
Tidak lama sebuah mobil berhenti di depan Denna, dan Denna tau siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Nona, kenapa Nona jalan kaki? Bukannya tadi Nona mengirim pesan padaku jika Nona pulang dengan Nona Diaz."
"Kamu kenapa ada di sini? Aku bisa pulang sendiri." Denna berjalan terus.
Dimas yang merasa Nonanya marah dengannya mengejar Denna. "Kenapa Nona memilih pulang sendiri?" Dimas tepat memotong jalan Denna.
Denna hanya menatapnya datar. "Aku ingin berjalan sendirian. Kamu bisa pulang saja."
Denna berjalan melewati Dimas, tapi sebelum Denna berjalan jauh. Tangan Dimas dengan cepat menangkap tangan Denna.
"Saya menyesal telah berbuat kurang ajar pada Nona Denna, tapi tidak menyesal karena ciuman tadi."
Denna terdiam sesaat. "Aku juga salah menganggap hal tadi sebagai hal istimewa, padahal seharunya tidak perlu dipikirkan." Denna melepaskan tangan Dimas. Dimas masih terpaku di tempatnya.
"Nona, kita pulang sekarang."
"Kamu pulang saja. Aku mau sendirian."
"Tapi langit mulai mendung dan sepertinya akan turun hujan."
Denna menoleh pada Dimas. "Biarkan saja aku mau kehujanan apa tidak. Kamu tidak perlu mengurusku."
Denna tetap berjalan. Dimas yang melihat hal itu bingung. Apa lagi langit benar-benar terlihat mulai tambah gelap.
Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar. Denna seketika menghentikan langkahnya karena kaget.
Dimas yang masih dapat melihat Denna dari kejauhan, tau jika Nonanya itu pasti takut suara petir yang baru saja terdengar tiba-tiba.
Blup!
Tiba-tiba tubuh Denna digendong ala bridal style oleh Dimas. Denna tampak kaget sehingga tangannya reflek menggelayut pada leher Dimas.
"Aku takut, Dimas," ucapnya lirih.
"Saya tau. Kita pulang sekarang." Denna hanya terdiam dan Dimas membawa Denna masuk ke dalam mobil.
Dimas melihat pada Denna dan mendekat kembali. "Denna sontak saja kaget saat Dimas mendekatkan wajahnya pada Denna.
"Maaf, saya mau memasang sabuk pengaman Nona Denna."
__ADS_1
"Aku bisa memasangnya sendiri." Denna mencoba mengambil sabuk pengamannya, tapi Dimas sudah selesai memasangkan."
"Dimas!" Tiba-tiba Denna berteriak dan memeluk Dimas yang belum menjauh dari dirinya setelah memasang sabuk pengaman itu.
Dimas melihat dari arah jendela kaca yang ternyata sudah diguyur hujan deras dan terlihat petir menyambar dengan ganasnya di atas langit. Langit menjadi hitam pekat dan suara guntur bersahutan seperti sebuah peperangan besar.
"Nona, apa kita pulang nanti saja?" Maksud Dimas, dia pulang nanti saja karena dia tidak akan bisa mengemudi jika Denna masih memeluknya.
"Kenapa suara gunturnya besar sekali?"
"Hujannya di luar sangat deras. Nona, kita pergi saja dari sini karena tempat kita berhenti tepat di depan pohon besar dan itu bisa membahayakan."
Denna mulai tidak mendengar suara guntur lagi. Dia perlahan melepaskan pelukannya pada Dimas.
"Maaf, kita pulang sekarang saja." Dimas mengangguk, lalu dia mulai menjalankan mobilnya.
Dimas berjalan sangat hati-hati karena hujan semakin lebat dan banyak pohon-pohon kecil di tepi jalan tumbang.
Dimas menghentikan mobilnya karena di depannya mobil semua berhenti.
"Ada apa, Dimas?"
"Apa ada pohon yang tumbang? Kenapa ada mobil polisi di sana." Denna melihat ada lampu sirine dari mobil polisi.
"Saya akan memeriksa sebentar. Nona tunggu saja di sini."
