Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Tempat Baru


__ADS_3

Nenek menyuruh Leo menemani Renata yang terlihat sedih karena dia tidak diberitahu jika sahabat kecilnya itu sudah menikah dan pergi entah ke mana untuk berbulan madu.


Leo mengajak Renata duduk di tepi kolam. Renata tampak memandang langit yang malam ini penuh dengan bintang.


"Kalau melihat langit seperti ini, aku jadi teringat masa kecilku dulu saat bersama dengan Jaden dan Jacob. Kami bertiga sangat polos dan lugu. Tidak perlu memikirkan kerumitan yang orang dewasa rasakan."


Leo melihati wanita yang baginya wajahnya hampir mirip ibunya yang kalem.


"Kamu pasti merindukan saat seperti dulu yang tidak perlu memikirkan masalah pekerjaan, hanya bermain dan bermain."


Renata mengangguk. "Jujur saja aku senang sekali bisa bertemu dengan Jaden dan bahkan kita rekan kerja. Sedangkan Jacob, dia lebih tertutup sejak kecelakaan yang menimpanya itu. Aku saja ingin bicara sama dia, tapi dia seolah tidak ingin memiliki teman." Renata cemberut.


"Kan masih ada Tuan Jaden dan Nara serta saya yang mau menjadi teman kamu."


"Iya juga sih! Eh Leo! coba kamu hubungi Jaden. Kita ganggu dia yang sedang berbulan madu. Aku ingin melihat ekspresi marahnya saat kita mengganggunya berbulan madu." Renata sudah cekikikan sendiri.


"Saya?" Leo tampak bingung.


"Iya, kamu? Masak aku? Aku saja tidak tau mereka menikah. Keterlaluan! Lihat saja nanti kalau mereka pulang aku akan mengomeli mereka habis-habisan." Tangan wanita yang tampak selalu ceria itu bersidekap.


Leo melirik pada Renata. "Memangnya kamu berani memarahi Tuan Jaden?"


"Bera--." Renata langsung terdiam. "Agak takut sih, Leo. Kalau dia marah padaku, bisa-bisa aku dilempar jauh-jauh ke planet mars." Renata tampak menunduk lesu.


Leo yang melihatnya tersenyum kecil. "Tuan Jaden tidak akan melempar kamu sampai ke planet mars."


"Huft! Syukur kalau begitu." Renata menghela napasnya lega.


"Tuan Jaden akan melempar kamu ke kandang buaya piaraannya karena kamu berisik."


"Hah?" Kedua mata Renata langsung mendelik. "Jadi dia benar punya kandang Buaya?" Leo mengangguk. "Dia jaguar menakutkan, tapi masih memelihara buaya?" Renata menggelengkan kepalanya tidak percaya.

__ADS_1


"Banyak sekali sebutan untuk Tuan Jaden yang kamu berikan." Leo tersenyum kecil.


"Itu karena dia memiliki kepribadian dan wajah yang tampan, tapi tidak enak dilihat kalau lagi kode kumatnya."


Leo langsung terkekeh dengan kerasnya seolah dia sekarang bisa menertawakan Tuan Jadennya. Kalau ada Jaden dia tidak akan berani tertawa seperti ini.


"Tapi sekarang sepi ... Jaden dan Nara tidak di sini. Aku mau mengusili mereka. Leo hubungi mereka. Apa kamu tidak mau mengganggu bulan madu mereka?" Renata ini dari kecil memang usil.


"Maaf, Nona Renata, tapi saya tidak memiliki nomor baru Tuan Jaden, dan saya pun menunggu Tuan Jaden yang menghubungi saya dulu."


"Ya ampun! Kenapa Jaden sangat protect sekali! Dia seolah ingin menyembunyikan Nara dan dirinya sendiri dari seseorang."


"Tuan Jaden tau apa yang dia lakukan dan semua ini untuk kebaikan orang yang sangat dia cintai setelah nenek tentunya."


"Lalu, kalau ada masalah apa-apa bagaimana kita menghubungi Jaden?"


Leo tampak berpikir sejenak. "Tetap kita yang menunggu Tuan Jaden yang menghubungi duluan. Tuan Jaden sebenarnya tidak perlu khawatir di sini terjadi apa-apa karena aku pasti bisa mengatasi semuanya."


