Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Cara Minum Obat


__ADS_3

"Apa? Kakakku kecelakaan?"


Terdengar suara barang jatuh dari arah belakang, ternyata itu barang belanjaan Nara yang terjatuh karena dia kaget mendengar Jaden kecelakaan.


"Tuan JL kecelakaan?" Nara tampak berjalan ke depan Jacob dan melihat Jacob dengan mata nanar.


"Iya, Kakakku mengalami kecelakaan."


Jacob mengatakan akan segera ke rumah sakit di mana Jaden dirawat.


"Jacob, apa aku boleh ikut ke rumah sakit?"


"Kamu khawatir sekali dengan Jaden? Oh! Tentu saja kamu khawatir, bagaimanapun juga kamu pernah bekerja dengan kakakku."


Nara mengangguk. "Bagaimanapun juga Tuan JL sangat baik padaku."


"Kalau begitu kita pergi sekarang saja. Aku akan menghubungi kedua orang tuaku agar menyusul ke sana."


"Iya." Nara mengambil barang belanjaannya dan mereka segera ke rumah sakit.


Di dalam mobil Nara tampak gelisah, tapi dia mencoba menyembunyikan. "Kakakku kenapa selalu tidak bisa berhati-hati, dia suka sekali membuat keluarga menjadi cemas," gerutu Jacob.


Nara dalam hatinya hanya berharap jika Jaden keadaannya baik-baik saja. Jacob menghubungi kedua orang tuanya dan mereka akan segera ke sana.


Tidak lama mereka sampai di rumah sakit dan segera menuju kamar Jaden. Jantung Nara sudah berdetak tidak karuan membayangkan apa yang terjadi pada pria yang masih dia cintai.


Saat pintu di buka, Nara dan Jacob diperlihatkan dua orang yang saling memandang. Di sana ternyata sudah ada Cathy yang terlihat seperti sedang memeluk Jaden.


"Kalian?" Jaden agak terkejut melihat Nara dan Jacob ada di sana.


"Kakak, bagaimana keadaan kamu?" tanya Jacob yang didorong masuk oleh Nara.


"Dia baik-baik saja setelah tadi sempat tidak sadarkan diri Jacob," jelas Cathy sambil membetulkan lagi bantal untuk Jaden bersandar.


Jaden mengangkat tangan satunya dan memeluk pinggang Cathy. Wajah pria itu mendekat pada telinga Cathy.


"Bantu aku bersandiwara," bisiknya lirih.


Cathy menarik wajahnya dan menatap Jaden dengan seringai manis. "Kamu hati-hati kalau mengemudi mobil, Sayang?"


"Lain kali aku akan berhati-hati, Cathy. Tadi aku kira jalanan sepi, jadi aku coba mempercepat lajunya, tapi ternyata ada motor putar balik."


"Lalu, bagaimana keadaan motor itu, Kak?"


"Apa Tuan menabraknya lagi?" tanya Nara cepat.

__ADS_1


Kedua pasang mata itu seketika saling memandang satu sama lain dengan lekat. "Aku bisa menghindarinya, Nara. Orang itu baik-baik saja."


"Syukur kalau begitu, jadi Tuan tidak akan membuat orang lain menderita lagi."


"Kalian ke sini untuk menjenguk kekasihku, Kan? Kalau iya aku ucapkan terima kasih." Tangan wanita terlihat datar itu menjulur memeluk pundak Jaden.


Nara memperhatikan tangan wanita itu dan ada rasa sakit dan kecewa dihatinya.


"Selamat siang, Tuan Luther. Saatnya Anda minum obat ini dulu sebelum makan siang Anda datang." Seorang perawat dengan membawa obat di tangannya.


"Oh My God!" Jaden menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidurnya.


Nara memperhatikan Jaden. Dia sudah tau kenapa ekspresi Jaden seperti itu saat perawat itu membawakan obat untuknya.


"Jaden, ayo minum obat kamu dulu," Cathy menyerahkan obat yang baru saja diambil dari tangan perawat tadi.


"Buang saja, aku tidak mau minum obat," ucap Jaden tegas dan santai.


"Apa? Kenapa tidak mau minum obat kamu?"


"Cathy, aku sudah baik-baik saja dan tidak perlu minum obat itu."


