
Tidak terasa Jaden pun tertidur hingga hari sudah berganti malam.
"Selamat malam semua," sapa seorang pria dengan suara bahagianya. Dia sedang berdiri dihadapan beberapa orang yang sedang duduk menikmati makan malamnya.
Beberapa orang yang duduk di meja makan seketika melihat ke arah pria yang berdiri dengan menggandeng seorang wanita cantik yang terlihat seperti seorang model internasional.
"Jacob ada apa ini?" tanya seorang wanita cantik dengan rambut blondenya yang melihat curiga pada pria yang ternyata adalah putranya.
"Mam, aku dan Mauren sudah memutuskan akan segera menikah."
"Apa? Kamu serius?" Wajah wanita cantik yang tadi memegang gelas burgundynya seketika berubah terkejut.
"Aku serius, Ma. Kita akan menikah karena Mauren sedang mengandung anakku."
"Mauren mengandung anak kamu?" Sekarang mata wanita yang dipanggil mama itu melihat pada wanita bernama Mauren.
__ADS_1
"Iya, Tante Sofia. Di dalam perutku ada bayi Jacob dan aku sangat mencintai Jacob." Kedua tangan pasangan yang sepertinya saling mencintai itu saling bertautan mesra dan tanpa ada rasa malu dan sungkan. Pria yang bernama Jacob itu mengecup bibir wanita yang mengandung calon anaknya dengan mesra.
Ada tangan di atas meja makan itu menggenggam erat gelas minumnya seolah ingin menghancurkan gelas yang ada di depannya.
"Selamat untuk kalian berdua jika memang kalian sudah sangat siap untuk mengarungi hidup berumah tangga. Kakek akan segera menggelar acara pernikahan kalian dengan sangat mewah," ucap seorang pria paruh baya dengan postur tubuh tinggi besarnya, dan memiliki rambut serta janggut berwarna putih. Pria tua itu juga memiliki manik mata berwarna biru seperti birunya lautan. Pria itu terlihat senang dengan berita yang dibawa oleh cucunya.
"Tentu saja aku sangat siap, Kek. Aku sangat mencintai Mauren sejak pertama kita bertemu waktu itu." Dua orang itu saling berpelukan mesra.
Tidak lama terdengar suara gelas terjatuh dan pecah. Jaden seketika membuka kedua matanya dan melihat Nara yang sepertinya terbangun dan tangannya berada di atas laci dekat tempat tidurnya.
Jaden menempelkan tangannya pada dahi Nara dan ternyata badan Nara masih demam.
"Haus ... minum ....," ucap Nara masih dengan kedua mata tertutup.
Jaden melihat gelas minum Nara sudah pecah dan dia keluar dari dalam kamar Nara untuk mengambilkan minum buat Nara.
__ADS_1
Jaden tidak lama kembali ke dalam kamar Nara dan dia terkejut melihat Nara yang berusaha terbangun dari tempat tidurnya.
"Aduh! Sakit." Nara tiba-tiba merintih kesakitan dan duduk kembali di atas tempat tidur karena tidak sengaja menginjak pecahan kaca dari gelas yang di pecahkannya tadi.
"Nara, kamu ini kenapa ceroboh sekali?" Jaden tampak kesal. Dia membantu Nara duduk dan memeriksa kaki Nara yang ternyata mengeluarkan darah.
"Aku mau mengambil minum," ucap Nara lirih dengan tenaga yang seolah dikuat-kuatkan.
"Aku sudah mengambilkan kamu minum, ini minum dulu." Jaden membantu memberikan gelas minumannya pada Nara. Nara yang memang haus tampak langsung mengambil gelas minumannya.
"Pelan-pelan, Nara."
Setelah menghabiskan segelas air putih. Nara yang memang masih tidak enak tubuhnya segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kakiku sakit," rintih Nara.
__ADS_1
Jaden beranjak dari tempat tidurnya dan keluar sekali lagi dari kamar Nara. Nara hanya melihatnya dengan sedih. Dia berpikiran seolah Jaden tidak peduli dengan hidup Nara.