Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Jalan-jalan Berdua


__ADS_3

"Dimas aku minta maaf sudah membasahi baju kamu dengan air mataku."


"Tidak apa, Nona. Apa sekarang hati Nona lebih baik?"


Denna mengangguk dan dia melepaskan pelukannya dari Dimas.


Gadis itu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sahabatnya. "Halo, Denna, ada apa?"


Denna mendengar suara bising di balik telepon. "Kamu di mana? Kenapa terdengar ramai sekali?"


"Aku sedang berada di rumah keluarga besar Mas Rio. Ada apa kamu menghubungiku?"


"Oh! Jadi kamu sedang ada acara? Sebenarnya aku mau mengajak kamu ke toko buku yang ada di Mall dekat kampus kita kelak."


"Maaf, Denna, tapi aku sekarang sedang ada di rumah keluarga Mas Rio. Bagaimana kalau besok lusa saja setelah kita dari sekolah?"


Denna tidak menjawab, dia hanya diam saja. Denna merasa dia dan Diaz sudah tidak seperti dulu, tapi Dia tidak boleh egois karena memang suatu hari nanti dia dan Diaz akan memiliki kehidupan masing-masing bersama keluarga kecil mereka.


"Ya sudah kalau begitu."


"Denna, kamu marah ya sama aku? Kamu kenapa? Apa ada masalah?"


"Tidak ada apa-apa Diaz. Ya sudah kalau begitu selamat bersenang-senang dan semoga kamu bisa akrab dengan keluarga Mas Rio."


"Denna, kamu besok lusa masuk sekolah, Kan?"


"Iya, aku masuk. Kita bertemu besok lusa di sekolah."


Mereka mengakhiri panggilannya. Tidak lama Dimas mendengar suara aneh dari dalam perut Denna.


"Nona belum makan?"


Denna yang malu karena suara perutnya langsung meringis aneh.


"Aku memang belum sarapan tadi. Em! Dimas. Aku mau minta tolong sama kamu. Apa boleh?"


"Tentu saja boleh, Nona, itu memang tugas saya mengawal Nona saat di luar."


"Antarkan aku ke kantor ayahku. Aku ingin bicara dengan ayahku."


"Baik, Nona."


Dimas duduk di kursi kemudi dan Denna di sampingnya. Dimas heran, kenapa tiba-tiba Denna ingin ke kantor Tuan Jaden? Apa ada hubungannya dengan tangisan Denna tadi?

__ADS_1


"Dimas, aku salah tidak jika ikut campur dengan masalah yang sedang terjadi pada ayah dan mamaku?" tanya Denna.


" Sebenarnya tidak salah, tapi alangkah lebih baik jika kita membiarkan mereka menyelesaikan urusannya sendiri karena mereka cukup dewasa untuk menyelesaikannya."


Denna tampak terdiam sejenak. "Tapi aku takut jika masalah ini membuat kedua orang tuaku berpisah, Dimas."


"Jangan pernah membayangkan hal yang belum terjadi, apa lagi hal yang negatif. Kamu bisa ketakutan sendiri."


Denna mendengarkan dengan fokus apa yang dikatakan oleh Dimas. "Ya sudah, kalau begitu kita tidak jadi ke kantor ayahku. Kita pergi saja ke toko buku yang ada di mall dekat kampus kedokteran Jalan Sahabat.


"Baik, Nona Denna.


Di dalam kantornya Jaden tampak duduk melamun melihat ke arah luar jendela.


Pintu diketuk oleh seseorang di luar dan belum mendapat jawaban, orang itu masuk ke dalam ruangan Jaden. "Tuan Jaden, saya ingin bicara dengan Tuan Jaden."


"Pasti kamu mau bertanya tentang pertengkaranku dengan Nara, Leo?"


"Iya, Tuan. Apa kalian bertengkar karena kerja sama dengan Mauren?"


Pria dingin itu membalikkan badannya dan sekarang dia melihat tegas ke arah Leo.


"Nara tidak ingin aku menerima kerja sama dengan Mauren. Nara berpikir jika Mauren pasti mempunyai rencana akan hal ini."


