Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Menjadi Hal Istimewa


__ADS_3

Nara melihat pria itu duduk di atas tempat tidur. Nara berjalan perlahan untuk mengambil satu bantal milik Jaden.


"Kamu mau ke mana?"


"Tidur di sofa, biar Tuan JL bisa tidur nyenyak di ranjang."


"Kemarilah."


Jaden mengulurkan tangannya, dan Nara perlahan menerima uluran tangan Jaden. Pria itu menarik Nara perlahan dan menyuruhnya duduk di depan Jaden.


Jaden membuka kakinya dan punggung Nara bersandar pada dada Jaden. Jaden memeluk Nara dari belakang. Nara yang diperlakukan seperti itu jantungnya ingin loncat saja dari tempatnya.


"Buat nyaman dirimu, Nara." Jaden menata posisi duduk Nara.


"Tuan tidak sakit aku bersandar begini?" Nara menoleh ke belakang dan mengangkat kepalanya melihat pada pria yang ada di belakangnya.


"Tidak sama sekali. Apa kamu sudah merasa nyaman?" Nara mengangguk. Jaden semakin mengeratkan pelukannya, seolah-olah dia takut gadis di depannya ini pergi.


"Tuan, aku minta maaf sudah membuat kamu khawatir."


"Semua bukan salah kamu. Aku berjanji akan memberi para berandalan kecil itu hukuman yang akan membuat mereka menyesal berurusan denganku."


Nara tidak tau apa yang ingin dia katakan pada Jaden. Sebenarnya dia tidak tega jika Jaden akan memberi hukuman pada penculik yang usianya masih sangat muda itu. Nara tau siapa Jaden. Dia tidak akan memberi ampun pada mereka, tapi Nara berharap mereka juga mendapat hukuman mengingat cerita tentang kakaknya Dimas. Mereka sudah sangat keterlaluan.


"Nara, kamu sedang memikirkan apa?" Jaden menunduk mendusel pada leher Nara.


"Tidak memikirkan apa-apa."


"Auw ...! Sakit." Jaden mengerang kesakitan.


"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" Nara menarik tubuhnya dan melihat ke belakang. "Apa Tuan JL sudah minum obat, Tuan?"


Jaden mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. "Aku menunggu kamu yang meminumkannya" Telapak tangan Jaden ada obat yang biasa Jaden minum.

__ADS_1


"Kenapa harus menunggu aku? Oh iya aku lupa! Gara-gara diculik oleh mereka semua belanjaan aku tertinggal di pasar itu. Aku menitipkan pada salah satu penjual di sana dan aku pergi mencari Mba Sandra."


"Biar besok kamu catat saja apa yang ingin kamu beli, dan biar salah satu pengawalku yang membelanjakannya." Nara mengangguk. "Sekarang minumkan obatku dengan caramu karena tidak ada buah pisang."


Wajah Nara seketika merona merah mendengar apa yang Jaden perintahkan barusan.


"Tuan JL berusaha minum sendiri saja. Mau sampai kapan minum obat menunggu aku? Masak seorang mafia dingin dan kejam takut sama obat sekecil itu." Hina Nara.


"Jangan menghinaku begitu, Nara. Aku tidak takut dengan obat ini, hanya saja aku tidak suka, dan kamu tau hal itu. Kenapa dibahas lagi?"


"Bukan dibahas hanya mengingatkan saja siapa Tuan dan obat itu." Nara terkekeh.


"Kamu berani menertawakan aku, Nara?" Wajah Jaden tampak kesal.


"Bayi besar."


"Apa kamu bilang? Sepertinya kamu merindukan hukuman dariku."


Jaden menindih Nara dengan cepat, dan gadis di bawah kungkungan Jaden itu berteriak kegelian karena dihadiahi ciuman oleh Tuan JLnya. Suara gelak tawa mereka terdengar tepat di telinga Sandra yang berada di depan pintu kamar Jaden.


"Lihat saja Nara, semua akan terbalik nantinya, dan jika hal itu terjadi aku akan membuat kamu menangis darah menjadi budakku." Sandra pergi dari sana dengan wajah marahnya.