"Dimas, kamu hati-hati." Denna tidak tau kenapa dia khawatir dengan Dimas.
"Iya, Nona tunggu di sini sebentar."
Dimas mengambil payung yang ada di bawah jok kursinya dan pergi keluar.
Denna memilih menunggu saja di dalam seperti apa yang dikatakan oleh Dimas.
Tidak lama Dimas kembali tanpa memakai payung sehingga Dimas basah kuyup. Denna membuka kecil jendela kacanya.
"Ada mobil tertimpa pohon di sana dan orang-orang sedang menolongnya. Dinas pertamanan masih dalam perjalanan. Saya akan ikut membantu mereka, dan Nona Denna jangan keluar."
"Iya, aku akan menunggu kamu di sini. Hati-hati, Dimas."
Dimas segera kembali ke tempat kejadian, dan entah kenapa sekarang hati Denna tidak karuan. Denna menunggu sampai hampir setengah jam.
__ADS_1
"Kenapa hatiku tidak tenang begini? Apa terjadi sesuatu dengan Dimas?"
Denna mengambil payung yang ada di belakang kursinya dan dia memutuskan mencari Dimas di luar.
Denna berjalan mendekat pada kerumunan orang dengan detak jantung yang berdetak semakin tidak karuan. Dipikirannya dia takut jika terjadi apa-apa sama Dimas.
"Anak muda hati-hati!" teriak salah satu orang di sana."
Denna melihat Dimas yang dibantu beberapa orang mencoba menahan sisi batang pohon agar pintu mobil bisa terbuka dan membuat orang di dalamnya dapat keluar.
"Cepat keluar! Aku tidak bisa menahannya lebih lama, atau kita semua dapat meninggal karena pohon ini akan benar-benar menimpa kita semua!" teriak Dimas dengan tangan menjulur ingin membantu orang yang ada di dalam mobil.
"Petugas bagian pertamanan kenapa belum datang? Kalau orang di dalam tidak segera keluar, anak muda itu bisa juga ikut menjadi korban karena posisinya yang sudah separuh berada di dalam," ucap cemas orang yang ada di sana.
Denna yang mendengar hal itu ingin ikut membantu Dimas, tapi hal itu tidak bisa dia lakukan. Dimas malah akan panik jika melihat Denna di sana.
"Kalian tidak perlu takut. Aku akan membantu kalian, kalian akan baik-baik saja."
Akhirnya tiga orang yang terjebak di dalam mobil itu keluar dengan bantuan Dimas menarik mereka satu persatu.
"Awas!" teriak mereka. Terdengar suara suatu benda penyok karena pohon besar itu benar-benar tumbang dan menindih mobil itu sampai bagian atas dan bawah hampir menyatu.
Denna yang mau mendekat tidak bisa karena Dimas seketika dikelilingi orang-orang yang bangga dan salut akan keberanian Dimas.
Dimas sekilas melihat pada Denna yang berjalan pergi dengan payungnya yang terbang tertiup angin kencang.
"Saya permisi dulu." Dimas mengejar Denna dan berhasil menarik tangan Denna.
"Nona, kenapa Nona keluar? Nona jadi basah kuyup."
"Kamu kenapa membahayakan diri kamu tadi? Kenapa tidak menunggu petugas datang?"
"Tidak akan sempat, Denna. Keadaan pohon tadi sudah sangat membahayakan orang-orang di dalam mobil."
"Kamu memikirkan orang lain, tapi tidak memikirkan diri kamu sendiri. Bagaimana jika terjadi apa-apa sama kamu? Aku bukannya egois, Dimas, tapi aku--." Denna terdiam karena bingung dia harus bicara apa? Denna tadi benar-benar khawatir pada Dimas.
Denna masuk ke dalam mobil dan duduk terdiam di kursi. Dimas ikut masuk ke dalam mobil dan melihat Denna yang sedang menghapus air matanya.
"Nona, apa ada yang salah dengan ucapan saya." Denna tidak menjawab. Dimas terdiam di tempatnya. Mereka belum bisa jalan sampai pohon besar itu di singkirkan.
Sunyi. Hal itulah yang sekarang terasa di dalam mobil itu."
__ADS_1