
Nara yang merasa tidak enak dengan Mba Sandra menyuruh wanita itu masuk ke dalam kamar Jaden.
"Tapi, Nara, Tuan Jaden tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kamar sampai Tuan berada di rumah."
"Memangnya aku penjahat yang mau melukai Nara? Kalau aku penjahat, kenapa dari awal aku tidak memberikan racun pada Nara?" ucap Sandra marah.
"Pak, tidak apa-apa. Di sini Mba Sandra tidak perlu dicurigai. Nanti aku yang akan bertanggung jawab dengan semua ini. Mba Sandra silakan masuk."
Nara menggandeng tangan Sandra dan membawanya masuk ke dalam kamar Jaden. Sandra terlihat sangat kesal dengan perlakuan pengawal tadi.
"Apa maksud Jaden dengan mencurigai aku juga, seolah aku penjahat saja?"
Nara mengambil minuman yang dibawa Sandra dan meletakkan di tempat biasanya. Nara mencoba untuk menenangkan Sandra yang terlihat marah.
"Mba jangan marah. Mungkin Tuan JL hanya waspada saja mengingat beberapa hari ini kita mengalami kejadian yang buruk."
"Semua ini karena kamu! Dari awal kamu sudah mencari masalah dengan Roy, dan entah kenapa para penculik itu juga menculik kamu." Sandra duduk dengan melipat tangannya ke depan.
"Soal mas Roy, aku juga tidak tau dia akan seperti itu."
Sandra melihat Nara dari atas sampai bawah. "Kamu tidur dengan Jaden? Oh ...! Pantas saja Jaden sangat memperhatikan kamu. Aku tidak menyangka jika gadis sepolos kamu ternyata seorang pelacur kecil."
Plak ...
Nara seketika menampar Sandra dengan keras. "Jaga bicara Mba Sandra. Aku memang tidur satu ranjang dengan Tuan Jaden, tapi aku sama sekali tidak berbuat apa-apa dengannya."
"Berani sekali kamu menamparku! Kamu itu hanya seorang pelayan yang tidak berhak mendapatkan seorang Jaden Luther. Harusnya kamu ingat dengan posisi kamu, Nara!"
"Aku ingat siapa aku dan siapa Tuan Jaden, bahkan aku sudah sering kali mengingatkan Tuan Jaden, tapi Tuan Jaden yang memintaku melakukan semua ini dan aku tidak berani untuk membantahnya."
"Tapi kamu tau jika aku mencintai Jaden, dan harusnya kamu mengerti akan hal itu."
"Cinta tidak dapat dipaksakan dan Mba Sandra pasti tau jika ternyata Tuan Jaden tidak pernah menyukai Mba Sandra," ucap Nara pelan, tapi terdengar menekankan.
__ADS_1
Sandra semakin menunjukkan wajah ditekuknya mendengar hal itu.
"Jaden bisa mencintaiku, jika kamu tidak hadir di antara aku dan Jaden." Sandra menangis. Nara yang melihat hal itu menjadi kasihan. Wanita di depannya ini sebenarnya hanya ingin mendapat balasan dari Jaden, tapi pria dingin itu sepertinya sama sekali tidak memiliki rasa cinta pada Sandra atau mungkin pada siapa pun.
"Mba Sandra, aku tidak pernah ada maksud untuk merebut Tuan JL dari Mba, atau siapa pun, dan Tuan Jaden juga tidak mencintaiku, dia hanya berbuat baik saja denganku." Pada kalimat terakhir itu suara Nara terdengar sedih.
"Nara, kalau kamu memang gadis yang baik dan kamu merasa jika Jaden tidak mencintai kamu, kenapa kamu tidak pergi saja dari sini dan biarkan aku yang akan membuat Jaden bisa jatuh cinta denganku."
"Maksud, Mba Sandra?"
"Kamu pergi dari rumah ini dan biar aku yang mengurus semuanya. Jika tidak ada kamu, aku bisa lebih dekat dengan Jaden, dan perlahan dia akan jatuh cinta denganku." Sandra memegang tangan Nara penuh harap.
"Aku pergi dari rumah ini? Tapi itu tidak mungkin, Mba."
