
Nara tampak heran kenapa sekuriti itu memanggil Paijo dengan sebutan Pak? Paijo tampak menepuk pundak pria itu. "Bagaimana dengan keadaan istrimu?"
"Sudah lebih baik, Pak. Saya berterima kasih kepada Pak Baskara yang sudah berbaik hati menolong saya."
"Kita sesama manusia sudah kewajibannya saling menolong. Kalau begitu sampaikan salamku pada istri kamu."
"Baik, Pak." Pria itu mengalihkan pandangannya pada Nara yang digandeng tangannya oleh Paijo masuk ke dalam restoran itu. "Apa itu kekasih Pak Baskara? Dia cantik juga, cocok dengan Pak Baskara," dialognya sendiri.
Nara tampak takjub saat melihat apa yang ada di dalam restoran itu. "Bagus sekali. Ini restoran siapa? Dan kenapa bapak tadi memanggil kamu Pak Baskara?"
"Kamu ternyata masih lemot saja ya, Nara."
"Enak saja. Aku ini sebenarnya pintar hanya saja takut salah mengartikan. Apa ini restoran kamu? Oleh sebab itu bapak tadi memanggil kamu Pak Baskara?"
"Pintar." Tangan Paijo menepuk kepala Nara lirih sambil menunduk melihat wajah Nara.
"Kamu kenapa bisa berubah seperti ini? Kamu jauh berbeda sekali dengan Paijo yang aku kenal dulu. Apa kamu benaran Paijo atau Panjul sahabatku dulu?" Tatap Nara.
"Kita makan dulu, aku yakin kamu belum makan, lihat saja badan kamu kurus begitu."
Paijo mengajak Nara duduk dan memesan makanan pada salah satu pelayan di sana. Nara masih memandangi sahabatnya itu seolah dia belum percaya sepenuhnya jika di depannya adalah sahabatnya dulu saat mereka masih SMA, sahabatnya yang culun dan agak dekil. Namun, sekarang dia menjelma menjadi pria tampan dan memiliki segalanya.
"Aku lulus dari SMA diajak oleh ibuku tinggal di luar negeri dan aku bekerja di perusahaan milik ayah tiriku. Ayah tiriku sangat percaya padaku, Nara. Beliau menyerahkan semuanya di tanganku dan beliau sangat baik. Aku bisa menjadi sekarang karena berkat dirinya."
"Aku benar-benar senang bisa melihat kamu sukses seperti ini. Kalau ingat waktu dulu rasanya ingin menangis saja. Perjuangan kamu mencari uang untuk membantu nenek kamu agar kamu bisa terus sekolah benar-benar sesuatu hal yang luar biasa."
__ADS_1
"Iya, Nara. Aku tidak akan lupa itu semua. Nara. Padahal tiap bulan aku dikirimi ibuku uang, tapi aku sama sekali tidak mau menggunakannya karena aku belum bisa menerima ibuku yang pergi dan menikah dengan pria lain."
"Sekarang kamu sadar dan berdamai dengan ibu kamu?"
"Iya, aku tau kenapa ibuku melakukan hal itu. Aku sudah salah waktu itu. Nara, aku minta maaf pernah membohongi kamu, padahal kita sahabat baik, tapi aku malah bohong sama kamu."
"Bohong soal apa? Apa soal kamu diam-diam kencan dengan Rachel?"
Paijo tertawa dengan kerasnya. "Rachel? Gadis itu ternyata memandang seseorang hanya dari harta. Aku sempat mendekatinya karena penasaran dengan dirinya dari masa sekolah, tapi ternyata dia bukan gadis yang baik dan aku baru sadar jika ucapan sahabatku dulu benar adanya."
"Salah sendiri tidak percaya padaku, tapi semua itu sudah berlalu, kan? Sekarang ceritakan kamu bohong kepadaku tentang apa?"
"Sebenarnya orang yang membayar uang sekolah kamu dulu itu adalah aku, Nara."
"Apa? Kamu serius? Tapi dari mana kamu mendapatkan uang untuk membayarnya?"