Malam itu Nara tidur satu ranjang dengan Jaden. Jaden sengaja memeluk Nara dari belakang untuk memastikan jika gadis pelayan miliknya itu tidak akan pergi lagi darinya.


***


Pagi itu Nara yang baru terbangun tampak merabakan tangannya mencari sesuatu yang seharusnya ada di sampingnya.


Kedua matanya mengedar di setiap ruangan, tapi pria yang semalam tidur dengannya tidak ada. "Di mana Tuan JL? Tumben sekali dia bangun lebih dulu dariku dan tidak memberitahuku?" Nara beranjak dari tempat tidurnya. Nara membereskan tempat tidur Jaden dan merapikan semua yang ada di sana.


Tidak lama saat Nara membawa baju-baju kotor yang akan dia cuci, mendengar suara ponsel.


Nara melihat ada ponsel Jaden di atas nakas dekat ranjang Jaden. "Tuan JL meninggalkan ponselnya?" Nara melihat pada layar ponsel Jaden ada nomor tidak di kenali. "Aku angkat apa tidak ya?" Nara tampak bingung, tapi ponsel itu berdering terus seolah ada hal yang penting.

__ADS_1


"Halo, ini siapa?"


"Kamu sudah bangun, Nara? Ini aku Jaden."


"Tu-tuan JL? Tapi ini ponsel kamu di rumah, kenapa menghubungi ponsel sendiri?"


"Aku sengaja meninggalkannya agar aku bisa menghubungi kamu, Nara. Bagaimana keadaan kamu pagi ini? Apa sudah lebih baik?"


"Aku dari semalam sudah baik, Tuan. Tuan JL ada di mana? Kenapa tidak membangunkan aku untuk menyiapkan sarapan jika Tuan akan pergi pagi-pagi sekali."


"Aku mau menemui orang-orang yang sudah berani menyekapmu. Aku akan bermain-main sebentar dengan mereka," ucap Jaden santai.


"Maksud Tuan bermain bagaimana? Kenapa aku menangkap hal yang tidak enak dengan kata bermain-main dengan mereka?" Nara mengerutkan alisnya.


"Tidak perlu kamu pikirkan, kamu jangan ke mana-mana, dan aku sudah menyuruh pengawalku untuk menjaga dan mengawasi kamu terus."


"Tidak perlu seperti itu, Tuan. Lagi pula di rumah kamu aku pasti aman."


"Kamu tidak perlu membantah? Ya sudah kalau begitu kamu jangan membuat diri kamu lelah."


"Iya, Tuan." Nara mematikan panggilannya. "Lalu, aku di suruh apa di sini kalau aku tidak boleh lelah?" Nara duduk di atas tempat tidurnya.


Nara segera beranjak dari tempat tidurnya saat mendengar ada kegaduhan di luar pintu kamar Jaden.


Saat membuka pintu. Nara melihat Mba Sandra sedang ribut dengan salah satu penjaga yang ada di depan kamar Jaden.


"Nara, kamu katakan sama mereka jika aku tidak patut dilarang untuk masuk ke dalam kamar Tuan Jaden. Aku adalah terapis Jaden, tapi kenapa aku tidak boleh masuk ke dalam kamar menemui kamu?" ucap Sandra kesal.


"Ini ada apa sebenarnya?" Nara tampak bingung, kenapa sekarang ada dua penjaga di depan kamar Tuan JL?


"Maaf, Mba Nara, tapi ini semua kami lakukan atas perintah Tuan Jaden. Kami berdua di suruh menjaga di depan pintu ini dan memastikan tidak ada yang mendekati Mba Nara."


"Apa aku juga tidak boleh? Aku ke sini hanya untuk mengantarkan minuman untuk Tuan Jaden seperti yang biasa Nara lakukan."

__ADS_1


"Maaf, Mba Sandra, tapi Anda pun tidak diperbolehkan masuk dan mendekati Mba Nara."


"Apa? Keterlaluan, Jaden! Nara ini hanya seorang pelayan!" Sandra menatap Nara dari atas sampai bawah dengan mata marahnya. Sandra lebih kesal lagi saat memperhatikan penampilan Nara dengan kemeja milik Jaden.


__ADS_2