Renata menepuk pundak Leo dengan keras. Leo sampai terkejut dan melihat heran pada Renata.


"Mau satu seperti aku? Untuk apa?"


"Untuk dijadikan asisten pribadiku. Memangnya untuk apa?"


"Oh iya," jawab Leo lirih.


"Jadi calon suami juga boleh kalau dia mau, asal dia tidak kaget dengan semua sifat yang ada dalam diriku." Renata tampak tersenyum senang.


Jaden dan Nara telah sampai di tempat tujuan mereka. Jaden melihat istrinya yang tengah tertidur pulas tidak berani membangunkan istrinya. Dia memutuskan untuk menggendongnya keluar dari pesawat. Nara yang masih tidur malah merasakan nyaman saat pria yang menjadi suaminya itu menggendongnya.


Sebuah mobil yang mirip seperti alat angkutan umum di kota itu sudah menunggu mereka untuk mengantar mereka pergi ke tempat di mana Nara dan Jaden akan tinggal.

__ADS_1


"Ini kunci rumah, Tuan Luther dan saya permisi dulu. Semoga hari-hari kalian menyenangkan di sini." Seorang wanita paruh baya dengan rambut keriting kecil-kecilnya pergi dari sana.


Jaden masuk ke dalam sebuah bangunan rumah dengan di dominasi warna putih. Di sana hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan hanya ada ruang makan menyambung dapur, serta ruang tamu yang juga berukuran tidak terlalu besar.


"Kita akan memulai kehidupan berdua kita di sini dengan tanpa adanya orang yang mengenal siapa aku dan kamu. Kita akan memulainya seperti kertas yang masih bersih." Jaden membaringkan Nara dan dia menyelimuti Nara.


Jaden berjalan keluar, tepatnya dia berada di ruang tamu untuk menghubungi Leo.


"Tuan Jaden, bagaimana kabar Tuan?"


"Aku dan Nara baik. Bagaimana kabar nenek di sana?"


"Nenek baik, Tuan Jaden. Tadi juga ada Renata datang ke sini dengan marah-marah dan kesal karena Tuan tiba-tiba menikah tanpa mengundangnya dan sekarang menghilang tanpa diketahui siapapun pergi berbulan madu dengan Nara."


"Biarkan saja, nanti juga dia akan lupa akan hal ini."


"Tuan, apa ini nomor baru Tuan Jaden? Saya akan menyimpannya."


"Iya, Leo. Leo, kalau tidak ada hal yang sangat penting kamu jangan menghubungiku. Tolong urus semua yang ada di sana. Aku benar-benar ingin membuat Nara melupakan semua yang terjadi di sana. Aku ingin hidup tenang dulu di sini dengan Nara."


"Saya bisa mengerti, Tuan. Tuan Jaden tolong jaga baik-baik Nara dan diri Tuan sendiri."


"Kamu juga. Jaga Nenek dan diri kamu sendiri. Leo tetap ingat satu pesanku. Jangan sampai orang lain tau tentang nomor telepon ini. Bahkan nenek juga."


"Iya, Tuan, saya sangat paham."


Mereka mengakhiri panggilan teleponnya.


Jaden berjala menuju kamar tidurnya dan melihat Nara masih terlelap setelah tadi Mereka makan malam bersama. Jaden mengambil segelas minuman dingin di dalam lemari pendinginnya yang berukuran kecil. Pria tampan itu tak hentinya memandangi wajah Nara yang tampak sangat menenangkan.


"Siapapun yang ingi melukai kamu harus aku singkirkan Nara. Aku benar-benar tidak bisa melihat kamu terluka." Jaden meneguk minumannya sampai habis lalu dia ikut tidur dengan Nara.

__ADS_1


Keesokan harinya. Mata Nara terasa silau saat sinar matahari tepat mengenai wajah lembutnya. Nara mengerjakan kedua matanya perlahan melihat di mana dia berada.


"Ini di mana? Kenapa aku bisa berada di sini? Apa ini tempat yang Jaden katakan ingin mengajakku ke suatu tempat?"


__ADS_2