"Tapi kerja sama ini sangat penting untuk perusahaan ini, Leo. Kamu tau jika semua usaha hitamku sudah perlahan aku tinggalkan dan sekarang semuanya hampir aku mulai dari nol. Milik Jacob yang memang diberikan kakek padaku aku kembalikan walaupun aku tau, sekarang atau sampai kapanpun Jacob tidak akan bisa mengurusnya. Aku juga ingin benar-benar meninggalkan dunia hitam ini. Aku ingin Denna bangga memiliki ayah yang baik dalam contoh sebenarnya, bukan ayah seorang mafia yang kejam dan memiliki catatan buruk."


"Saya paham maksud Tuan Jaden. Jika menjadi Tuan Jaden, mungkin saya juga akan berpikiran seperti itu."


"Leo, aku mencoba meyakinkan Nara tentang semua ini. Aku sangat mencintai Nara dan tidak mungkin aku akan bermain api dengan Mauren."


"Saya tau jika Tuan Jaden sangat mencintai Nara. Saya kemarin juga sudah menyelidiki tentang kehidupan Mauren dan apa yang di katakan dia kemarin adalah benar. Bisa saja Mauren memang sudah berubah sadar tidak mencoba menginginkan Tuan."


"Aku tidak peduli walaupun dia masih menginginkan aku karena dia tidak akan mendapatkan diriku sampai kapanpun. Aku memikirkan kerja sama ini saja yang nantinya bisa memperbesar bisnisku dan aku bisa mensejahterakan terus para karyawanku. Itu yang terpenting."


"Coba nanti saya akan bicara pads Nara. Nara wanita yang baik dan dia pasti akan bisa memahami.


"Iya, Leo, kamu sudah sangat dipercaya oleh Nara."


"Saya melakukan semua ini untuk Denna."


Kedua alias Jaden mengkerut mendengar kalimat Leo. "Apa maksud kamu, Leo?"


"Denna menangis melihat kalian bertengkar, dan Tuan tau apa yang Denna katakan pada saya?"

__ADS_1


"Apa, Leo?"


"Denna mengatakan jika dia takut kalau kedua orang tuanya bertengkar, maka nasibnya akan seperti Diaz-- sahabatnya yang kedua orang tuanya berpisah sehingga hidupnya berantakan dan dia kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya," terang Leo panjang.


"Kenapa dia sampai berpikiran sejauh itu?"


"Karena temannya mengalami nasib yang tidak baik dengan keluarganya. Denna juga masih sangat mudah."


"Kasihan putriku. Aku akan bicara hal ini pada Nara. Denna memang tidak pernah melihat aku ribut dengan Nara sampai seperti ini."


"Sebentar lagi dia juga akan berulang tahun. Apa Tuan Jaden ingat?"


"Oh God! Kenapa aku sampai melupakan jika sebentar lagi Denna akan berulang tahun?" Jaden memegangi kepalanya.


"Tuan harus lebih tenang dan fokus."


"Kenapa kamu bisa lebih ingat ulang tahun putriku daripada aku? Kamu paman terbaik."


"Saya sudah menganggap Denna seperti putri saya sendiri. Bahkan dari kecil saya sangat menyayanginya."


"Jangan-jangan kamu ayah Denna?" Jaden terkekeh kecil.


"Kalau Denna putri saya, saya tidak akan membiarkan Nara bersama Tuan Jaden." Mereka berdua malah bercanda.


Di toko buku yang lumayan besar karena tidak hanya buku yang mereka jual, tapi juga perlengkapan sekolah yang lengkap. Denna berada di sana dan di belakangnya Dimas setia mengikutinya.


"Mana bukunya? Katanya di sini lengkap?" Denna mengedarkan matanya membaca satu persatu judul buku pada rak buku bagian ilmu kedokteran.


"Nona, saya permisi sebentar mau ke kamar mandi. Apa Nona Denna tidak apa saya tinggal sendiri?"


"Tidak apa-apa, kamu pergilah ke kamar mandi. Aku juga masih mencari buku di sini."


Dimas beranjak pergi dari sana. Beberapa menit kemudian Dimas kembali dan melihat Denna yang sedang berada di atas tangga kecil dan ada beberapa buku di tangannya.


"Nona, Nona Denna sedang apa?"


"Mencari buku, Dimas."


"Kenapa tidak meminta tolong saya saja? Bagaimana kalau nanti Nona Denna jatuh?"


"Aku tidak mungkin jatuh, Dimas. Aku--."


Bruk!

__ADS_1


__ADS_2