Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Hal yang Aneh


__ADS_3

Jaden makan sambil memperhatikan wajah Nara. Nara yang merasa diperhatikan tampak bingung.


"Kenapa melihatku? Apa kamu merencanakan sesuatu hal untuk menyiksaku?"


"Kenapa kamu tadi tidak langsung pergi saja? Bukannya tadi kamu memiliki kesempatan untuk pergi?"


"Aku memang memiliki kesempatan, tapi aku juga memiliki sebuah hati, dan hatiku tidak seperti hati kamu." Nara melirik kesal pada Jaden.


Jaden hanya terdiam tidak membalas ucapan Nara. Tidak lama Jaden mendengar suara aneh dari perut Nara.


"Kamu belum makan?"


"Nanti saja." Nara memegangi perutnya.


"Ambil makanan kamu dan bawa ke sini. Temani aku makan, Nara," ucap Jaden tegas.


"Aku makan di meja makan saja, setelah kamu selesai makan."

__ADS_1


Jaden memberi Nara tatapan tajamnya. "Ambil sekarang makanan kamu, dan aku mau tambah supnya."


Gantian sekarang kedua alis Nara yang mengkerut. "Makan kamu, banyak sekali," omel Nara sambil beranjak dari tempatnya.


"Bawa makan kamu ke sini dan kita makan bersama di sini. Kamu dengar Nara?"


"Iya-iya," jawab Nara kesal.


Nara keluar dari dalam kamar Jaden dan tidak lama dia kembali dengan membawa dua mangkuk sup, dia meletakkan sup miliknya di ruang tamu mini yang ada di dalam kamar Jaden.


"Kenapa di letakkan di sana? Kamu tidak lihat aku tidak bisa duduk di kursi itu?"


"Huft! Apa aku harus mengatakan berkali-kali? Kamu makan di sini bersama denganku. Aku akan makan sendiri dan kamu makan di depanku."


Nara mengambil napasnya panjang dan mencoba bersabar menghadapi tuannya yang entah kenapa dia cerewet sekali hari ini? Apa mungkin tadi bukan punggungnya yang terbentur, melainkan kepalanya?


Nara terkekeh pelan berbicara dalam hatinya sendiri. Nara duduk di depan Jaden dan mereka mulai menikmati makan pagi di waktu siang hari.

__ADS_1


"Kamu kelaparan ya?" tanya Jaden yang melihat Nara makan dengan lahapnya sampai Nara tidak menyisakan satu tetes pun kuah sup. Dia meminum kuah supnya sampai habis.


"Kenyang." Nara mengelus perutnya. "Sup kamu juga sudah habis, Tuan?" Nara melihat pada mangkuk Jaden.


"Iya, sup kamu lumayan juga bisa membuat perutku kenyang."


Nara membereskan mangkuk yang ada di kamar dan hendak membawanya ke dapur, tapi tiba-tiba terdengar suara petir dan guntur yang begitu tiba-tiba. Nara kaget dan langsung mendekat pada Jaden.


"Kenapa siang-siang ada petir? Apa akan hujan deras?"


Jaden terdiam melihat kepala Nara yang menempel pada Dadanya. "Kamu takut sama petir? Aneh sekali? Kamu saja tidak takut sama aku, kenapa malah sama petir yang hanya mengeluarkan suara kamu bisa takut?"


Nara baru sadar dia dekat dengan Jaden dan segera dia menarik tubuhnya menjauh dari dada Jaden. "Kalian dua hal yang berbeda. Pokoknya aku lebih takut sama kamu sebenarnya."


Nara segera mengambil alat-alat makan mereka, dan hendak membawanya keluar.


"Kalau kamu takut petir dan guntur, setelah semua selesai kamu segera ke sini. Tidur saja di sampingku." Jaden menepuk-nepuk tangannya di atas tempat tidur tepat di sampingnya.

__ADS_1


Nara mengerutkan kedua alisnya kesal. Dia memanyunkan bibirnya pada Jaden dan berjalan keluar dari kamar Jaden.


Si pria yang terkenal tegaan itu malah tersenyum melihat tingkah Nara. "Kenapa aku merasa aneh ya dekat dengan pria itu? Benar, apa yang Jaden katakan. Kenapa aku tidak kabur waktu itu?" Nara berdialog sendiri dengan hatinya.


__ADS_2