"Oh God! Tidak perlu bagaimana? Perawat itu membawakan obat itu buat kamu agar luka kamu segera sembuh, dan kamu malah seenaknya bilang untuk membuangnya. Kamu ini menyebalkan sekali!"


Jaden seketika menurunkan kakinya dan hendak beranjak dari tempat tidurnya.


Nara yang reflek panik hendak menghampiri Jaden, tapi langkahnya berhenti saat Cathy sudah lebih dulu menahan tubuh Jaden.


"Jaden! Kamu jangan berbuat seenaknya. Kalau ada apa-apa sama kamu, bagaimana dengan diriku?" kata Cathy marah.


Jaden seketika menghentikan dirinya yang ingin turun dari tempat tidur. "Ya sudah, aku akan menurut, tapi jangan memaksaku minum obat itu." Jaden menatap tajam pada Cathy.


"Kenapa kamu takut sekali minum obat? Tinggal masukkan mulut dan selesai."


Jaden tidak menjawab, dia hanya terdiam. "Kak, kenapa tidak mau minum obat? Kamu ini memang suka berbuat semaumu."


"Aku baik-baik saja. Bisa tidak kalian tidak perlu terlalu mempermasalahkan hal ini?"


"Terserah!" Cathy meletakkan obat Jaden tepat di samping nakas ranjang Jaden.


Tidak lama kedua orang tua Jacob datang mereka bertanya tentang kecelakaan yang dialami oleh Jaden.


"Kamu itu lain kali hati-hati Jaden. Kamu jangan membahayakan dirimu dan orang lain lagi."


"Aku tau, Yah."

__ADS_1


"Mama dan ayah akan menemui dokter dan bertanya tentang keadaan kamu. Kita akan mengurus semuanya, dan kapan kamu bisa pulang."


Kedua orang tua Jaden pergi ke ruang dokter untuk bicara tentang keadaan Jaden.


"Kalau begitu aku mau ke kantin dulu. Aku butuh kopi panas untuk menenangkan diriku untuk menghadapi kekasihku yang menyebalkan ini!" Cathy mendelik pada Jaden.


"Cathy, aku ikut denganmu. Bolehkan? Nara, apa kamu juga butuh minuman?"


Nara menggeleng. "Aku mau ke kamar mandi nanti akan menyusul kalian."


"Kakak istirahat saja dulu kalau begitu."


"Iya, kalian pergilah."


Cathy mendorong Jacob keluar dan Nara berdiri di sana menatap Jaden yang juga melihatnya datar.


Pyar ...


Nara kaget mendengar suara benda pecah, dia menoleh dan ternyata pria dingin itu sepertinya sengaja menjatuhkan gelas airnya untuk menarik perhatian Nara.


Nara terdiam di tempatnya dan tidak lama berjalan perlahan mendekat pada ranjang Jaden. Tangan Nara mengambil obat milik Jaden dan memasukkannya pada mulutnya kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Jaden. Nara meminumkan obat pada Jaden seperti cara biasanya.


"Jadi seperti itu caranya supaya Jaden mau minum obat."


Cathy berjalan pergi dari kamar Jaden dan menemui Jacob yang sudah ada di lorong menuju kantin rumah sakit.


"Cathy, sudah kamu ambil ponsel kamu?"


"Tidak jadi. Aku lupa baterai ponselku juga sudah habis, jadi percuma saja aku bawa. Kita ke kantin sekarang saja." Cathy mendorong kursi roda Jacob.


Jaden masih menikmati ciumannya dengan Nara sampai akhirnya gadis itu menjauhkan bibirnya dari bibir Jaden.


"Kenapa menciumku?"


"Aku tidak mau Tuan JL mati begitu cepat karena tidak mau meminum obat Tuan."


Senyum smirk itu terlukis dari bibir Jaden. "Kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak akan mati dengan mudah."


"Bagus kalau begitu, jadi kekasih Tuan tidak akan bersedih karena kehilangan orang yang dia cintai."


Jaden menarik tangan Nara mendekat ke arahnya. Sekarang Nara memandang dengan tatapan datar.


"Ciuman itu apa karena kamu ingin aku tetap hidup agar bisa balas dendam denganku atau tidak mau Cathy kehilangan aku?"


"Keduanya. Andai aku bisa balas dendam kepada orang yang sudah membuat masa depanku menderita dan sudah membohongiku, tapi--." Nara melepaskan tangan Jaden dan berjalan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2