
Kepala pengawal itu menyuruh Sandra dan dua orang anak buahnya pulang dulu, dia dan penjaga lainnya akan pergi untuk menemukan Nara di sana.
"Pak, lebih baik kita katakan saja pada Jaden kalau memang Nara sengaja kabur sendiri dengan begitu kalian tidak akan disalahkan. Nara itu memang tidak punya perasaan, dia sangat jahat sekali selalu membuat orang dalam masalah. Aku juga sampai terkena imbasnya waktu itu dengan Roy." Sandra bersedekap dengan kesal.
Kepala penjaga itu kenapa merasa ada yang mengganjal dengan hatinya. "Mba Sandra pulang dulu saja, dan biar saya akan di sini untuk mencari keberadaan Nara. Kalian antar Mba Sandra pulang dulu dan pastikan dia sampai di rumah dengan selamat."
"Baik, Pak!"
Mereka membawa Sandra pulang, dan kepala penjaga itu mulai menyebar di luar pasar, siapa tau Nara masih belum jauh dari tempat itu.
Di rumahnya, Jaden sedang berbicara dengan seseorang melalui pesawat telepon, dia menginginkan agar kamera CCTV di rumahnya untuk segera diperbaiki secepatnya.
Tidak lama dia mendengar suara mobil berhenti. Jaden berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju pintu depan. Sandra yang baru masuk ke dalam rumah melihat Jaden di sana, dengan wajah sedihnya langsung memeluk pria tinggi besar itu.
"Tuan Jaden." Dia menangis dengan keras.
Pria itu tampak bingung, dia menunggu seseorang yang tadi pergi bersama dengan Sandra, tapi kenapa gadis yang dia tunggu tidak menampakkan batang hidungnya.
"Sandra, di mana Nara?"
Sandra menarik pelukannya dan melihat pada wajah pria dingin itu. "Nara kabur dan dia pergi entah ke mana."
Wajah dingin itu semakin terlihat seram mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Sandra.
"Kabur? Apa maksud kamu dengan bilang Nara kabur?"
"Dia pergi, Tuan, Nara pergi atas kemauannya sendiri. Aku juga tidak tau kenapa dia melakukan hal itu?"
Jaden melepaskan pelukan Sandra dengan kasar, dan dia segera menghubungi seseorang.
"Tuan, kami sedang mencari Nara di sini."
"Dasar bodoh! Kenapa tidak bisa bekerja dengan baik! Cari Nara sampai ketemu, kalau kalian tidak menemukan di mana Nara. Kalian tidak perlu kembali atau aku habisi kalian semua!" Jaden terlihat sangat menakutkan.
__ADS_1
Sandra yang melihatnya tidak menyangka akan melihat wajah seram Jaden seperti itu.
"Tuan, kenapa kamu semarah itu? Nara mungkin sudah bosan bekerja di rumah kamu makannya dia kabur. Dia ingin mengatakan sama kamu, tapi mungkin dia takut padamu, Tuan Jaden.
"Nara sudah tidak ada hak untuk memutuskan hidupnya sendiri. Aku yang menentukan hidup Nara."
"Kenapa begitu? Nara memiliki hak untuk dirinya sendiri. Dia gadis bebas tidak terikat dengan siapapun."
Tangan Jaden mencengkeram dagu Sandra. "Nara terikat denganku, dan aku tidak akan pernah melepaskan dia. Nara tidak boleh pergi dariku?" ucap Jaden tegas dan ditekankan. Kemudian Jaden melepaskan cengkeramannya
Sandra merasakan sakit pada dagunya. "Kenapa Tuan? Kenapa Tuan begitu sangat menginginkan Nara? Dia itu hanya seorang pelayan biasa. Apa Tuan mencintai Nara?"
Jaden menatap Sandra tajam. "Dia pelayan istimewaku, dan kamu tidak perlu mengetahui segalanya."
Jaden berjalan pergi dari sana. Sandra tampak mengepalkan genggaman tangannya erat.
Hari berubah sore. Jaden yang berdiri di dalam kamarnya tampak terdiam memandang suasana dari balik jendela kaca besarnya.
Sandra masuk ke dalam kamar Jaden dengan membawa makanan dan segelas air minum. Sandra melihat pria yang membuatnya jatuh cinta sedang berdiri membelakanginya.
