Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Rencana Sandra


__ADS_3

Jaden yang tidak mau dianggap memiliki hubungan dengan Nara akhirnya mau makan masakan Sandra. Jaden merasa jika Sandra seolah mencurigai kalau dirinya dan Nara tengah memiliki perasaan khusus.


"Ehem ...," suara deheman Sandra berhasil membuat dua orang yang saling bertatapan itu kaget dan melihat bersamaan ke arah Sandra.


"Mba Sandra, ada apa?"


"Kalian sedang apa berdua di sini?" Godanya.


"Kami hanya saling bercerita, dan tadi Mas Leo memijat kepalaku karena tadi aku agak sedikit pusing."


"So sweet sekali kalian ini. Namun, aku minta maaf karena harus mengganggu kebersamaan kalian karena Tuan Jaden memanggil Leo, dan Nara disuruh menyiapkan kamar untukku karena aku akan menginap di sini sampai Jaden sembuh." Wajah Sandra tampak seolah bukan memberitahu, tapi terlihat seperti memamerkan pada Nara.


"Apa? Tuan Jaden menyuruh Mba Sandra tinggal di sini? Apa itu benar?" tanya Leo tidak percaya.


"Tentu saja, Leo, kenapa kamu sangat terkejut begitu? Apa ada yang salah?"

__ADS_1


"Tuan Jaden orang yang tidak akan bisa menerima orang begitu saja masuk apalagi tinggal di rumahnya, tapi kenapa Mba Sandra--?"


"Mungkin agar Mba Sandra tidak harus bolak-balik melakukan perjalanan yang jauh, dan lagi kalau Mba Sandra di sini jadi bisa lebih dekat dengan Tuan Jaden. Benarkan apa yang aku katakan?"


"Kamu cerdas sekali Nara. Aku senang bisa berkenalan dengan kamu, apalagi kamu mau membantuku agar bisa dekat dengan Tuan kamu yang tampan itu." Sandra memeluk Nara. Nara malah sekarang berubah aneh. Dia malah seperti orang yang sudah melakukan kesalahan.


"Kalau begitu aku akan menemui Tuan Jaden. Nara, kamu siapkan saja apa yang diperintahkan oleh Tuan. Daripada kamu nanti kena marah."


"Iya, Mas Leo."


Dua wanita itu berjalan menuju kamar agak belakang dari kamar Jaden. "Nara itu akan menjadi kamar aku?"


"Iya, Mba karena tersisa dua kamar itu yang masih belum ada yang menempati. Sebenarnya waktu itu ada Bi Ima yang menempati kamar satunya dan beliau izin dalam beberapa hari ini ada urusan keluarga, jadi sekarang aku yang mengurus semuanya."


"Nara, apa boleh aku pindah saja ke kamar kamu? Jujur aku melihat rumah ini saja sebenarnya agak takut, apalagi harus tidur agak jauh begitu. Bolehkan, untuk sementara aku tinggal di kamar kamu?" ucapnya dengan nada memelas

__ADS_1


Nara terdiam sejenak mendengar apa yang diinginkan oleh mba Sandra. Nara yang memang tidak penakut dalam hal seperti itu kecuali suara petir yang keras, dia akhirnya mengalah dan memberikan kamarnya pada Mba Sandra.


"Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu aku akan mengemasi barang-barangku di sana dan Mba Sandra boleh memakainya."


"Terima kasih Nara. Kamu baik sekali " Sekali lagi Nara mendapat pelukan hangat dari Sandra.


Sebelumnya di dalam kamar Jaden. Dua orang pria itu saling berhadapan. Jaden duduk di atas ranjangnya dan Leo berdiri tepat di depan Jaden yang sibuk dengan laptopnya.


"Leo, apa kamu sudah mengurus apa yang aku kerjakan?"


"Tentu saja, Tuan. Sebentar lagi akan ada pengiriman barang yang Tuan minta."


"Bagus kalau begitu. Berarti lusa kamu bisa berangkat ke tempat yang sudah kamu dan Tuan Black setujui?"


Leo mengangguk. "Tuan, saya minta maaf sebelumnya, bukannya saya tidak percaya, tapi ada yang ingin saya tanyakan langsung pada Tuan."

__ADS_1


__ADS_2