terbangun tengah malam dan dia melihat jika dirinya sedang memeluk suaminya yang wajahnya tampak menggemaskan saat tidur.
Nara memandangi wajah suaminya itu beberapa detik sampai akhirnya dia mengecup lembut bibir Jaden.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, aku minta maaf karena terlalu ceroboh mengambil keputusan sendiri."
Jaden seketika membuka kedua matanya. Nara yang melihat mata Jaden terbuka malah tersenyum kecil. "Kamu tidak tidur dari tadi?"
"Aku baru saja bermimpi dan mimpi itu sangat buruk sampai aku takut memejamkan kedua mataku."
Nara agak terkejut. "Mimpi apa?"
"Kamu tidak perlu tau. Jangan dipikirkan. Sekarang kamu tidur lagi dan aku akan menjaga kamu di sini."
"Tidak mau. Ceritakan apa mimpi kamu?"
Jaden melihat datar pada Nara. "Kenapa kamu memaksa sekali. Kamu tidur lagi dan jangan banyak tanya!"
Nara melepaskan pelukan Jaden dan dia malah membelakangi Jaden. Nara marah.
Jaden yang melihat hal itu malah membuka selimutnya dan beranjak dari sana.
"Kamu mau ke mana?" Nara yang merasa orang di sampingnya ini beranjak dari tempat tidur langsung terbangun.
"Mau ke rumah istri nomor 1, siapa tau dia mau tidur dalam pelukanku," ucapnya enteng.
Nara langsung berlari kecil memeluk Jaden dari belakang. "Kenapa kamu menyebalkan sekali?" Nara mengerucutkan bibirnya.
"Kamu juga, kenapa keras kepala sekali?" Jaden membalikkan badannya dan Nara masih memeluk dengan mendongak melihat Jaden. "Jangan berlarian. Kamu lupa kalau sedang hamil?" Jaden menggendong Nara dan membawanya kembali ke tempat tidur.
"Kamu jangan pergi."
"Aku hanya bercanda. Lagi pula aku bukan pria yang suka bermain dengan banyak wanita."
"Aku tau itu." Nara kembali tidur dengan memeluk Jaden.
__ADS_1
Keesokan harinya, Nara terbangun dan dia tidak mendapati Jaden ada di rumah itu. Nara tampak bingung karena tiba-tiba Jaden pergi tidak memberitahunya.
"Dia ke mana? Kenapa meninggalkan aku sendirian tanpa kabar?"
Nara akhirnya memilih membuat sarapan saja dan menunggu Jaden sampai datang.
Tidak lama kepala pengawal Jaden datang menghampiri Nara yang sedang duduk melihat televisi.
"Nara, ada pesan dari Tuan Jaden Luther."
"Iya, Pak, Jaden ke mana?"
"Tuan Jaden harus segera pergi ke rumah sakit karena nenek tuan Jaden harus di larikan ke rumah sakit pagi tadi."
"Apa? Nenek Miranti sakit? Dia kenapa?"
"Maaf, Nara, bapak tidak tau kenapa dengan nenek Miranti. Tuan Jaden hanya berpesan kamu jangan ke mana-mana sampai Tuan Jaden datang."
"Pak apa aku bisa bicara dengan suamiku? Aku mau pinjam ponsel Bapak."
"Coba aku hubungkan dengan Tuan Jaden."
Pria paruh baya itu mencoba menghubungi nomor telepon Jaden dan akhirnya tersambung.
"Tuan Jaden, istri Tuan mau bicara dengan Tuan Jaden." Jaden yang sedang ada di dalam ruangan nenek melihat ada Renata yang sedang berdiri di samping ranjang nenek yang sedang diperiksa oleh dokter.
"Nanti aku yang akan menghubungi kamu. Aku sedang menunggu nenekku di periksa oleh dokter."
"Baik Tuan."
"Kenapa di matikan? Apa suamiku tidak mau bicara denganku?"
"Nanti Tuan Jaden yang akan menghubungi kamu, Nara. Tuan Jaden sedang menunggu dokter memeriksa nenek."
