
Jaden dan Nara keluar dari ruangan Dimas dirawat. Denna yang ada di sana sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pria yang dicintainya itu.
"Yah, sekarang aku bolehkan menemui Dimas?" tanya tidak sabar.
"Boleh, kamu masuk dengan nenek. Nenek juga pasti ingin melihat Dimas."
Denna melihat pada nenek Miranti. "Sayang, kamu masuk saja sendirian. Biar nenek nanti saja, kalian pasti ada hal yang ingin disampaikan."
"Tapi, Nek."
Nara mencubit pinggang suaminya. Jaden hanya terkejut, tidak merasakan sakit. "Kenapa kamu jadi menyebalkan sekarang Tuan JL?" Nara mendelikkan kedua matanya.
"Mereka tidak dibolehkan bicara hanya berdua saja di dalam ruangan," ucap Jaden santai.
"Memangnya kenapa kalau putriku dan Dimas berbicara hanya berdua di dalam ruangan? Dimas juga tidak akan bisa berbuat apa-apa dengan alat medis yang masih menempel pada tubuhnya."
Leo malah terkekeh. "Tuan lucu sekali, cemburu sama calon menantunya," celetuk Leo.
"Menantu?" Denna tampak bingung.
"Dia belum jadi menantuku."
Nara mendekat pada putrinya dan menyuruhnya masuk ke dalam ruangan Dimas. "Masuklah, Dimas menunggumu di dalam."
__ADS_1
Denna tersenyum dan segera masuk ke dalam kamar Dimas. Jaden bersedekap dengan dingin.
Denna berjalan perlahan mendekati pria yang sedang menatapnya. "Dimas, aku--."
"Aku mencintaimu, Denna." Denna agak kaget mendengar ucapan Dimas. "Semua yang terjadi waktu itu, aku lakukan untuk V, untuk kebahagiaannya."
"Kamu memikirkan kebahagiaan V, kenapa kamu tidak memikirkan kebahagiaanku? Melihat kartu undangan pernikahan kamu saja sudah membuat hatiku rasanya tersayat pisau yang tajam."
"Aku minta maaf, itu V yang merencanakannya agar kamu melupakan aku. Aku tau jika aku terlalu banyak membuat kamu bersedih."
"Aku sangat membenci kamu, Dimas. Sangat." Denna mengatakan dengan kepala menunduk tidak melihat pada pria yang dari tadi tidak melepaskan tatapannya.
"Kemarilah, dan berikan sebuah ciuman untukku."
"Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku?"
Denna memundurkan langkahnya. "Kita ini tidak ada hubungan, Dimas. Lagipula aku ini calon tunangan adik kamu-- V." Denna sengaja menggoda Dimas.
"Pertunangan kalian tidak akan pernah terjadi."
"Oh ya? Kenapa kamu yakin sekali? Memangnya kamu mau berbuat apa? Keadaan kamu sendiri saja seperti ini," ucap Denna seolah mengejek Dimas.
"Aku bisa melakukan hal yang tidak akan kamu bayangkan, Nona Denna. Kalaupun pertunangan itu sampai benar terjadi, aku akan menculikmu di hari pertunangan kamu."
__ADS_1
"Memangnya kamu berani?"
"Jangan menantangku, Nona Denna." Dimas seketika menarik tubuhnya ke depan. "Auw sakit!" Dia merintih kesakitan.
"Dimas, apa yang kamu lakukan?" Denna yang reflek panik maju mendekat ke arah Dimas.
Pria itu dengan cepat meraih pinggang Denna dan mendekatkan tubuh Denna ke arahnya.
"Aku mencintaimu Nona Dennaku." Dimas tersenyum dan mendaratkan bibirnya mengecup lembut bibir Denna.
Mereka berciuman cukup lama, sampai akhirnya Dimas melepaskan pagutannya. Dia sekali lagi menatap Denna dengan lekat. "Apa kamu mau menikah denganku, Nona Denna?"
Denna seketika mengangguk dan air matanya pun keluar begitu saja. "Aku mencintaimu, Dimas, dan aku mau menikah dengan kamu." Denna melingkarkan kedua tangannya pada leher Dimas dan memeluknya.
"Denna."
Jaden tiba-tiba menyelonong masuk karena dari tadi di luar dia gusar karena putrinya lama sekali di dalam kamar berdua dengan Dimas.
Mereka semua akhirnya masuk ke dalam kamar dan melihat Denna berpelukan dengan Dimas.
Denna tidak memperdulikan mereka melihatnya, dia masih tetap memeluk calon suaminya.
Happy Ending.
__ADS_1