
Dua orang yang saling tertawa itu tiba-tiba terdiam saat mendengar suara deheman dari arah belakang.
"Tuan Jaden," sapa Leo dengan nenundukkan kepalanya sebentar.
"Apa ada hal yang penting yang sedang kalian bicarakan?"
"Tidak ada, aku hanya menyapa dan berkenalan dengan Mas Leo."
Leo agak terkejut mendengar Nara memanggilnya dengan sebutan Mas. "Nara, kalau bisa panggil saja aku Leo. Aku tidak apa-apa meski usia kita terpaut jauh."
"Memangnya kamu tidak suka aku memanggil Mas Leo? Aku hanya ingin bersikap sopan karena kamu sopan sekali." Nara melirik pada Jaden yang wajahnya datar.
"Bukan begitu, Nara. Saya hanya tidak enak saja. Bagaimana, ya? Susah saya juga menjelaskan."
"Tidak apa-apa, Mas Leo. Mas Leo seumuran kakak aku kalau aku punya kakak."
__ADS_1
"Sudah selesai drama kalian? Nara, segera kembali ke kamar kamu, dan kamu Leo. Kita pergi sekarang." Jaden berjalan turun dan diikuti oleh Leo. Nara yang melihatnya mencibirkan bibirnya pada punggung Jaden.
Nara berlari kecil ke dalam kamar dan segera mandi serta berganti baju. Nara turun untuk makan karena jujur saja dia lapar sekali apalagi tadi sehabis lari-lari.
"Nona Nara tadi dari mana? Kenapa malah sampai tercebur di kolam?"
Nara tersenyum kecil pada bibi Ima. "Aku mau kabur dari rumah ini, Bi. Aku takut," ucapnya lirih.
"Takut sama siapa?"
"Si Tuan Dingin itu," jawab Nara malas.
"Aku mana ada membuat masalah sama dia. Aku saja baru mengenalnya dan semua ini gara-gara pamanku yang sudah menjualku pada si dingin itu."
"Jadi kamu sudah tau? Bagus kalau begitu, jadi kamu tidak perlu bertanya-tanya lagi." Bi Ima mengambilkan makanan untuk Nara.
__ADS_1
"Bi, apa aku akan tinggal selamanya dengan Tuan Jaden? Aku tidak akan memiliki masa depan nantinya," ucap Nara sedih.
"Kamu harus menerima semua ini, Nara. Bi Ima juga tidak akan bisa membantu kamu, dan saran bi Ima, kamu sebaiknya menurut saja apa kata tuan muda Jaden karena dengan begitu hidup kamu akan lebih aman." Wanita paruh baya itu masuk ke dalam dapur dan meninggalkan Nara sarapan sendiri.
"Rumah ini besar dan mewah, semua fasilitas serba ada. Ini meja makannya juga besar sekali, makanannya juga banyak. Huft! Tapi apa enaknya kalau makan cuma sendiri begini?" Nara berdialog sendiri.
Tapi karena perutnya yang lapar dia tidak memikirkan hal lainnya dulu. Dia memilih menghabiskan saja makanan di atas meja makan sampai dia kenyang.
Dari dalam mobil, Jaden tampak tersenyum sendiri. Leo yang sedang mengemudi melihat Jaden yang tersenyum sendiri melihat pada tablet yang ada di tangannya.
"Tuan Jaden. Apa saya boleh tau apa yang akan Anda lakukan pada Nona Nara?"
Jaden mematikan tabletnya dan segera melihat pada Leo. "Aku sendiri bingung kenapa aku mau saja menukar uangku yang ratusan juta dengan gadis tidak berguna itu. Bahkan gadis seperti Nara itu tidak akan dapat memuaskan aku di atas ranjang. Dia gadis aneh."
Leo terdiam sejenak. Dia teringat tentang Nara yang tadi di kamar Jaden, dan Leo sekarang tau jika Jaden tidak melakukan apapun pada Nara.
__ADS_1
"Gadis itu sepertinya gadis yang baik, Tuan. Saya sudah mencari semua informasi tentang gadis itu. Dia anak yang pandai. Cita-citanya ingin membuka sebuah cafe, dia juga berharap mendapat beasiswa agar dapat lanjut kuliah."
"Tapi sayang nasib Gadis bodoh itu tidak baik karena di besarkan oleh paman dan bibi yang tidak menyayangi dia.