
Nara melihat dari arah jendela yang ada di dapur dan memang di luar tampak suasana agak gelap. Nara menutup semua jendela dan dia segera membersihkan peralatan makan.
Nara kembali ke dalam kamar Jaden. Dia melihat pria itu masih duduk bersandar dengan tegapnya dan tidak mengurangi aura tampan yang dia miliki.
"Aku kira kamu tidak akan masuk ke sini lagi?"
Nara berjalan perlahan mendekat ke arah Jaden. Nara sebenarnya juga bingung dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba suara petir kembali terdengar dengan begitu kerasnya dan sekali lagi membuat Nara meloncat kaget. Nara seketika naik ke atas ranjang Jaden. Jaden yang dari tadi duduk di atas ranjang hanya bersikap datar saja.
"Aku ke sini karena aku takut Tuan membutuhkan bantuanku, apalagi Tuan tidak bisa turun dari ranjang." Bohongnya Nara.
"Alasan. Kamu bilang saja kalau takut dengan suara petir itu." Nara hanya terdiam. "Sekarang ambilkan aku baju untuk ganti. Baju ini tidak nyaman dan tulangku malah sakit terkena udara yang mulai dingin."
"Iya, udaranya mulai dingin, aku matikan saja ACnya kalau begitu." Nara turun dari ranjang Jaden dan mematikan Ac kamar Jaden. Nara masuk ke dalam walk in closet dan mencari baju hangat yang bisa digunakan oleh Jaden.
__ADS_1
"Ini baju kamu." Nara menyodorkan sweater berwarna hitam pada Jaden.
Pria itu hanya melihati bajunya. "Pakaikan bajunya padaku," ucapnya tegas.
Nara kali ini tidak membantah karena dia tau Jaden pasti tidak akan bisa banyak bergerak. Nara melepaskan satu persatu kancing kemeja Jaden. Indra penciuman Nara sudah biasa menangkap aroma segar dari tubuh Jaden, tapi dia hanya bisa mengatakan dalam hati jika pria di depannya ini memiliki aroma parfum yang Nara suka dengan baunya.
"Angkat tangan kamu perlahan ke atas." Nara membantu Jaden mengangkat kedua tangannya dan Nara melihat wajah Jaden meringis menahan sakit. "Apa sangat sakit?" tanya Nara.
"Menurutmu?"
Nara sekarang bingung. Apa dia harus mengganti celana panjang Jaden juga?
"Mana celana panjangku? Aku juga mau ganti celana karena ini agak kotor karena terjatuh tadi."
"Sebentar," ucap Nara sambil berlalu kembali ke dalam walk in closet. "Huft! Kenapa nasibku begini amat. Mataku, bibirku bahkan tubuhku sudah ternoda dengan pria itu. Kasihan sekali calon suamiku kelak," Nara mengomel sendirian.
__ADS_1
Nara memakaikan Jaden celana training berwarna hitam juga, dan Nara kali ini memakaikan dengan menutup kedua matanya.
"Kamu tidak mau ganti baju? Baju kamu kotor."
Salah satu alis Nara seketika naik. "Memangnya aku mau ganti pakai baju apa? Di lemari aku saja hanya ada tiga baju dan itu Tuan tau sendiri baju apa saja?"
Pakai saja baju yang ada di lemariku yang menurut kamu bisa membuat tubuh kamu hangat. Untuk sementara pakai bajuku dulu. Nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan mengajak kamu berbelanja."
Mulut Nara langsung menganga mendengar apa yang baru saja Jaden katakan. "Apa aku tidak salah dengar? Tuan bilang mau mengajakku berbelanja? Serius?" tanya Nara seolah ingin mendapat kepastian.
"Tentu saja. Ada yang salah?"
Nara terdiam sejenak, dia berpikir akan suatu hal. "Apa Tuan tidak takut jika nanti aku bisa berteriak minta tolong pada orang-orang di sana dan mengatakan jika aku diculik sebenarnya?"
Jaden memberikan senyum miringnya pada Nara. Senyuman yang sebenarnya manis, tapi Nara melihatnya seolah senyuman seorang iblis yang menemukan mangsanya.
__ADS_1