Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Renata Menginap


__ADS_3

Hari ini Renata meminta izin pada Nenek dan Jaden jika dia ingin menginap di sana karena lusa dia mau kembali ke Kanada untuk mengurus salah satu perusahaannya yang ada di sana, jadi dia ingin menghabiskan waktu bersama mereka.


"Tentu saja kamu bisa menghabiskan waktu di sini dengan kami. Kamu bisa tidur di kamar tamu yang ada di sebelah."


"Terima kasih, Nek. Leo, bagaimana jika kamu menginap juga di sini agar aku bisa lebih banyak waktu bicara sama kamu."


Leo langsung aneh wajahnya. Apa lagi melihat senyum manis milik Renata. "Em... Iya tidak masalah, aku malah senang sekali."


Malam itu mereka semua berkumpul di ruang tengah dan mereka menyalakan perapian. Jaden duduk dan Nara bersandar pada dada bidangnya. Sedangkan nenek masih berada di dapur membuatkan mereka minuman hangat.


"Kalian bisa tidak jangan menunjukkan kemesraan kalian di depanku. Bikin iri saja, apa lagi di sini hanya ada aku dan Leo. Apa aku harus bermesraan dengan Leo? Kan tidak mungkin."


Leo sekali lagi mukanya langsung aneh mendengar apa yang Renata katakan. Kenapa wanita ini kalau berkata tidak pakai di filter lebih dulu.


"Kalian jadian saja kalau begitu," celetuk Jaden.


Renata seketika tertawa dengan kerasnya mendengar apa yang Jaden katakan. "Jangan membuka rencanaku, Muka dingin." Renata melirik pada Leo.


Mereka semua tertawa. Nenek yang baru datang dengan membawa nampan berisi banyak cangkir minuman hangat tampak heran dengan apa yang mereka tertawakan.


"Apa nenek boleh tau, apa yang membuat kalian tertawa?"


"Jangan ada yang katakan, biar aku saja yang mengatakan," ucap Renata cepat.


"Renata secara tidak langsung menyatakan cinta pada Leo, Nek," celetuk Jaden cepat.


"Muka dingin! Kenapa kamu mengatakannya? Aku kan sudah bilang jia biar aku saja yang mengatakannya. Kenapa kamu malah bicara sama nenek." Renata tiba-tiba menyerang Jaden. Membuat Nara seketika beranjak pergi dari samping Jaden. Renata malah memukul-pukul Jaden mereka sekarang malah tampak terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah bercanda.


"Sudah. Kalian ini bukan anak kecil lagi yang harus bermain-main seperti itu." Nenek mencoba menghentikan mereka.


Nara yang melihat hal itu membiarkan saja. Dia tau jika mereka berdua hanya teman baik, jadi Nara tidak mau membatasi Jaden. Mereka bicara sampai larut malam. Hingga Renata tertidur di sana.


"Dia yang mengajak kita untuk berbicara sampai pagi. Kenapa malah dia yang tertidur duluan?" gerutu Jaden.

__ADS_1


"Mungkin dia kecapekan terlalu banyak tingkah tadi. Renata aktif sekali orangnya, dia tidak berubah dari dulu. Leo kalau kamu serius sama dia, kamu harus siap untuk menghadapi segala tingkah lakunya yang pastinya akan membuat kamu tersenyum."


"Nenek ini, aku dan Renata tidak ada apa-apa. Renata itu hanya suka bercanda, tidak perlu ditanggapi serius."


"Serius atau tidak, kita lihat saja kelanjutannya. Sekarang kamu bawa dia ke Kamarnya. Kasihan kalau dia tidur di sini," titah Jaden.


"Saya yang menggendong Renata?" Leo tampak terkejut.


"Iya, apa aku yang menggendongnya? Atau Nenek? Kan tidak mungkin, Leo!"


"Tidak apa-apa kalau kamu mau menggendongnya. Aku akan menunggu kamu di kamar saja." Nara memeluk nenek dan mengucapkan selamat malam lalu dia berjalan santai ke dalam kamarnya.


"Nara," panggil Jaden. Namun Nara tidak memperdulikannya. "Dia marah, dan ini semua salah kamu, Leo." Jaden menunjuk pada Leo.


