Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Berkenalan dengan Seseorang


__ADS_3

Nara keluar dari dalam kamar Jaden, dan entah kenapa dia ingin tersenyum.


Nara berada di kamar mandi belakang dan mulai melakukan pekerjaannya, yaitu mencuci baju karena besok pagi dia masih ada pekerjaan lainnya.


Nara berdiri bersandar pada mesin cuci yang sedang berputar sambil melamun. "Nenek Tuan JL kelihatannya orang yang sangat baik, tapi kenapa beliau punya cucu yang seperti tuan dingin itu?" celotehnya.


Nara mengambil baju yang sekiranya tidak bisa dia cuci dengan mesin dan dia mencucinya dengan tangan.


Nara malam itu malah bermain-main dengan busa sabun cuci, dan dia terlihat bahagia. Nara tidak sadar jika apa yang dia lakukan di perhatikan oleh seseorang di sana.


Prang ...


Terdengar suara benda jatuh di dekat dapur yang sontak saja membuat Nara kaget. "Siapa itu?" tanya Nara seketika dia bangkit berdiri dan memeriksa apa tadi yang jatuh.


"Nara, aku minta maaf karena aku tidak sengaja menjatuhkan benda ini."


Nara melihat seorang pria dengan pakai hitamnya dan Nara tau dia adalah salah satu pengawal Jaden yang usianya hampir seumuran mas Leo.


"Maaf, kamu mencari apa? Bukannya di rumah samping sudah disediakan berbagai keperluan kalian?"


"Maaf, Nara. Aku ingin membuat teh hangat karena perutku sedang tidak enak, tapi gula di rumah samping habis, dan aku mau mengambil gula di sini."


"Oh ... habis. Sebentar ya?"


Nara membuka lemari di dapur dan mencoba meraih gula yang ada di lemari atas. Nara tidak tau jika dari belakang pria itu memperhatikan Nara dari tadi.


Pria itu melihat Nara dari atas sampai bawah. "Ini gulanya, kamu bawa semua saja sebagai stok di sana." Nara memberikan gula yang masih di dalam kemasan besar.


"Terima kasih, Nara. Nara, kenapa kamu belum tidur?"


"Aku biasa mencuci baju malam-malam begini karena sudah terbiasa, jadi bisa aku jemur dan kering paginya."


"Apa mau aku bantu?"


"Tidak perlu, aku bisa mengerjakannya sendiri. Oh ya! Tunggu sebentar." Nara berjalan mencari cangkir dan mencari sesuatu di dalam kulkas.


Pria itu memperhatikan Nara yang sibuk dengan urusannya. Tidak lama Nara memberikan minuman pada pria itu.


"Ini apa, Nara?" Pria itu menerima cangkir yang berisi minuman dari Nara.


"Aku buatkan jahe hangat, katanya perut kamu tidak enak. Ini juga bisa membuat badan hangat dan nanti kamu akan baikkan."

__ADS_1


Pria itu tersenyum manis pada Nara. "Terima kasih, Nara. Aku akan meminumnya di luar. Oh ya! Apa benar kamu tidak membutuhkan bantuanku?"


Nara menggeleng. "Terima kasih, tapi aku bisa mengerjakannya sendiri. Kamu beristirahatlah."


"Terima kasih sekali lagi."


Pria itu berlalu pergi dari sana. Nara lupa tadi tidak menanyakan nama dari pria itu. Nara kembali ke dalam kamar mandi untuk meneruskan pekerjaannya.


***


Keesokan harinya, Nara sudah selesai dengan masakannya dan dia bersiap membangunkan tuan JLnya yang pasti masih tidur.


Belum Nara mengetuk pintu, Nara mendengar ada suara Mba Sandra di dalam kamar Jaden. Nara mengurungkan niatnya dan tidak mau mengganggu mereka.


Nara memberikan sarapan pagi untuk para penjaga di rumah samping. "Kamu! Bagaimana? Apa badan kamu sudah enakan?"


"Sudah, kemarin aku minta untuk libur berjaga dan aku dapat tidur dengan nyenyak setelah minum jahe hangat buatan kamu."


