
Denna mengangguk dan dia menunggu di dalam kamar.
"Tolong ambilkan aku air minum." Mandy mencoba bangun dari tempat tidur. Denna yang melihat berusaha menolongnya untuk duduk.
"Kamu baik-baik saja, Mandy?"
"Kamu temannya Evans, Kan? Mana Evans?"
"Dia sedang mengambilkan obat kamu yang tertinggal di toilet. Sebentar lagi pasti kembali."
"Aku mau minum." Mandy yang akan mengambil air minum di dekat laci samping tempat tidurnya langsung dibantu oleh Denna.
"Aku saja yang ambilkan." Denna mengambilkan air minum dan dengan cepat Mandy menghabiskannya.
"Denna, terima kasih sudah menolongku. Aku malah berbuat buruk sama kamu."
"Tidak apa-apa, kita lupakan saja semuanya. Mandy, apa benar kamu sakit kanker otak?"
Gadis itu mengangguk perlahan. "Aku memang sakit dan aku sedang berobat ke luar negeri untuk sakitku ini. Entah berapa lama aku akan hidup, Denna, makannya aku selalu bersikap ketus pada orang karena aku membenci diriku sendiri sebenarnya. Namun, aku malah mengalihkan kebencianku pada diriku sendiri ke orang lain."
"Cobalah bersikap menerima segalanya dan bersikap baik pada diri kamu dan orang lain. Aku yakin kamu akan lebih bahagia."
Mandy mengangguk perlahan. Tidak lama ponsel Denna berdering dan ada nama Diaz di sana.
"Mandy, aku terima telepon dulu."
"Denna, jangan menceritakan apapun tentang penyakitku. Aku tidak mau dikasihani orang lain."
"Iya, kamu tenang saja."
"Denna, kamu di mana? Bilangnya mau mengambil minuman, tapi kenapa tidak kembali?"
Denna melihat Mandy dan berbisik pada Diaz. "Nanti aku ceritakan sama kamu, Diaz. Sekarang kamu tunggu saja aku di sana dan berbicaralah dulu dengan Kak Rio."
"Kak Rio memang dari tadi bersamaku. Dia malah bilang akan menemaniku sampai kamu datang."
"Ya sudah, kalian bisa bicara dan mengenal lebih baik lagi. Jadi, kamu tau dia pria seperti apa? Tulus atau hanya pura-pura."
"Iya, sih! Entah kenapa dia nyambung sekali aku ajak bicara."
"Ya sudah kamu di sana dulu nanti aku menyusul."
"Tapi kamu baik-baik saja, Kan?"
__ADS_1
"Aku baik, Diaz. Kamu tidak perlu khawatir."
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya. Denna kembali melihat pada Mandy yang menyodorkan air minum pada Denna.
"Ini minum dulu, muka kamu tampak pucat tadi, pasti kamu agak kaget melihat aku yang seperti tadi."
"Oh iya, terima kasih. Aku memang benar agak terkejut kamu tadi seperti itu. Apa kamu sering kesakitan seperti itu?" Denna menghabiskan segelas air mineralnya.
"Ini masih mending, malahan aku pernah lebih parah dari ini sampai tidak sadarkan diri tiga hari di rumah sakit."
Tidak lama Evans datang dan berjalan mendekati mereka yang sedang mengobrol.
"Evans, mana obatnya?"
"Ini hadiah kamu. Terima kasih saudara sepupuku yang baik hati dan sangat cantik." Evans malah memberikan sebotol red wine kepada Mandy.
Denna yang melihat tampak heran. "Kenapa kamu memberikan dia minuman?"
"Apa kamu mau juga? Kamu pasti belum pernah mencobanya." Tangan Evans mengusap lembut pipi Denna.
Denna menangkis dengan kasar tangan Evans. "Jauhkan tangan kamu, Evans!"
"Sayang, aku senang kamu mau datang ke dalam kamarku." Evans sekarang menarik pinggang Denna dan memeluknya.
"Aku akan pergi dari sini agar kalian bisa bersenang-senang." Mandy tersenyum devil sambil membawa botol minuman pemberian Evans keluar dari kamar Evans.
