
Jaden tidak menjawab pertanyaan Nara. Dia malah melihat Nara terus.
"Tuan JL, mana obatnya?" Nara sampai mengulang pertanyaannya.
"Aku sudah membuangnya ke tempat sampah," jawab Jaden santai.
"Apa?" Kedua mata Nara mendelik dan dia melihat pada keranjang sampah yang ada di dekat laci Jaden.
"Aku sudah bilang aku tidak mau minum obat, nanti aku akan bilang pada Will."
"Dasar! Kenapa kamu seperti anak kecil saja? Lisa saudara sepupuku yang masih kecil saja berani minum obat, apalagi dia seorang gadis kecil. Masak kamu kalah?"
"Aku bukannya takut, Nara. Aku tidak suka dengan rasa pahitnya."
Nara tidak bicara lagi, dia mengambilkan obat Jaden lagi dan menyuruh Jaden meminumnya.
"Aku tidak mau, apa kamu tuli?" seru Jaden kesal.
"Makan pisang ini dan jangan di telan, kemudian masukkan obatnya bersama pisang, aku jamin kamu tidak akan merasakan pahit.
Salah satu alis Jaden naik ke atas. " Aneh-aneh saja kamu."
"Coba dulu. Kalau tidak mau menurut, aku tidak mau merawat kamu, aku kabur saja dari rumah ini."
Jaden malah tersenyum miring. "Memangnya kamu bisa kabur dari rumahku?"
"Tentu saja bisa, apalagi kamu sedang sakit seperti ini. Mas Leo sedang di kantor, dan para penjaga bisa aku berikan obat tidur biar aku bisa bebas kabur."
"Sini aku minum." Jaden dengan cepat menyahut pisang dan obat yang dipegang oleh Nara. Jaden dengan kesal malah menggigit obat dan tentu saja wajahnya langsung meringis kepahitan. "Tidak enak!"
Nara yang melihat tampak membulatkan kedua matanya. Dia cepat-cepat membuka pisangnya dan memasukkan ke mulut Jaden agar tidak memuntahkan obatnya.
"Makan cepat, tidak akan terasa pahit." Nara sampai kebingungan. Setelah itu Jaden diberikan segelas air dan obat pun berhasil masuk ke dalam perut Jaden.
"****! Kenapa kamu membohongiku?"
"Aku tidak membohongi kamu, kamu sendiri kenapa malah memakan obatnya dulu? Harusnya pisang dulu kamu kunyah lalu obat, tapi akhirnya kamu berhasil minum obatnya." Nara terkekeh pelan.
__ADS_1
"Kamu berani menertawai aku, Gadis Bodoh?" Jaden menarik tangan Nara yang duduk di depannya dan kembali lagi kedua bibir itu bertaut dengan cepat. Pupil mata Nara membesar melihat wajah pria yang sedang mencium bibirnya. Tubuh Nara seketika membeku.Ciuman mereka terjadi beberapa menit.
"Tuan Jaden, maaf."
Seketika terdengar suara panggilan yang membuat Nara menarik bibirnya dari bibir Jaden.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu?" Jaden tampak marah.
"Maaf, Tuan, tapi pintunya tidak ditutup pintunya.
"Jangan mencari alasan!" bentak Jaden marah.
Nara berdiri dari tempatnya dan mendekat pada Jaden, Nara menarik perlahan lengan tangan Jaden.
"Kenapa kamu kasar begitu?" bisik Nara.
"Ada apa kamu ke sini? Cepat katakan?"
"Maaf, Tuan. Ada dokter Will di luar sedang menunggu."
"Kalau begitu suruh langsung masuk? Kenapa begitu saja kamu tidak becus?" Jaden masih terbawa emosi.
"Kamu kenapa kasar sekali? Kasihan pak pengawal tadi sampai ketakutan, dia itu tidak bersalah."
"Kenapa kamu malah membelanya? Dia tidak sopan karena main selong saja."
"Makannya, jangan mencium orang seenaknya. Lagian Tuan kenapa sekarang sering menciumku tiba-tiba?"
"Kenapa? Apa kamu tidak suka?"
"Tentu saja aku tidak suka, kita ini bukan sepasang kekasih, jadi jangan mencium orang seenaknya."
