Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nara Diculik Part 2


__ADS_3

Di dalam mobil itu Nara duduk diam dengan tangan terikat, dan dia tidak berani berteriak apalagi berontak karena dia ditodongkan senjata api tepat di kepalanya. Jika Nara berani berteriak atau mencoba berontak, maka peluru dari senjata api itu tidak segan-segan melukai Nara.


Nara memperhatikan tiga orang dengan setelan jas hitam serta kacamata hitam yang mereka kenakan.


"Maaf, apa aku boleh bertanya?" ucap Nara agak takut.


"Kamu tidak diizinkan bertanya, ataupun mengeluarkan suara," ucap pria yang menodongkan senjata api tepat di kepala Nara.


"Jahat sekali! Kenapa aku tidak boleh bertanya? Kalian para pria tampan, tapi kenapa perilakunya tidak baik begini? Tau-tau menculik anak gadis baik-baik seperti aku. Aku ini dari keluarga tidak mampu, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dengan menculikku," cerocos Nara yang akhirnya langsung dibungkam mulutnya dengan kain penutup.


"Kami menculikmu bukan karena kami membutuhkan uang dari keluargamu, tapi karena ada hal lain," ucap salah satu dari mereka.


Nara melihat ke arah penculik itu dan dia memikirkan sesuatu. Nara bingung karena penculik itu bilang jika mereka menculik Nara bukan karena uang. Lantas, untuk apa?


Tidak lama terdengar suara ponsel salah satu penculik itu. Nara dapat mendengar pembicaraan mereka dengan seorang pria di telepon dan sepertinya si penelepon itu yang menyuruh para penculik itu menculik Nara.


"Baik, akan kami lakukan, Tuan." Pria yang memegang ponsel memberi isyarat pada temannya. Nara yang melihat curiga dan dia mencoba berontak dengan mulut bersuara tidak jelas.


"Kamu diam! Sebentar lagi kita akan sampai di tempat baru kamu." Pria itu lalu menutup kedua mata Nara dengan kain hitam. Nara benar-benar tidak tau akan diapakan dia setelah ini.


Mobil melaju dengan agak cepat dan Nara merasa perjalanannya saat ini sangat lama, bahkan sampai membuat Nara tertidur apalagi dirinya memang sedang tidak enak badan.


"Aku di mana?" Nara merasakan tubuhnya seperti dibopong oleh seseorang, tapi dia tidak tau karena matanya masih tertutup oleh kain hitam.


Pria yang membawa Nara tidak menjawab pertanyaan Nara. Pria itu membawa Nara di suatu kamar yang sangat besar. Nara hanya bisa pasrah karena tubuhnya sekarang terasa panas.


"Bi, tolong panggilkan dokter keluarga, gadis ini sepertinya sakit," suara samar seorang pria terdengar di telinga Nara.


"Baik, akan saya panggilkan dokter untuk gadis ini."

__ADS_1


Nara merasakan ada seseorang duduk sampingnya dan tidak lama kain penutup mata Nara terbuka. Nara berusaha membuka kedua matanya walaupun tampak berat. Dia melihat seorang pria sedang menatapnya.


"Kamu siapa? Kenapa wajah kamu tampan sekali? Apa kamu malaikat yang akan membawaku bertemu mama dan papaku di surga?" ucap Nara meracau.


"Aku bukan malaikat, dan kamu tidak akan aku bawa ke surga," jawab pria itu sambil tersenyum. Tidak lama Nara malah tertidur. Tangan pria itu memegang dahi Nara dan dia merasakan dahi Nara yang terasa sangat panas.


Pria itu segera bergegas keluar dan menghubungi seseorang. "Apa kamu sudah memanggil dokter? Aku tidak mau dia sampai mati karena dia harus membayar apa yang pamannya sudah janjikan padaku."


"Saya sudah memanggilkan dokter, Tuan, dan sebentar lagi dokter akan memeriksanya."


"Kamu urus dia dulu, dan nanti setelah urusanku selesai, aku akan secepatnya pulang." Pria di seberang telepon menutup panggilannya.