"Bisa. Katakan jika kamu sudah tidak ingin di sini lagi, atau katakan kamu ingin mencari pekerjaan yang lebih baik untuk masa depanmu."
"Tapi--?" Nara tidak bisa mengatakan tentang dirinya yang sebenarnya telah diculik Jaden karena untuk membayar hutang-hutang pamannya. Nara sudah menjadi milik Jaden sejak pria itu membelinya. Apa lagi sekarang Nara sudah nyaman dan tidak ingin jauh dari pria yang kadang menyakitinya dengan kata-katanya.
"Nara tidak akan pernah keluar dari sini walaupun dia menginginkannya," suara bariton terdengar di depan pintu. Seketika dua orang yang duduk di atas tempat tidur itu menoleh.
"Wanita licik! Beraninya kamu membuat masalah denganku."
Nara terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Jaden. Nara dan Sandra berdiri dari tempatnya.
"Tuan, ada apa sebenarnya?" Nara bingung dan melihat pada Sandra.
"Wanita licik itu lah yang menyebabkan semua masalah yang terjadi kepada kamu, Nara."
"Maksudnya?" Nara ini ora paham aja.
"Roy dan para penculik kecil itu adalah orang yang dia bayar untuk mencelakai kamu."
"Tuan Jaden, apa yang kamu katakan? Jangan menuduhku seperti itu."
__ADS_1
Jaden berjalan perlahan mendekat pada Sandra. Dia dengan kasarnya mencengkeram dagu Sandra sampai wanita itu meringis kesakitan.
"Sakit, Tuan," rintihannya.
"Tuan, jangan kasar seperti itu. Lepaskan Mba Sandra." Nara berusaha membuat tangan Jaden terlepas dari tangan Sandra, tapi pria itu malah lebih kuat mencengkeram dagu Sandra.
"Aku sudah tau semuanya tentang kamu, Sandra. Jika tau dari awal kamu yang sudah menyuruh Roy untuk menodai Nara, aku bunuh sekalian kamu waktu itu."
Nara yang mendengar hal itu melepaskan tangan Jaden, dia terlihat shock dengan apa yang Jaden katakan.
"Jadi, Mas Roy memang disuruh oleh Mba Sandra untuk menodaiku?" tanya Nara tidak percaya.
"Iya, Nara. Wanita licik ini yang ada dibalik semua kejadian ini, dan para penculik tidak tau diri itu adalah orang yang disuruh oleh Sandra untuk menyekap kamu dan menjual kamu keluar negeri agar kamu tidak kembali ke rumah ini."
"Kenapa Mba tega melakukan semua ini?" Nara melihat pada Sandra.
Jaden melepaskan cengkeramannya. "Jaden, aku tidak melakukan hal itu. Kamu pasti salah sangka. Aku tidak mengenal Roy dan tidak pernah menyuruhnya." Sandra masih tetap mengelak.
Jaden malah menyeringai devil. "Apa perlu aku bawa para penculik itu dan mengatakan dihadapan kamu siapa yang menyuruh mereka?"
"Apa maksud kamu? Aku tidak mengenal mereka."
Plak ...
Nara mendelik melihat Jaden menampar Mba Sandra sampai wanita itu terjungkal ke lantai
"Tuan, kenapa Tuan tega denganku? Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu seperti ini padaku."
"Cinta? Kamu sebut semua yang kamu lakukan pada Nara hanya karena kamu mencintaiku? Kamu wanita yang sakit jiwa. Bagaimana jika benar Roy sampai menodai Nara. Hidup Nara tidak akan bahagia. Roy pria sakit jiwa, dan kamu tega memberikan Nara padanya, bahkan kamu suruh penculik itu untuk menjual Nara agar bisa dijadikan wanita penghibur di luar negeri. Kamu itu juga seorang wanita, Sandra "
Nara menangis mendengar semua itu. Dia tidak menyangka jika orang yang selama ini dia kira sangat baik, dan lembut ternyata seorang monster berwujud wanita.
Sandra berdiri dari tempatnya. Jaden mengeluarkan sesuatu dari belakang.
__ADS_1
"Sekarang kamu minta aku habisi dengan cara seperti apa?" Jaden menodongkan pistolnya tepat di depan kepala Sandra.
Nara yang melihat hal itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.