"Walaupun kamu itu bukan kekasihku, tapi kamu sudah menjadi milikku, dan aku tidak perlu mengingatkan kenapa kamu bisa menjadi milikku."
Nara tidak lagi mau menjawab ucapan Jaden sampai dokter Will akhirnya masuk ke dalam kamar Jaden bersama dengan seorang wanita cantik dengan tinggi semampai dan memakai pakaina berwarna biru dipadu putih.
Mata wanita itu seketika melihat dengan pandangan terpesona pada sosok Jaden yang duduk di atas tempat tidurnya. Sedangkan Jaden hanya melihatnya biasa.
__ADS_1
"Selamat pagi Jaden, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa obatnya kamu minum dengan teratur?"
"Kamu sepertinya sengaja memberiku obat yang rasanya pahit dan sangat besar, Will."
Dokter Will yang tak lain adalah teman baik Jadena malah tersenyum kecil. "Enak saja, siapa yang sengaja. Itu memang obat untuk penghilang rasa sakit di punggung kamu. Kamu mau tetap merasakan rasa sakit yang teramat sakit jika kamu tidak minum obat itu."
"Beri saja aku suntikan untuk penghilang rasa sakit. Pasti ada obat yang lewat infus buat meredahkan rasa sakit."
"Jaden, aku itu tau apa yang terbaik untuk pasienku. So, kamu menurut saja."
"Tuan JL sudah minum obatnya secara teratur Pak Dokter. Pak Dokter tenang saja, aku selalu mengingatkan untuk minum obat walaupun sulit untuk membujuknya."
Will melihat ke arah Nara lalu melihat ke arah Jaden. "Kamu lihat apa, Will? Sekarang apa yang akan kamu lakukan agar aku bisa secepatnya sembuh. Aku muak berada di dalam kamar terus." Jaden mendengus kesal.
"Justru aku datang ke sini untuk membuat agar kamu cepat sembuh dari cedera yang kamu alami. Kenalkan, ini Sandra, dia adalah seorang terapis yang akan membantu kesembuhan kamu. Dia setiap hari akan datang ke rumahmu untuk melakukan terapi karena kamu tidak mau dibawa ke rumah sakit."
"Perkenalkan nama saya Sandra Tuan Jaden?" Sandra mengulurkan tangannya mengajak Jaden berkenalan.
"Aku Jaden. Apa kita bisa mulai sekarang?"
"Tentu saja bisa, saya akan sangat senang sekali bisa langsung melakukan pekerjaan saya. Oh ya, Tuan Jaden. Rumah Anda sangat bagus, apalagi pemandangan di luar juga sangat indah. Cuma saya agak bingung, kenapa Anda memilih tempat tinggal yang sangat terpencil seperti ini?"
Jaden langsung melihat pada Will karena Will ini tau siapa Jaden sebenarnya. "Jaden sahabatku ini sangat menyukai ketenangan, dia bosan dengan suasana keramaian kota. Rumahnya di Kanada saja juga sangat jauh dari hiruk pikuk kebisingan," terang Will.
"Will, aku mau langsung diterapi, aku mau segera sembuh."
"Kamu tenang saja, Jaden. Sandra ini terapis yang sangat profesional dan sudah sangat berpengalaman, dia terapis terbaik yang pernah aku kenal, jadi kamu jangan khawatir. Namun, aku tetap mengingatkan agar kamu harus juga bersabar menjalani pengobatan ini."
"Baiklah."
"Kalau begitu aku mau ke dapur dulu untuk bersih-bersih. Pak Dokter dan Mba Sandra apa mau makan pagi dulu. Aku akan menyiapkannya."
"Maaf, dia siapa Tuan Jaden?" Sandra melihat pada Nara.
"Dia Nara, pelayan di sini," ucap Jaden
Nara tersenyum kecil pada Sandra. Sebenarnya dalam hati Nara ada seperti rasa sakit saat dirinya disebut sebagai pelayan oleh Jaden, tapi dia memang hanya pelayan bagi Jaden.
__ADS_1
"Maaf, Nara, tapi saya sudah makan tadi. Saya mau langsung melakukan terapi pada Tuan Jaden.
"Kalau begitu aku saja yang makan, kebetulan aku belum sarapan tadi dari rumah. Aku juga ingin mencoba masakan pelayan baru di sini."