Sandra sebenarnya agak takut untuk mendekati Jaden, tapi dia tetap mendekati Jaden. "Tuan, aku bawakan minuman hangat untuk kamu."
"Aku tidak butuh, Sandra."
"Jangan begitu, Tuan. Ini juga waktunya Tuan minum obat, tadi siang Tuan sudah melewatkan obat Tuan. Ini aku bawakan makanan dan obat Tuan."
Jaden teringat pada Nara yang sekarang memiliki cara yang Jaden sukai agar dirinya mau minum obat.
"Aku akan menunggu Nara saja untuk memberikan obatku."
"Nara tidak akan kembali, Tuan. Dia sudah memutuskan untuk pergi dari sini."
Pyar!
__ADS_1
Terdengar suara benda jatuh dan pecah berserakan di lantai. "Pergi dari sini, Sandra! Atau aku lupa jika kamu adalah terapisku," Jaden menekankan kata-katanya.
Sandra yang melihat kemarahan di mata Jaden menjadi takut dan dia segera pergi dari kamar pria itu.
Di tempatnya. Nara yang berada di dalam ruko itu tampak sudah sadar. Dia merasakan kepalanya yang sakit. Nara perlahan membuka kedua matanya, dia amat sangat terkejut mengetahui dirinya berada di sebuah ruangan yang gelap dan dengan tangan serta mulut tersumpal sesuatu.
Nara yang ingin berteriak, tapi tidak bisa. Nara mencoba bangun dari lantai dengan susah payah.
"Di mana aku? Kenapa aku bisa berada di sini?" Nara berbicara dalam hati. Dia mengingat kembali apa yang terjadi dengannya tadi pagi. Nara ingat dia ingin menolong seorang anak laki-laki, tapi tiba-tiba kepalanya di pukul seseorang dari belakang, dan setelahnya dia sadar sudah berad di dalam ruangan gelap ini.
Nara mencoba berdiri dengan menempelkan tubuhnya pada dinding dan menggesekkan punggungnya agar dapat berdiri.
Kaki Nara yang diikat membuat Nara kesulitan juga untuk berjalan. Samar-samar Nara mendengar suara orang bicara dari luar. Nara mencoba berjalan dengan kaki terikat dia mengkhatamkan tubuhnya beberapa kali pada pintu ruko yang model rolling door, jadi dapat terdengar dari luar.
Nara mencoba mengeluarkan suaranya walaupun terdengar tidak jelas. "Kamu yang di dalam jangan berisik. Kami sedang menghubungi bos besar yang akan membawa kamu untuk di jual ke luar negeri sebagai gadis penghibur."
Nara terkejut mendengar hal itu. Dia sampai berpikir siapa bos besar yang dimaksud orang-orang di luar.
"Tidak mungkin Tuan Jaden yang mereka maksud? Atau Tuan Jaden membuat sebuah rencana untuk menjualku dengan cara seperti jni agar aku tidak kabur dan bisa dia jual?" Pikiran Nara menjadi kacau.
Nara sekali lagi mencoba berteriak dan menabrakkan tubuhnya pada pintu ruko. Dia berharap mereka melepaskan Nara.
"Jangan berisik!"
"Tuan tidak akan melakukan ini, hatiku percaya dengan Tuan Jaden. Tuan Jaden, tolong aku." Nara memanggil Jaden dari dalam hatinya.
Di rumahnya Jaden sedang berbicara dengan beberapa pengawal lainnya yang lebih banyak. Dia mengerahkan banyak pengawal untuk dapat menemukan Nara.
"Cari Nara sampai ketemu, dan jangan kembali jika gadisku tidak kalian temukan!"
"Gadisku? Apa maksud Jaden dia sudah menganggap Nara adalah kekasihnya? Dia bahkan sampai menyuruh banyak pengawalnya untuk mencari gadis itu." Sandra mengintip Jaden dari balik dinding.
Jaden mencoba menghubungi paman Nara, tapi ponsel paman Nara tidak aktif. "Nara tidak mungkin kembali pada pamannya. Dia bukan gadis bodoh. Siapa yang berani mengambil Nara dariku?" Kedua rahang pria itu mengeras.
__ADS_1