
Dimas mengejar Denna dan dengan cekatan menarik tangan Denna. Denna hanya diam menatap pria dia depannya.
"Maaf, apa saya sudah melakukan kesalahan?"
"Kamu tidak salah, kita berdua tidak ada yang salah. Lupakan saja kejadian barusan. Tidak pentingkan buat kamu." Denna melepaskan tangan Dimas dan masuk ke dalam kampus.
Dari kejauhan Evans dan Mandy yang baru saja tiba melihat pertengkaran Dimas dan Denna.
"Pria tidak tau diri itu sepertinya akan segera dicampakkan oleh Denna."
"Lihat aksiku." Mandy berjalan menuju tempat Dimas. Sebelumnya dia memanggil salah satu temannya di sana dan membisikkan sesuatu. Terlihat Mandy memberikan sejumlah uang pada temannya itu.
Bruk!
Dari belakang Dimas terdengar suara benda jatuh. Saat Dimas menoleh dia melihat Mandy dengan beberapa bukunya jatuh berserahkan di lantai, dan terlihat seseorang sedang berlari seolah tidak peduli dengan Mandy.
"Hati-hati kalau jalan! Kamu tidak bisa lihat!" Mandy mengusap sikutnya yang terluka. Bukan terluka sebenarnya, tapi sengaja dia buat luka.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dimas yang berdiri datar di depan Mandy.
"Tidak apa-apa bagaimana? Sikutku berdarah dan ini semua karena anak tadi yang berlari seenaknya!" seru Mandy kesal.
Dimas mengambilkan beberapa buku Mandy yang berserahkan. "Ini buku kamu."
Mandy mendongak melihat Dimas. "Kamu kekasihnya Denna, kan? Tidak perlu menolong. Nanti dikira Denna aku merayu kamu." Mandy mengambil bukunya dari tangan Dimas dengan kasar.
"Aku tidak bermaksud menolong kamu, hanya saja aku kasihan jika buku-buku yang berharga ini sampai terinjak orang lain."
Dimas berjalan pergi melewati Mandy yang masih duduk di tanah. "Sepertinya akan susah menggoda kamu, tapi aku tidak akan menyerah. Kamu benar-benar mempesona."
Denna masuk ke dalam kelasnya dan tidak lama Diaz juga masuk. Diaz tampak aneh melihat wajah Denna yang sudah di tekuk pagi-pagi begini.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawabnya malas.
"Pasti karena si ganteng bodyguard kamu itu ya?"
"Tidak perlu membahas Dimas. Aku malas," Denna membaringkan kepalanya di atas meja."
Diaz malah mendekatkan kursinya pada Denna. "Memangnya ada apa? kalian itu, kan, hanya pacaran pura-pura, tapi kenapa kamu seperti dikecewakan sama dia? Apa kamu beneran jatuh cinta sama Dimas?" Kedua mata Diaz melotot.
"Aku tidak tau bagaimana perasaanku sama Dimas bagaimana? Tapi kami pernah berciuman sampai dua kali," Denna memelankan suaranya pada bagian akhir.
Diaz melongo mendengar apa yang dikatakan oleh Denna. "Kamu serius?" Denna mengangguk. "Bagaimana bisa? Atau kalian diam-diam sudah beneran pacaran?"
__ADS_1
Denna menggeleng. "Ciuman pertama aku tidak sengaja melakukannya karena terjatuh dan menindih Dimas, dan yang kedua--." Denna melirik pada Diaz.
"Yang kedua apa? Kenapa sepotong-sepotong sih ceritanya?"
"Yang kedua tadi di mobil?"
"Apa? Tadi? Apa ciuman tadi juga tidak sengaja?"
"Yang tadi Dimas tiba-tiba menciumku saat membantuku membetulkan ikatan rambutku, dan bodohnya aku malah menikmati ciuman dari Dimas." Denna langsung menyembunyikan kepalanya di balik bukunya.
"Wah! Kalian berdua sepertinya sama-sama jatuh cinta."
"Apa begini tingkah orang kalau sedang jatuh cinta?" Diaz mengangguk. "Apa Dimas juga jatuh cinta padaku? Tapi kenapa dia tadi bilang menyesal melakukannya?"
"Dia bilang begitu?"
