Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Dimas Vs Evans


__ADS_3

Denna menghampiri Dimas yang dari tadi berdiri menatapnya. "Dimas, kamu bisa berdansa tidak?" tanya Denna ragu-ragu.


"Dansa? Untuk apa Nona menanyakan hal itu?"


"Nanti di sini ada acara berdansa dengan saling tukar pasangan, dan akan dinilai nanti siapa dengan pasangan siapa yang dansanya sangat baik."


"Maaf, saya tidak mau ikut dengan permainan seperti itu."


"Aku sebenarnya juga tidak mau ikut karena aku tidak bisa berdansa, tapi semua murid di sini harus mengikutinya." Denna mengerucutkan bibirnya.


"Nona--. Em Maksud saya, kamu ikut saja dan aku akan menjadi pasangan Nona, tapi aku tidak berjanji dapat berdansa dengan sangat baik."


"Tidak perlu berdansa dengan baik. Cukup kita ikuti saja dan menang atau kalah aku tidak peduli." Dimas mengangguk.


Acara dansa pun akhirnya di mulai. MC acara menjelaskan jika nanti mereka akan berdansa dengan pasangan masing-masing sampai ada aba-aba untuk ganti pasangan dansa, dan akan ada empat kali berganti pasangan dansa sampai akhirnya kembali berdansa dengan pasangan sebenarnya.


Acara pun di mulai. Semua murid sudah bersiap berdiri di bawah panggung dengan di hadapannya pasangan masing-masing.


Denna menatap pria yang tampak datar dan santai berdiri di depannya. Beda dengan Denna yang hatinya mulai kebat kebit dibuat tidak karuan.


Tangan Dimas meminta tangan Denna untuk menyambutnya dan dengan gerakan cepat. Dimas menarik pinggang Denna mendekat ke arahnya.


Gadis itu tampak mencoba menenangkan dirinya saat tubuh Dimas sangat dekat dengannya.


"Kita melangkah perlahan ke kanan dan ke kirim seperti yang pernah aku lihat."


"Iya." Denna perlahan-lahan mengikuti langkah Dimas.


"Ternyata berdansa lebih sulit daripada berkelahi dengan orang."


"Kamu sebelum menjadi bodyguard ikut ayahku, kamu pernah bekerja dengan siapa?"


"Tidak pernah bekerja dengan siapapun."


"Jadi baru pertama kali ini?" Dimas mengangguk.


"Denna saatnya berganti pasangan," ucap Dimas.


Denna berjalan dan ternyata dia berpasangan dengan Mas Rio. Sedangkan Diaz dengan teman satu kelasnya.


"Denna, senang bisa menjadi pasangan dansa kamu karena aku mau tanya soal Diaz sama kamu."


"Tanya apa? Mau tau sifat buruknya Diaz yang suka kentut sembarangan?"


Rio langsung terkekeh dengan kerasnya. "Kalau itu aku sudah paham dari hari kedua kita jalan bersama dan dia tanpa sungkan mengeluarkan gas beracun seenaknya. Katanya dia pernah jaga image di depan pria yang dia taksir. Alhasil dia malah sakit perut sampai masuk rumah sakit."


"Iya, itu benar. Diaz memang punya kebiasaan aneh seperti itu, dan aku sudah kebal akan kebiasaannya itu."

__ADS_1


"Aku juga tidak masalah karena aku mencintai Diaz dengan segala kekurangan dan kelebihannya."


Denna salut dengan kebaikan hati Mas Rio yang mau menerima Diaz apa adanya. "Aku awalnya tidak percaya saat Diaz mengatakan jika Mas Rio ingin menikahinya. Mas Rio pasti tau bagaimana kisah cinta Diaz selama ini, apa lagi kisah hidup Diaz dan keluarganya."


"Aku sudah mengetahui semuanya, dan aku bisa menerimanya karena aku tau Diaz adalah gadis yang baik dan pantas mendapat kebahagiaan."


"Eh sudah waktunya berganti pasangan."


Denna melepaskan tangan Mas Rio dan dia terdiam di tempatnya saat melihat siapa orang yang menjadi pasangannya.


"Hai, Cantik. Kamu malam ini cantik sekali. Apa lagi jika hanya memakai satu set dalaman berwarna hitam."


"Jaga bicara kamu."


