
Jaden meletakkan laptopnya dan melihat serius pada Leo. "Ada apa, Leo?"
"Tuan, apa benar jika Tuan mempersilakan mba Sandra menginap di sini? Apa Tuan Jaden tidak salah?"
"Aku memang menyuruh Sandra untuk menginap di sini sampai aku sembuh, jadi dia tidak perlu jauh-jauh ke sini."
"Tapi apa Tuan sudah memikirkan hal itu baik-baik dengan mengizinkan mba Sandra menginap di sini?"
"Aku sudah memikirkan hal itu baik-baik, Leo dan kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu. Jika dia berulah, aku tidak akan segan-segan padanya Leo."
"Saya percaya dengan apa yang sudah Tuan putuskan, saya harap tidak akan ada masalah nantinya."
"Leo, apa benar kalau kamu menyukai Nara?"
Leo tiba-tiba tercengang dengan pertanyaan Tuannya. "Maksud Tuan apa saya menyukai Nara sebagai kekasih begitu? Kalau menyukai Nara berada di rumah ini, saya akui saya menyukai Nara karena dia memang gadis yang baik dan periang."
"Menyukai dalam hal lebih dari biasa. Apa kamu dan Nara diam-diam di belakangku ada hubungan spesial?"
"Maaf, Tuan. Saya dan Nara hanya sebagai teman baik. Nara sudah menganggap saya seperti kakaknya sendiri, dan saya pun tidak keberatan akan hal itu."
"Bagus kalau begitu. Aku harap kamu tau untuk menjaga perasaan kamu pada Nara karena kamu sudah tau apa sebenarnya peran Nara di sini."
"Saya sudah tau, Tuan. Aku senang bisa berkenalan dengan Nara yang memang gadis yang menyenangkan, dan saya harap Tuan akan memperlakukan Nara dengan baik. Itu saja, Tuan."
"Aku bisa memperlakukan dia dengan baik jika dia menjadi gadis penurut, Leo."
Leo mengangguk dan izin pergi dari sana. "Nara!" Leo tampak kaget saat berjalan keluar dari kamar Jaden melihat Nara sudah berdiri di depan pintu.
"Mas Leo, aku mau menaruh baju-baju Tuan Jaden."
"Nara, dari kapan kamu berdiri di sini?"
__ADS_1
"Aku berdiri dari tadi, bahkan aku mendengar semua yang kalian katakan."
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak dengan semua yang dikatakan oleh Tuan Jaden, Nara."
"Mas Leo tenang saja, aku sudah mulai memahami keadaanku di sini." Nara memberikan senyumannya.
"Kalau begitu aku permisi dulu mau mengantarkan mba Sandra pulang dulu untuk mengambil beberapa barangnya." Tangan Leo menepuk kepala Nara beberapa kali. "Selalulah menjadi Nara yang sama seperti saat kamu dilahirkan.
Nara sekali lagi tersenyum. Entah kenapa Nara merasa tenang jika melihat senyum Leo. Dari kejauhan Jaden dapat melihat secara langsung apa yang dilakukan dua orang tersebut.
"Bagaimana jika Nara menyukai, Leo?" dialognya sendiri.
Nara masuk ke dalam kamar Jaden dan berjalan masuk ke walk in closet milik Jaden tanpa menyapa pria yang matanya mengikutinya dari tadi.
"Tuan, ini obatnya, tadi mba Sandra meminta obat itu untuk di berikan pada Tuan, tapi aku bilang jika aku saja yang memberikan karena Tuan susah jika minum obat." Tangan Nara menjulur menyerahkan obat pada Jaden.
Jaden mengambil dan terdiam sejenak. "Mana pisangnya?"
Saat Nara akan pergi dengan cepat tangan Jaden menahan pergelangan tangan Nara. Gadis manis itu melihat sayu pada pergelangan tangannya. "Ada apa, Tuan? Aku mau mengambilkan pisangnya dulu."
"Kamu kenapa? Apa ada yang salah?"