"Saya tidak berbuat apa-apa, Tuan." Muka Leo tampak panik.


"Sudah! Bawa sana. Aku mau menyusul Nara di kamar dan semoga saja dia tidak mengunci kamarnya." Jaden mengecup cepat pipi neneknya dan dia langsung pergi ke kamarnya.


"Untuk apa? Untuk melihat kamu menggendong Renata?" tanya Nara malas.


"Kamu cemburu pada Renata?" Tangan Jaden menahan tangan Nara yang sedang mengancingkan piyamanya.


"Aku tidak cemburu karena aku tau siapa yang ada di hati kamu." Nara melepaskan tangan Jaden kemudian dia melanjutkan mengancingkan piyama tidurnya.


Jaden tidak menjawab, dia mengangkat tubuh Nara ala bridal style dan membawanya ke atas tempat tidur. "Tentu saja, hanya ada Nara di hati Jaden Luther." Jaden menyematkan kecupannya.


"Aku mau tidur, Sayang. Hari ini benar-benar melelahkan." Nara memejamkan kedua matanya dan dia akhirnya terlelap. Jaden yang melihat Istrinya tertidur dia ikut memejamkan kedua matanya dan memeluk Nara dari belakang.


***


Keesokan harinya. Semua orang sudah terbangun, terutama nenek yang sudah berada di dapur.


"Renata? Kamu kenapa sudah ada di dapur?" Nenek Miranti kaget melihat ada Renata di sana dengan alat masak di tangannya.

__ADS_1


"Pagi Nenek cantik, aku sengaja mau membuat masakan untuk kalian di rumah ini. Inikan hari terakhir aku berada di sini, jadi aku mau melakukan sesuatu untuk kalian. Salah satunya dengan membuat masakan untuk kalian."


"Memangnya kamu mau membuat masakan apa?"


"Pokoknya Nenek duduk saja, dan lihat apa yang akan aku lakukan."


"Nek, aku minta maaf!" Nara yang datang tergesa-gesa kaget melihat ada Renata di sana. "Renata? Kamu sudah ada di dapur? Aku tadi berniat membuat masakan untuk kalian semua, tapi saat bangun aku melihat sudah telat jamnya, maka dari itu aku sampai berlarian takut Nenek yang menyiapkan lebih dulu."


"Kamu jangan khawatir, hari ini kamu boleh bangun terlambat karena aku yang akan membuat makanan untuk kalian semua."


"Tapi, tidak bisa begitu, Renata. Kamu di sini adalah tamu kita. Kita tidak boleh merepotkan kamu."


Wanita yang ternyata memiliki lesung pipi itu tersenyum pada Nara. "Kalau begitu anggap saja aku sebagai keluarga Kalian karena sebentar lagi aku juga pasti akan menjadi bagian di sini." Renata melihat pada Leo. Leo yang baru saja tiba di sana tampak bingung. Apa lagi mereka melihat pada Leo.


"Baunya harum sekali. Siapa yang memasaknya?" Jaden tiba-tiba di sana dengan tampilan hanya menggunakan celana pendek bahan babyterrynya dan tanpa atasan.


"Ini masakan aku, muka dingin. Apa kamu mau mencobanya?" Renata mengambil sedikit masakan buatannya dan menghampiri Jaden. Dia memaksa Jaden membuka mulutnya untuk mencoba masakan buatannya.


Jaden yang kaget dengan sikap tiba-tiba Renata memakan saja apa yang Renata berikan pada mulutnya.


"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Renata.


"Biasa saja," jawab Jaden singkat.


"Biasa dari mana? Ini enak."


"Masih enak sup buatan istriku. Sudah! Aku mau berolah raga dulu. Leo, ikiyt aku di tempat gym."


"Baik, Tuan."


Jaden berjalan pergi dari sana dengan diikuti Leo di belakangnya. Mereka akan berolahraga di ruangan gym yang ada di sana.


"Dia sangat mencintai kamu, Nara. Masakan aku yang enak begini katanya biasa saja." Renata cemberut.

__ADS_1


__ADS_2