"Kamu mau ke mana? Kita belum berdansa. Bukannya kamu sekarang adalah pasangan dansaku?"


"Lebih baik aku kalah dalam kompetisi dansa terbaik ini dari pada aku harus berdansa sama kamu."


"Denna, Tunggu!" Tangan Evans memegang dengan cepat tangan Denna.


"Lepaskan!" Denna mencoba melepaskan pegangan tangan Evans.


Brak!


"Dimas!"


Evans yang tidak terima melayangkan tinjunya pada wajah Dimas, tapi Dimas dapat menangkisnya.


Tiba-tiba beberapa anak-anak teman Evans memegangi tangan Dimas dan Evans dengan cepat memukul perut dan wajah Dimas.


"Jangan sok kamu, Brengsek!"


"Evans, lepaskan Dimas!" Denna mencoba menarik beberapa teman Evans agar melepaskan Dimas.


"Aku akan membalas apa yang sudah kamu lakukan padaku." Evans memukuli Dimas yang kedua tangannya dipegangi oleh teman-teman Evans.


Mandy yang melihat hal itu hanya tersenyum miring dari tempatnya berdiri.


Keluar darah dari sudut bibir Dimas, tapi pria itu tidak terlihat menyerah.


"Apa hanya ini kemampuan kamu?" Terlukis senyum menghina dari bibir Dimas.


"Kamu."


Tangan Evans di tahan oleh Dimas saat akan memukulnya. Dimas berhasil melepaskan salah satu tangannya setelah dia berhasil menarik tubuh teman Evans


mendekat dan menyibakkan dengan kasar.

__ADS_1


"Dimas."


"Dasar pengecut! Beraninya main keroyok. Anak ingusan."


Dimas berhasil melayangkan tinjunya dengan keras tepat di wajah Evans yang masih ada perban kecil pada hidungnya.


Seketika terdengar suara jerit kesakitan dari Evans. "Berhenti semua! Kalian jangan seperti anak kecil!" teriak salah satu guru mereka.


Beberapa penjaga juga melerai perkelahian itu. "Bukan salah Dimas, Bu. Evans yang sudah memulai duluan."


"Ibu ingin kalian berdamai karena ini acara yang tidak seharusnya di warnai dengan keributan semacam ini."


"Bu, saya minta maaf sudah membuat keributan di sini. Saya permisi dulu." Dimas melangkah pergi dari sana.


"Dimas," panggil Denna lirih.


"Denna, sebaiknya kamu menyusul Dimas. Kasihan dia," kata Diaz dengan menepuk pundak Denna.


"Bu, saya minta maaf, dan saya mau permisi dulu." Denna berjalan pergi dari sana.


Denna mencari Dimas dan ternyata Dimas sedang duduk di dalam mobil sepertinya menunggu Denna.


"Dimas, kita pergi ke rumah sakit atau klinik untuk mengobati luka kamu."


"Saya tidak apa-apa, Nona. Kalau Nona Denna masih mau mengikuti acara itu sampai selesai, saya akan menunggu di sini."


"Aku mau pulang saja. Kita pergi sekarang kalau begitu."


Dimas menyalakan mesin mobilnya dan mereka pergi dari acara pesta perpisahan itu.


Di sepanjang perjalanan Dimas terlihat terus fokus mengemudi, sedangkan Denna gelisah dari tadi melihat wajah Dimas yang tampak memar.


"Dimas, kita berhenti di mini market itu sebentar karena aku mau membeli minuman dingin."


"Baik." Dimas memarkirkan tepat di depan mini market.


"Kamu tunggu di sini saja. Aku akan turun sendiri."


Dimas di dalam mobil terus memperhatikan gadis yang harus dia jaga.


Denna membeli minuman dingin dan dia keluar dari mini market berjalan sebentar ke apotek yang letaknya tepat di sebelah mini market yang didatangi Denna.


"Sudah selesai, Nona?"


"Kita berhenti dulu. Aku mau melihat wajah kamu." Denna membuka paper bag kecil dan mengeluarkan sebotol cairan untuk mengompres memar yang tadi Denna tanyakan pada petugas apotek.


"Nona, saya tidak apa-apa."

__ADS_1


"Jangan membantah." Denna melepas sepatunya dan duduk bertumpu pada kedua lututnya agar tingginya sejajar dengan Dimas yang memang tinggi.


__ADS_2