Tidak lama dokter datang dan memeriksa Nara. Kata dokter Nara hanya kecapekan dan dia juga sering telat makan, pencernaannya agak terganggu. Dokter memberikan resep dan harus segera ditebus.


Pria yang menggendong Nara tadi menyuruh pria berpakaian hitam yang menculik Nara membelikan resep obat tersebut. Pria itu di kamar berdua hanya bersama dengan Nara. Dia memperhatikan Nara dengan seksama.


"Mama, aku mau sup ayam buatan mama, mama aku sakit," racau Nara.


"Baik, akan saya segera buatkan," ucap wanita di seberang telepon.


"Ini pasti tas sekolahnya." Pria itu membuka tas sekolah Nara untuk memeriksa apa saja yang dibawa oleh Nara, dan pria itu menemukan bekal makanan Nara yang belum sempat Nara makan. "Ini, kan, sup ayam? Apa ini yang tadi dia maksud?"


"Tuan Leo, ini sup ayamnya."


"Bi, tolong pindahkan sup ayam ini ke dalam mangkuk dan supkan saja sup ayam ini untuk gadis itu."


"Jadi gadis ini membawa bekal makanan sendiri?" Pria bernama Leo itu mengangguk perlahan. "Baiklah akan saya suapkan."


"Setelah itu Bibi ganti baju gadis ini dengan pakaian yang sudah aku belikan barusan, setelah itu minumkan obatnya. Aku akan pergi sebentar."

__ADS_1


Wanita paruh baya dengan rambut yang tampak ada ubannya mengangguk beberapa kali."


***


Di sebuah ruangan yang tampak agak gelap, seseorang sedang duduk sambil menatap tajam pada pria yang tampak ketakutan terlihat dari raut wajahnya.


"Tuan Jaden Maafkan saya, saya tidak bermaksud berkhianat dengan Tuan Jaden." Pria gendut dengan banyak keringat di keningnya tampak melipatkan kedua tangannya ke depan.


"Kamu tau hukuman bagi orang yang berani berkhianat denganku?" Sorot tajam kedua manik mata berwarna coklat itu seolah ingin mencabik-cabik orang di depannya.


"Sa-saya minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi."


"Tidak ada kesempatan kedua yang akan aku berikan bagi seorang pengkhianat." Tangan pria yang di panggil Jaden itu mencengkeram erat dagu pria di depannya. Tampak wajah pria itu seketika meringis kesakitan.


"Maafkan saya, Tuan Jaden Luther, saya benar-benar menyesal melakukan hal itu."


"Kamu sudah berani mencuri barang milikku, dan fatalnya kamu menjualnya pada musuhku. Itu benar-benar tidak dapat dimaafkan.


"Saya minta maaf, Tuan Jaden."


"Bawa dia, dan lemparkan pada buaya piaraanku yang kelaparan. Aku benar-benar membenci manusia seperti dia. Kamu sendiri bahkan tidak pantas disebut manusia karena sudah tega menjual istri dan anak perempuan kamu ke rumah pelacuran. Kamu benar-benar tidak pantas untuk hidup." Pria itu berdiri dari tempatnya dan memandang dengan dingin pria gendut yang sedang diseret oleh dua orang pria dengan tubuh tinggi besarnya.


Teriakan minta maaf pria gendut itu seolah menjadi nyanyian merdu bagi seorang Jaden Luther.


Tidak lama ponsel milik Jaden berdering dan wajah Jaden tampak berubah dari yang dingin seperti es menjadi agak hangat, apalagi ada senyuman di sudut bibirnya.


"Halo, Wanita Cantikku," ucapnya lembut.


"Kamu kapan akan menemui kekasihmu ini di rumah sakit? Keadaanku sudah membaik dan apa kamu tidak mau melihatku di sini?"

__ADS_1


"Besok aku akan datang ke sana, dan apa yang mau aku bawakan untukmu?"


"Coklat yang banyak, maka aku akan memaafkan semua kesalahan kamu. Deal?" tanya suara wanita di seberang telepon.


__ADS_2