Nara tampak sedih karena dia seolah susah sekali hanya ingin bicara sebentar dengan suaminya sendiri.
"Ya sudah kalau begitu. Biar nanti suamiku yang menghubungi aku."
Di rumah sakit, nenek masih tampak memejamkan kedua matanya. Renata yang ada di samping nenek tampak menangis.
"Dok, bagaimana keadaan nenekku?"
"Untuk saat ini keadaanya sudah stabil. Jaden, kamu harus lebih perhatian dan menjaga nenek kamu. Serangan jantung yang memang saat ini tidak terlalu berat, tapi juga tidak boleh kita anggap enteng. Jangan biarkan nenek kamu memikirkan hal yang begitu berat."
"Selama ini aku sudah menjaga nenek mulai dari makanannya dan semuanya. Bahkan aku sudah sangat berusaha membuat nenek tidak memikirkan sesuatu."
__ADS_1
Renata dari tempatnya menarik senyum miring yang tidak baik mendengar pembicaraan dokter dan Jaden.
Dia beranjak dari tempatnya dan mendekat pada dua orang yang sedang bicara.
"Maaf, sebenarnya sebelum nenek sakit seperti ini dia selalu memikirkan kamu, muka dingin." Renata melihat pada Jaden.
"Memikirkan aku? Memangnya aku kenapa?"
"Dia kasihan sama kamu yang sepertinya selalu mencari tau tentang istri kamu yang pergi dengan pria lain itu. Nenek ingin kamu bahagia dengan tidak menunggu Nara terus."
"Aku sudah mengatakan pada nenek jika aku baik-baik saja dan tidak pernah memikirkan soal Nara."
Tidak lama Nenek Miranti terbangun dan memanggil nama Jaden.
"Jaden, temui nenek kamu dan ingat, jangan membebani dia dengan masalah apapun." Tangan Areta mengusap lengan Jaden dan berlalu dari sana.
Jaden mendekat pada neneknya. "Nek, bagaimana keadaan Nenek saat ini?"
"Nenek sudah merasa lebih baik. Kamu semalam ke mana? Kenapa tidak pulang?"
"Aku tidur di apartemenku karena besok aku mau ke luar negeri untuk urusan bisnis."
"Kenapa kamu sekarang sering meninggalkan Nenek seperti dulu?"
"Nek, aku tidak meninggalkan play l PLNenek. Aku tidak bisa jika meninggalkan urusan bisnisku ini."
"Nek, di sini ada aku yang akan menemani nenek." Renata mulai memainkan permainannya dengan mencoba mengambil terus hati nenek.
"Terima kasih, Renata. Kamu sudah sangat baik selama ini pada nenek dan Jaden."
"Aku tulus kok, Nek, melakukan ini semua. Nenek tidak perlu khawati padaku."
Tangan Nenek mengusap lembut kepala Renata. "Andai dulu perjodohan itu terjadi. Pasti sekarang kamu bisa menjadi cucu menantu dan aku akan sangat senang sekali tidak kesepian di rumah."
Renata melihat pada Jaden, sedangkan Jaden tidak membalas tatapannya sama sekali.
"Nek, aku tidak bisa menikah dengan Renata karena bagaimanapun aku dan Nara masih suami istri."
"Nara sudah pergi dan mengkhianati kamu, apa kamu akan terus menganggapnya istri? Nenek dulu sangat percaya dan menyayangi Nara, tapi Nara sudah menghancurkan kepercayaan nenek dan nenek tidak bisa memaafkan hal itu."
Jaden tidak dapat berkata dulu saat ini jika dia dan Nara telah kembali bersama.
"Nek, walaupun aku nantinya berpisah dengan Nara, bukan berarti aku akan bersama wanita lain karena orang menikah tidak hanya melihat seberapa baiknya dia terhadap keluargaku, tapi tetap saja memakai hati. Apa mau Renata aku nikahi, tapi tidak akan pernah aku sentuh atau anggap sebagai istri kalau Nenek hanya ingin aku membalas kebaikan Renata?"
Mereka berdua terdiam di tempatnya.
__ADS_1