Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nara Hamil


__ADS_3

Jaden seketika menghentikan gerakannya saat mendengar kalimat singkat yang tidak akan Jaden sangka.


Jaden menarik wajahnya dan sekarang dia menatap Nara dengan tatapan bingung.


"Nara, apa kamu dan Jacob sudah--."


Nara tau arah bicara Jaden ke mana. Dia hanya menatap Jaden nanar. "Apa itu bayi Jacob?"


Seketika air mata Nara jatuh menetes, Nara tidak menyangka jika Jaden akan mengatakan hal itu


"Andai bayi ini milik Jacob, aku tidak akan mengatakan hal ini padamu." Nara mengusap air matanya berjalan keluar dari ruangan itu


"Dasar Jaden bodoh! Kenapa kamu mengatakan hal itu? Bayi itu milik kamu. Nara bukan gadis murahan yang begitu mudah menyerahkan dirinya untuk pria lain. Bayi itu milik kamu, Jaden. Milik kamu." Jaden seolah marah dengan dirinya sendiri.


Jaden beranjak dari tempatnya dan hendak menyusul Nara, tapi langkahnya terhenti saat di depannya berdiri sosok pria yang sudah membesarkan dia.


"Kamu mau ke mana?"


"Ayah," ucap Jaden pelan.


"Panggil aku tuan Carlos karena kamu bukan putraku. Jika kamu putraku kamu akan mendengarkan apa kataku, Jaden," ucapnya dengan nada tinggi dan terkesan marah.


"Aku punya alasan datang ke sini. Aku juga salah satu penyumbang dana untuk rumah sakit kanker anak-anak, dan waktu itu aku mendapat undangan dari mama Miranda.


" Jangan membuat alasan. Kalau kamu datang karena undangan. Lantas, kenapa kamu diam-diam menemui Nara? Nara akan segera menikah dengan Jacob dan kamu harus menerima hal itu."


Jaden seketika menatap tajam pada Carlos.


"Nara tidak mencintai Jacob dan dia tidak akan bisa menikah dengan Jacob."


"Kenapa? Kamu akan berubah pikiran dan tidak ingin berkorban demi adik kamu. Kamu jangan menjadi kakak yang kejam, Jaden."


"Nara tidak bisa menikah dengan Jacob karena Nara mengandung anakku."

__ADS_1


Plak!


Tamparan keras mendarat tepat di pipi Jaden. "Kamu benar-benar orang yang tidak tau terima kasih. Jacob tidak pernah berbuat buruk sama kamu, tapi kenapa kamu menyakitinya?"


"Aku sama sekali tidak pernah ingin menyakiti Jacob. Aku menyayanginya seperti adikku sendiri. Bahkan saat dia akan menikah dengan Mauren, aku tidak menghalanginya, tapi kali ini aku tidak bisa tinggal diam karena aku menginginkan Nara dan bayiku."


"Bayimu tidak akan dilahirkan oleh Nara. Aku akan menyingkirkan bayi itu jika bayi itu menjadi penghalang antara Nara dan Jacob."


"Tuan Carlos!" Jaden menarik dengan kasar kra baju ayah Jacob. Tatapannya seolah ingin membunuh pria yang baru saja berencana menghabisi anaknya.


"Sudah berani kamu dengan ayahmu?" bentaknya.


"Ayahku? Seorang ayah tidak akan mengorbankan kebahagiaan salah satu putranya, dan tidak akan membunuh bayi dari putranya."


Jaden melepaskan tangannya dan pergi dari sana.


Carlos mengepalkan tangannya erat dan mendengus marah. "Kamu hanya anak angkat yang diangkat oleh ayahku, dan aku sudah sangat baik membesarkan kamu. Nara adalah kebahagian Jacob dan kamu tidak boleh merebutnya."


Carlos ingat saat dulu pertama kali Jacob bangun dari komanya dan mengetahui kakinya lumpuh karena kecelakaan yang dia alami dengan Mauren. Mauren baik-baik saja, tapi tidak dengan Jacob.


