
"Kalau begitu kamu tunggu aku di sana, aku akan segera menyusul kamu."
"Baik, Tuan." Leo pergi dari hadapan Jaden. Nara yang melihatnya tampak bingung, ada apa dengan semua ini? Lalu, apa maksud dari kiriman Jaden sudah datang? Kenapa juga tidak dibawa ke kamar Jaden saja?
"Tuan JL mau pergi?" tanya Nara dan dia tidak mendapat jawaban dari Jaden. Jaden membuka lemari kecilnya dan tampak membawa senjata apinya.
Nara yang melihat hal itu agak bingung. Kenapa Jaden sampai membawa senjatanya?
"Kamu diam di sini saja dan jangan ke mana-mana." Setelah mengatakan hal itu Jaden keluar dari kamarnya dan Nara hanya bisa diam di tempatnya dengan banyak pertanyaan.
"Dia mau ke mana?" Nara berjalan mendekat ke arah jendela kamar Jaden dan melihat pria yang sudah mencuri ciumannya itu berbicara dengan Leo dan beberapa penjaga yang berpakaian serba hitam.
"Sebenarnya dia tampan sekali kalau dilihat, tapi dia orang yang tidak menyenangkan dan arogan." Nara berdialog sendiri.
Nara yang melihat Jaden berjalan menuju sebuah tempat tidak jauh dari kamar Jaden menjadi penasaran.
__ADS_1
Nara mengendap-endap turun anak tangga yang terdiri sekitar 10 anak tangga menuju arah taman di mana Jaden tadi berada. Nara diam-diam mengikuti Jaden dan beberapa orang-orangnya.
Sesampai di ruangan yang agak gelap dengan pencahayaan yang kurang. Nara melihat ada sekitar tiga orang pria duduk di berlutut di bawah, dengan tangan terikat ke belakang.
Jaden berdiri di depan mereka dengan sorot mata yang sangat tajam. "Aku sudah lama mencari kalian bertiga. Katakan padaku, siapa yang sudah membantu kalian selama ini untuk bersembunyi?"
"Tidak ada yang membantu kami," ucap salah satu pria yang duduk berlutut dengan tanpa takut menatap mata Jaden.
Jaden memberikan senyuman devilnya menunduk pada pria itu. "Aku dengar kalau kamu seorang petarung yang handal. Aku bertanya padamu, bagaimana kamu menginginkan cara untuk mati?"
"Bagus, aku suka keberanian kamu. Kamu boleh saja tidak takut mati, tapi bagaimana dengan keluarga kamu? Apa mereka juga tidak takut mati?" Jaden mencengkeram dengan kuat rahang pria itu seolah ingin meremukkan rahangnya.
"Jangan sakiti mereka, mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini," ucap pria itu terbata.
"Lalu, apa keluarga yang kamu habisi beberapa tahun yang lalu mempunyai salah sama kamu?" Jaden menekankan kata-katanya.
__ADS_1
"Itu adalah suatu pekerjaan yang harus aku lakukan."
"Kalau begitu, anggap saja ini balas dendam yang harus aku lakukan." Jaden berdiri dari tempatnya. "Lepaskan ikatannya dan kita akan bertarung sampai salah satu di antara kita ada yang mati."
Nara menutup mulutnya dengan kedua tangannya mendengar apa yang Jaden katakan.
Nara ingin melangkah pergi dari sana, tapi hatinya seolah menahannya untuk pergi. Dia ingin memastikan jika Jaden tidak akan terluka.
"Lagian kenapa sih dengan pria menyebalkan itu? Kenapa dia malah menantang berkelahi? Tapi ada masalah apa sebenarnya dengan pria itu?" Banyak pertanyaan di atas kepala Nara.
Leo melepaskan ikatan pria yang di tantang Jaden, dan pria itu berdiri di hadapan Jaden. Tubuh pria itu lebih besar dan kekar dari Jaden, bahkan wajahnya lebih seram.
Mereka berdua mulai adu kekuatan. Jaden dipukul wajahnya oleh pria itu sampai mengeluarkan darah dari tepi bibirnya.
"Hanya itu kemampuan kamu?"
__ADS_1