"Ya ampun, Paijo, kenapa kamu sangat baik padaku?" Wajah Nara tampak sedih. Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu sampai seperti itu."
"Kamu sahabat baikku selama di sekolah, Nara, dan lagi aku tau bagaimana perlakuan paman dan bibi kamu sama kamu. Apalagi Mona juga sangat jahat sama kamu. Di kerap membuat kamu dimarahi dan dipukul oleh paman kamu karena fitnah yang suka dia berikan sama kamu."
Wajah Nara tampak sedih saat Paijo mengingatkan tentang Mona." Jo, Mona sudah meninggal dan karena hal itu aku berada di sini."
"Apa? Apa maksud kamu dengan Mona sudah meninggal dan karena itu kamu di sini?" Kedua alis Paijo tampak mengkerut hampir menyatu.
Nara menceritakan semua yang dia alami selama ini. Di mana dia sebenarnya tidak bekerja ikut orang karena untuk membiayai kebutuhan hidupnya, tetapi dirinya dijual oleh pamannya kepada salah satu bos mafia yang tak lain adalah Jaden Luther.
__ADS_1
"Tega sekali paman kamu itu, Nara. Andai aku tau hal ini, pasti tidak akan kubiarkan."
"Tapi aku juga sebenarnya ingin bersyukur karena hal itu aku bisa bertemu dengan orang yang membeliku dan aku jatuh cinta padanya, bahkan aku dan dia sudah menikah."
"Apa?" Mulut Paijo langsung melongo sambil kedua matanya merem melek. "Kamu menikah dengan bos mafia itu? Kok bisa? Apa dia yang memaksa kamu menikah dengannya?"
Nara menggeleng. "Aku menikah dengannya karena aku mencintainya dan dia juga sangat mencintaiku, Jo. Jaden Luther seorang yang baik dan melindungiku." Nara tampak meneteskan air matanya mengingat tentang suaminya.
"Kalau kalian saling mencintai, ke mana dia sekarang? Kenapa kamu dibiarkan berada di tempat ini sendirian?"
"Aku terpaksa harus meninggalkannya, Jo. Aku tidak bisa melihat dia Menderita harus mendekam di jeruji besi karena kesalahan yang tidak dia lakukan." Nara tiba-tiba menangis dengan agak keras. Paijo yang melihat sahabatnya menangis seperti itu jadi bingung sendiri. Dia berpindah tempat dan mencoba menenangkan Nara dengan memeluknya.
Beberapa pegawai dan orang-orang di sana tampak melihat mereka dan berbisik. Paijo meringis lucu pada orang-orang yang memperhatikan mereka. Dia tau jika dirinya sudah menjadi pusat perhatian di sana.
"Nara, bisa tidak kamu menghentikan tangisan kamu? Orang-orang di sini melihati kita terus," ucap Paijo lirih.
Nara yang sadar langsung menghentikan tangisannya dan menghapus bekas air mata yang masih menetes di pipinya. "Aku minta maaf, Paijo. Aku hanya merindukan suamiku."
"Tidak apa-apa. Sebaiknya sekarang kita makan dulu supaya kamu lebih tenang dan kamu nanti bisa menceritakan padaku tentang semuanya. Aku akan mendengarkan dengan baik semua cerita kamu."
Nara mengangguk dan setelah makan dia banyak bercerita tentang kehidupannya selama ini, bahkan menceritakan tentang kematian Mona dan hubungannya dengan suami Nara.
Paijo sampai malam mendengarkan semua cerita Nara, dan Paijo antara percaya dan tidak percaya jika semua itu terjadi pada kehidupan Nara. "Nara, kenapa, sih, kamu harus memilih menikah dengan dia? Kehidupan kamu benar-benar diliputi banyak bahaya."
"Aku sama sekali tidak menyesal bisa mengenal bahkan mencintai Jaden."
__ADS_1
"Lalu, sekarang apa kamu tidak ingin kembali pada suami kamu? Kamu bilang saja jika kamu pergi karena ancaman, dan dia pasti akan melindungi kamu."
"Tidak semudah itu, Paijo," ucap Nara lirih.