Nara menggeleng perlahan. "Aku hanya sedang pusing saja dari tadi kepalaku, dan tadi sudah dipijit oleh Mas Leo." Nara melepaskan pegangan tangannya dan berjalan pergi dari sana.
"****! Ada apa denganku?" Jaden tiba-tiba kesal dengan dirinya sendiri.
Tidak lama Nara kembali membawakan pisangnya. Jaden sudah meminum obat dengan baik. "Tuan, aku sudah tidak perlu tidur di sini lagi karena nanti mba Sandra akan tidur di kamarku, kalau Tuan membutuhkan bantuan, Tuan dapat dengan mudah menghubunginya dan dia akan segera datang, bukannya Tuan mempunyai nomor teleponnya."
"Siapa yang menyuruh dia tidur di kamar kamu?"
"Dia yang meminta menempati kamarku karena dia takut jika tidur di kamar bagian belakang. Aku memberikannya karena memang itu bukan sepenuhnya milikku jadi aku tidak keberatan untuk pindah." Nara berjalan dengan membawa bajunya yang tertinggal di kamar Jaden.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan ini sudah benar? Kenapa aku merasa ada yang mengganjal hatiku?" lagi-lagi Jaden berdialog sendiri.
Nara membersihkan kamar barunya dan menempatkan beberapa tangkai bunga yang dia temukan di luar rumah yang tumbuh liar. Setelah beberapa menit membersihkan kamarnya Nara duduk dj bawah ranjang.
Nara tiba-tiba memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya di antara dua lututnya, terdengar suara tangis di dalam kamar itu.
Jaden agak terkejut melihat apa yang terjadi dengan Nara dari layar tablet yang selalu dibawanya. "Kenapa dia?" Tentu saja karena kamu Tuan JL. Pake tanya.
"Apa dia kesal karena ucapanku? Atau mungkin dia mencintai Leo, tapi dia tau hal itu tidak mungkin terjadi."
Mereka berdua terdiam di tempatnya masing-masing, dan yang jelas saat ini hanya Nara yang mengetahui apa yang dia rasakan sampai dia menangis.
Malam itu. Sandra berada di dalam dapur Nara, Nara tidak diperbolehkan Sandra untuk membuat makan malam karena dia nanti yang akan memasak makanan untuk Jaden.
"Nara, kamu kenapa? Diam saja di sini." Leo tersenyum memandang Nara.
"Aku tidak apa-apa, Mas Leo. Mas Leo malam ini tidur di sini?"
"Sepertinya tidak karena besok aku harus pergi lagi ke luar negeri untuk mengurus kiriman Tuan Jaden. Memangnya kenapa?" Mereka berdua duduk di dekat kolam renang dengan suasana yang malam ini sungguh indah karena tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Cuacanya benar-benar cerah.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak tau apa yang harus aku lakukan jika semua tugasku dilakukan oleh Mba Sandra. Aku sebenarnya harus bersyukur, tapi jadi bingung sendiri aku harus berbuat apa. Coba kalau Mas Leo tidak ada di sini pasti aku tambah bosan. Apalagi tidak ada yang aku ajak bicara lagi."
"Kamu bisa baca buku seperti yang aku sarankan."
Nara baru ingat. "Iya, aku belum mengambilnya, tapi aku sudah izin. Besok saja kalau pas Mas Leo tidak ke sini."
"Nara, apa yang kamu sukai?" tanya Leo tiba-tiba.
"Aku suka memasak, suka melihat-lihat bentuk kue yang lucu-lucu. Dulu pernah dibelikan kue yang bentuknya bagus sekali dan akhirnya aku tidak memakannya. Malah aku menyimpannya sampai tumbuh jamur. Papaku membuangnya sampai akhirnya aku menangis." Nara tertawa menceritakan hal itu.
"Kamu lucu sekali, ibuku pasti senang bisa berkenalan dengan kamu. Kalau sekarang apa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
Nara melihat dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Leo. Leo pun penasaran menunggu apa yang akan di sampaikan oleh Nara.