"Iya karena itu aku marah sama dia. Kenapa dia harus menyesal menciumku? Apa karena dia sebenarnya hanya khilaf. Mengesalkan!" Denna mukanya semakin ditekuk.
"Kamu cinta sama Dimas?"
Denna terdiam sejenak melihat pada Diaz. "Aku tidak tau, tapi aku sangat nyaman dan merasa senang jika sedang bersamanya. Apa mungkin aku jatuh cinta sama Dimas?"
"Mungkin saja. Sukurin! Makannya jangan bilang kalau kamu tidak mau memikirkan cinta dulu karena mau fokus kuliah. Sekarang perasaannya tidak karuan, kan?" Diaz terkekeh.
Bruk!
Denna kaget karena menabrak seseorang. Saat dia menoleh ternyata Mandy yang dia tabrak dan buku Mandy terjatuh lagi di lantai.
"Mandy? Aku minta maaf." Denna mengambil buku-buku Mandy dan Mandy juga ikut memunguti bukunya.
Denna memberikan bukunya dan gadis dengan ekspresi datarnya itu mengambil buku dari tangan Denna dengan tanpa satu kata pun.
Mandy langsung duduk di bangkunya. Denna yang melihat tampak aneh karena Mandy tidak berkata atau marah pada Denna.
"Denna, itu saudaranya Evans yang kamu ceritakan padaku, kan?"
"Iya. Kita kembali ke bangku saja Diaz."
Mata kuliah hari ini sedang di mulai. Denna mendengarkan dengan sangat serius. Sampai jam pulang selesai.
"Denna kamu dijemput Dimas, Kan?"
"Tidak, aku tadi sudah bilang kalau aku mau pulang sama kamu."
"Tapi aku nanti di jemput sama mas Rio naik motor, bukannya tadi aku bilang sama kamu?"
__ADS_1
"Iya, aku tau. Tidak apa-apa aku pulang saja sendiri. Aku lagi males bertemu Dimas."
Diaz terkekeh. "Kesal sama kata-kata Dimas tadi?"
"Iya, aku mau pulang jalan saja sambil menenangkan pikiran. Kamu kalau pulang kamu pulang saja."
"Kamu beneran baik-baik saja, Denna?"
"Aku baik, kamu jangan khawatir." Tangan Denna mengusap lembut pundak Diaz.
Denna berjalan menuju pintu gerbang dan berjalan pulang. Diaz tampak kasihan melihat sahabatnya yang baru pertama kali jatuh cinta, tapi kisahnya tidak berjalan manis.
Denna berjalan perlahan-lahan dengan banyak sekali hal yang sedang dia pikirkan.
"Jalan sendirian, Cantik?" tanya dua orang yang berjalan dari belakang Denna.
Denna tidak memperdulikan, dia malah mempercepat langkahnya. Dua orang itu kembali mengejar Denna.
"Kamu jangan takut, kita hanya mau berkenalan saja sama kamu. Sombong sekali kamu!"
"Aku minta maaf, tapi tolong jangan ganggu aku."
"Kami juga tidak menggangu kamu. Kami hanya ingin berkenalan sama kamu. Begini caranya." Tangan Denna ditarik dan diajak bersalaman dengan cara memaksa.
"Lepaskan! Kalian jangan kurang ajar." Denna mencoba melepaskan tangannya.
"Kalian jangan ganggu dia," suara seseorang yang Denna kenali terdengar di sana.
"Kamu siapa?"
"Aku temannya. Kalian pergi dari sini, atau aku hajar kalian. Pergi!"
"Kami tidak mengganggu dia."
"Banyak bicara, kalian pergi!"
Denna hanya melihati Evans yang tiba-tiba datang di sana. Dua orang yang menggoda Denna pun pergi dari sana. "Kamu tidak apa-apa, kan, Denna?"
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih dan permisi," ucap Denna ketus.
"Kamu mau pulang? Aku antarkan."
"Tidak perlu! Dan jangan memaksaku," Denna berkata tanpa melihat Evans karena dia sudah benar-benar sudah tidak percaya pada Evans mengingat apa yang sudah Evans lakukan padanya.
Evans tampak marah dengan sikap Denna. Sudah susah payah membuat rencana dengan menyuruh dua orang tadi untuk mengganggu Denna dan dia akan datang sebagai penolong, tapi Denna malah tidak peduli.
__ADS_1