"Kamu mau ke mana?" ucap Denna lirih karena dia sudah merasa sangat pusing dan akhirnya pingsan pada pelukan Evans.
Evans mengusap lembut bibir Denna, dan menatap wajah Denna penuh hasrat. "Kamu cantik sekali malam ini Denna. Pasti Di dalam balik gaun ini lebih cantik dan indah lagi."
Evans meletakkan Denna di atas ranjangnya dan dia melepas kemeja hitam miliknya.
"Sekarang kita akan mulai bersenang-senang, Sayang." Tangan Evans mengangkat baju Denna dan membukanya. "Indah sekali." Kedua mata Evans menyalang melihat satu set baju dalaman berwarna hitam milik Denna.
Evans mengambil minuman dan menghabiskannya sekali teguk. Evans juga menyiramkan sedikit pada tubuh Denna dan baju yang dipakai oleh Denna. Evans akan membuat Denna seolah melakukan hal itu karena terpengaruh minuman.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan ingin membuat kamu jadi milikku dan nanti akan aku buat kamu menangis memohon padaku."
Evans berada tepat di atas tubuh pingsan Denna. Dia mulai mengecup dada Denna.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan terdengar langkah kaki masuk ke dalam kamar itu dengan tatapan tajamnya.
"Jauhkan diri kamu dari tubuh gadis itu," Pria itu menekankan ucapannya.
__ADS_1
Evans terkejut dan segera turun dari tubuh gadis itu. "Kamu siapa? Keluar sekarang dari kamarku!" usirnya marah.
Pria dengan sweater berwarna hitamnya serta memakai penutup kepala dan wajah mendekat. Dia dengan cepat melayangkan tinjunya dengan keras dan cepat sehingga Evans tidak dapat menghindar, dia jatuh tersungkur di lantai.
Pria itu dengan cepat berjongkok, memukul wajah Evans sekali lagi. "Jangan berani sekali lagi berpikiran atau bahkan berbuat buruk lagi dengan Nona Denna."
Bruk!
Sekali lagi pria itu melayangkan pukulannya hingga Evans pingsan.
Pria itu menggendong tubuh Denna setelah memakaikan baju pada Denna. Dia membawa pergi Denna dari hotel itu melewati pintu yang dia tau menuju ke tempat parkiran.
"Huft! Pria itu sudah memberikan obat bius pada minumannya."
Denna ditidurkan di kursi belakang dan pria itu mengemudikan mobilnya pergi dari sana.
Dia berhenti di sebuah tempat yang agak sepi. "Ada apa?"
"Pak Leo, saya sedang bersama dengan nona Denna, tapi--."
"Tapi apa? Katakan!"
"Nona Denna sedang dalam pengaruh obat bius. Ada teman sekolahnya yang ingin berbuat jahat pada Nona Denna, tapi Nona Denna baik-baik saja."
"Oh Tuhan! Kecemasan Tuan Jaden sudah terbukti. Kamu tolong jaga Nona Denna karena di sini acaranya belum selesai dan mungkin ayah Denna akan menginap sampai besok."
"Pak Leo tenang saja, aku akan menjaga nona Denna dengan baik."
"Terima kasih. Aku percaya padamu selama masa kerja kamu beberapa bulan ini. Anak laki-laki itu tidak akan dimaafkan oleh Tuan Jaden jika Tuan Jaden mengetahui hal ini."
"Saya akan membawa Nona Denna kembali ke rumah Nenek dan menjaganya di sana."
"Lakukan yang terbaik buat Denna."
"Iya, Pak Leo."
Mereka mengakhiri panggilannya. Pria itu masih terdiam di tempatnya menunggu Denna sampai tersadar.
Ponsel Denna tidak lama berbunyi dan pria bersama Denna itu melihat nama Diaz di sana.
"Ini, kan, sahabat nona Denna. Apa aku harus menjawabnya?" Pria itu tampak berpikir sejenak.
Lalu dia mengirim pesan pada Diaz dan mengatakan jika Denna pulang lebih dulu dijemput supir pribadinya untuk diantar ke tempat di mana ayahnya berada karena ada urusan yang sangat penting.
__ADS_1