"Aku ingin mati saja, Ma. Untuk apa aku hidup jika aku akan selamanya duduk di kursi terkutuk ini."


Jacob mengambil racun dan akan menenggaknya. Jika ayahnya tidak mengetahui apa yang dilakukan Jacob, pasti Carlos akan kehilangan anak kesayangannya itu.


Jaden mengedarkan pandangannya mencari di mana Nara berada. Tak lama kedua matanya menemukan gadis yang sedang dia cari. Jaden terpaku di tempatnya melihat di mana Nara dan Jacob berbicara dengan sangat mesra. Tangan Jacob mengusap pipi Nara yang terlihat habis menangis.


"Aku harus bicara dengan Nara. Aku akan katakan tentang kebohonganku mengenai Cathy. Cathy bukan siapa-siapa bagiku."


Acara hari itu di mulai, ada sesi acara di mana ketua Yayasan amal itu akan melelang barang dan uangnya akan di sumbangkan untuk acara santunan pada anak-anak yang kurang mampu.


Harga dibuka dengan nominal satu juta, dan mereka akan melelang sebuah tas rajutan yang dibuat oleh salah satu pasien yang dirawat di rumah sakit kanker anak yang ada di Kanada.


Mama Miranda memberikan harga lima juta untuk tas itu. Kemudian Jacob pun ikut memberikan harga delapan juta untuk tas itu."

__ADS_1


Jaden dari kejauhan melihat Nara tersenyum pada Jacob. "Andai aku memiliki uang, pasti aku beli dengan harga yang mahal tas itu, Jacob"


"Kamu mau membuka harga berapa, Nara?"


Nara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak berani memberikan harga Jacob. Aku tidak memiliki uang sebanyak itu."


"Sepuluh juta," ucap Miranda.


"Mama, kenapa tidak mau mengalah pada putranya?" ucap Jacob.


"Ayolah, Nak. Biarkan mama mencari pahala. Lagi pula mama inikan yang notabennya orang penting dalam acara ini tidak bisa membeli tas rajutan itu."


"Baiklah Mama, aku mengalah."


"Lima puluh juta. Aku mau tas itu," ucap seseorang dari tempatnya dan berhasil membuat semua yang ada di sana melihat ke arahnya.


"Kakak? Kakak ada di sini?"


"Jaden? Kenapa dia mudah sekali memberikan harga sebuah tas rajutan seperti itu? Anak itu! Aku jadi tidak bisa menunjukkan diriku."


Nara melihat ke arah Jaden yang duduk menatap ke depan panggung.


Jacob pun melihat ke arah Jaden kemudian pada Nara. "Nara, kamu baik-baik saja?"


Nara kaget karena tangan Jacob menggenggam tangannya. "Aku baik-baik saja."


"Ma, kapan Jaden datang?" tanya Jacob.


"Mama juga tidak tau, dia belum sama sekali menemui kita di rumah. Mama memang mengirim undangan untuk acara ini karena Jaden salah satu donatur terbesar kita."


"Pantas saja dia ada di sini. Jaden itu aneh. Dia tidak suka dengan anak-anak, tapi mau ikut menyumbang untuk rumah sakit kanker anak-anak."


Nara juga tau jika Jaden memang tidak menyukai anak-anak. Bahkan dulu saat dia bertanya bagaimana jika dia hamil. Jaden dengan entengnya akan membuat bayi itu tidak sampai lahir karena jika bayi itu lahir akan membuat hidupnya semakin rumit.

__ADS_1


Nara memegang perutnya yang masih datar. Dia tau Jaden pasti tidak menginginkan bayi dalam perutnya padahal itu adalah anaknya.


Si ketua pelelang mengetuk palu tanda jika Jaden memenangkan penjualan tas itu, dan uang dari hasil penjualan itu akan digunakan untuk pengobatan anak pembuat tas itu dan juga anak-anak yang tidak mampu.


__ADS_2