"Syukur kalau begitu. Lain kali kalau tidak enak badan jangan sungkan-sungkan meminta aku membuatkan jahe hangat. Aku akan dengan senang hati membuatkannya, lainnya juga pasti akan aku buatkan."


"Terima kasih, Nara."


"Namaku Roy."


"Usia kamu pasti seumuran Mas Leo. Aku panggil Mas Roy boleh?"


"Panggil Roy saja tidak apa-apa, Nara."


"Jangan, akan lebih sopan memanggil orang yang lebih tua dari kita dengan sebutan yang sopan."


Roy menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau itu mau kamu. Aku senang saja."


"Mas Roy, aku permisi dulu mau melihat ke dalam rumah utama." Nara berjalan pergi dari sana.


Sampai di rumah utama, Nara melihat tuan Jaden dan mba Sandra sedang makan pagi bersama.


Nara memilih pura-pura tidak melihat saja, dan dia berjalan menuju dapur.


"Nara," panggil Jaden yang membuat Nara seketika menghentikan langkahnya.


Dengan gerakan patah-patah, Nara menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

__ADS_1


"Duduk di sini dan makan bersamaku," titah Jaden.


"Tapi aku masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan, Tuan." Nara terpaksa berbohong


"Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan? Atau kamu mau di hukum? Duduk!"


"Iya, Tuan." Nara berjalan perlahan dan menarik kursi di samping kursi mba Sandra.


"Duduk di sebelahku, Nara. Di sini masih ada kursi kosong. Kenapa kamu malah duduk di sebelah Sandra?" Kedua alis Jaden sudah berkerut saja.


"Di sini juga kursinya kosong," jawab Nara.


"Apa kamu tidak bisa kalau tidak menjawab kata-kataku?" Wajah Jaden semakin dibuat kesal saja sama Nara.


"Iya, Tuan," jawab Nara lirih dan berjalan menuju kursi di sebelah Jaden.


Posisi Jaden sekarang diapit oleh dua wanita cantik, tapi satunya berhati iblis.


Nara malah sekarang melihat ke arah mba Sandra dan Jaden secara bergantian. "Makan, Nara. Kamu duduk di sini untuk makan pagi, bukan melihatku dan Sandra."


"Iya. Kenapa Tuan ini cerewet sekali," gerutu Nara."


"Kamu akan aku hukum karena masih saja suka menggerutu."


"Ma-maaf, Tuan." Nara sontak saja takut mendengar ucapan Jaden.


Sandra tampak tersenyum miring mendengar jika Jaden akan memberi hukuman Nara. Sandra kan gak tau hukuman apa yang biasa Jaden berikan pada Nara. Kalau Sandra tau, bisa-bisa pengen dia.


Mereka bertiga makan bersama. Di meja makan Sandra tampak banyak mencuri perhatian Jaden, dari menawari mengambilkan makanan, sampai dia sok asik begitu, bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan.


Nara hanya terdiam di sana sambil menghabiskan makanannya, dan berusaha menekan perasaan aneh yang timbul saat melihat dua orang di depannya tampak bahagia.


Pagi itu Sandra kembali mengajak Jaden jalan-jalan menikmati udara pagi yang segar dan cerah. Nara pun izin untuk membaca buku di luar karena pekerjaannya sudah selesai kemarin malam.


Nara melihat pemandangan yang sangat indah agak jauh dari rumah Jaden. Banyak pohon pinus dan ada bangku seperti kayu yang di bawahnya ada bunga-bunga kecil berwarna putih.


"Di sini indah sekali, udaranya juga sangat sejuk. Aku akan membaca di sini saja." Nara membuka buku yang dia pinjam di ruang kerja Jaden.


Fokus sekali Nara membaca, sampai dia lupa sudah berapa lama dia membaca buku.


"Buku ini kisahnya bagus sekali. Nanti aku lanjutkan lagi saja." Nara yang posisinya membaca sambil tiduran beranjak berdiri dan dia tidak sengaja menjatuhkan gantungan kunci pemberian Mas Leo yang selalu dia bawa.

__ADS_1


__ADS_2