Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Masakan Jaden


__ADS_3

Jaden kembali ke dalma kamar Nara dengan membawa kotak obat. Dia melihat pada kaki Nara dan mengobati luka yang ada di kaki Nara.


Nara yang merasakan kakinya ada yang menyentuh seketika melihat pada arah kakinya dengan posisi masih berbaring karena tubuhnya masih terasa lemah.


"Sedang apa kamu?" tanyanya lirih.


"Kamu tidak lihat aku sedang mengobati luka kamu. Kamu jangan banyak bergerak. Lukamu harus segera di tutup."


"Kenapa kamu mengobatiku? Bukannya tadi kamu menyiksaku?"


Jaden tidak menjawab, dia malah sibuk menutup luka di kaki Nara dengan perban. Setelah selesai dia melihat pada Nara yang membuka matanya melihat pada Jaden.


"Kamu sudah baikkan? Dasar gadis lemah. Kenapa kamu begitu saja sudah sakit?" Jaden berdiri dari tempatnya dan dia berdiri di samping Nara.


Tidak lama mereka berdua mengkap suara yang aneh, yaitu suara perut Jaden yang keroncongan.


"****!" Jaden memegang perutnya. Biasanya dja bisa menahan lapar, tapi entah kenapa malam ini dia merasa lapar? Mungkin karena dia dari pagi belum makan.

__ADS_1


"Aku akan membuatkan masakan untuk kamu. Aku tidak mau di siksa lagi karena tidak melakukan tugasku," kata Nara sambil berusaha bangkit dari tidurnya.


"Kamu tidur saja." Tangan Jaden dengan cepat memegang dahi Nara yang masih demam dan mendorongnya kembali untuk tidur.


"Kamu kasar sekali!" seru Nara kesal yang di jatuhkan lagi agar tidur.


"Untuk gadis pembangkang seperti kamu memang harus memakai sikap tegas. Kamu tidur di sini dan jangan ke mana-mana. Kalau perlu kamu tidur lagi sana supaya kamu cepat sembuh, tidak menyusahkan aku."


Jaden berjalan keluar kamar Nara dengan membawa kotak obatnya.


Nara melihat aneh pada pria yang tadi baru saja mengobati kakinya.


Sekitar setengah jam, Jaden kembali masuk ke dalam kamar dan sekarang di tangannya membawa sebuah baki berwarna putih dan di atasnya ada piring berisi makanan.


"Bangun gadis lemah, kamu makan dulu lalu minum obat lagi. Aku tadi sudah bertanya pada temanku yang dokter waktu itu. Katanya kamu harus minum obat penurun panas lagi yang pernah dia berikan.


Nara yang memang tidak bisa tidur lagi karena suhu tubuhnya kembali meningkat membuka kedua matanya dan menggeleng perlahan pada Jaden. "Aku tidak mau makan, kamu makan saja sendiri," ucap Nara lirih.

__ADS_1


"Jangan tidak makan. Kamu mau sembuh tidak?" tanya Jaden dengan ketus.


"Orang sakit akan semakin sakit bahkan bisa mati jika mendapat perawat sepertimu," cerca Nara.


"Siapa juga yang mau menjadi perawat kamu. Aku bisa saja membiarkan kamu mati dan membuang ditengah hutan dekat rumahku ini, tidak akan ada orang yang tau, tapi aku sudah bilang berkali-kali sama kamu."


"Iya, aku ingat, kamu tidak mau rugi."


"Menurutlah padaku atau orang lain juga merasakan kepedihan karena sikap kamu."


Nara melihat pada Jaden dengan mata sayunya. Nara tau apa dan siapa yang di maksud oleh Jaden.


"Sekarang makan, dan jangan cerewet," titah Jaden ingin dituruti.


Nara mencoba bangkit sekali lagi dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Nara melihat Jaden duduk diam tepat di sofa depan ranjangnya.


"Kamu kenapa memperhatikan aku? Kamu makan saja sana. Nanti aku tidak mau di salahkan kalau kamu sakit."

__ADS_1


"Aku sudah maka tadi.


Nara tidak mau banyak tanya, dia sebenarnya mual melihat makanan di depannya, tapi kalau tidak makan, bisa- bisa si Jaden marah.


__ADS_2