
Jaden mengatakan pada Mauren jika dia akan memikirkannya lagi tawaran kerja sama yang Mauren inginkan. Jaden pernah dikhianati oleh kakak Mauren yang sekarang menjadi musuh Jaden, yaitu Damian.
"Tuan sebaiknya jangan mencari masalah lagi dengan keluarga mereka. Apa lagi jika Nara tau, Nara pasti akan tidak menyetujuinya," jelas Leo.
Jaden tampak berpikir sejenak. "Kamu tau siapa Mauren. Dia akan terus mengejar kerja sama ini." Jaden menghela napasnya pelan.
"Sebenarnya kerja sama ini juga bisa menguntungkan kita, tapi jika bukan Mauren yang memintanya, hal ini akan lebih mudah."
"Aku tau maksud kamu, Leo. Aku akan mencoba bicara dengan Nara dan meminta pendapat Nara."
"Kalaupun Nara mengizinkan, Tuan Jaden tetap harus waspada."
Jaden tersenyum dan menyandarkan dirinya pada sandaran tempat duduknya. "Kamu tenang saja Leo. Mauren tidak akan bisa mengkhianatiku seperti Damian."
***
Acara pesta perpisahan sekolah telah tiba. Semua guru dan murid tampak berkumpul di ballroom sebuah hotel mewah di mana acara itu diselenggarakan.
"Sayang, kamu cantik sekali malam ini," puji Rio pada Diaz yang malam ini menggunakan dress berwarna biru laut selutut dengan model leher Sabrina.
"Terima kasih, kamu juga tam.pan sekali malam ini."
"Bagaimana kalau kita turun ke lantai bawah?"
"Aku sengaja di atas sini untuk melihat di mana Denna berada. Kenapa aku dari tadi tidak melihat Denna? Apa dia tidak datang ke sini?" Diaz celingukan melihat ke lantai bawah yang jaraknya tidak terlalu tinggi.
"Coba kamu hubungi saja dia. Dia mungkin datang terlambat."
"Atau dia tidak datang gara-gara tidak ada pasangannya datang ke sini," ucap Diaz sedih.
Tangan Rio memeluk pinggang kekasihnya dan mendekatkannya perlahan tubuh Diaz padanya. "Kamu jangan sedih begitu. Apa kita sekarang ke rumah Denna untuk mengajaknya pergi ke sini?"
"Huft! Denna tidak akan mau. Sebentar, aku akan menghubunginya dulu."
Diaz mencoba menghubungi Denna. Tiga kali panggilan Diaz tidak dijawab oleh Denna.
"Denna ini ke mana? Kenapa panggilanku tidak dijawab?"
Tidak lama orang yang Diaz hubungi menghubungi Diaz. "Halo, ada apa, Diaz?"
"Kok halo ada apa, Diaz? Kamu itu ke mana? Kenapa tidak datang ke acara perpisahan sekolah, Denna?"
"Aku sepertinya tidak datang ke acara itu. Aku minta maaf ya sama kamu," ucapnya memelas.
__ADS_1
"Tidak aku maafkan! Kamu sudah berjanji akan datang ke sini walaupun tidak bersama pasangan. Aku jemput saja kamu di rumah dengan Mas Rio. Bagaimana?"
"Tidak perlu, Diaz. Kamu bersenang-senanglah di sana dengan Mas Rio dan aku mau melanjutkan saja tidurku."
"Denna ...! Kok malah tidur! Pokoknya aku tidak mau tau. Aku tunggu kamu dalam waktu satu jam, kalau satu jam kamu tidak ke sini, aku yang akan menyusul kamu ke rumah kamu."
"Kamu kenapa sih memaksa sekali aku datang? Mau pamer kemesraan sama Mas Rio kamu?" ucap Denna sebal.
"Bukan begitu, Denna. Inikah momen terakhir kita di sekolah SMA, masak mau kamu lewatkan begitu saja?"
"Kalau kamu enak ada pasangannya. Aku?"
"Bagaimana kalau kamu datang saja dengan Bodyguard kamu?"
"Hah? Dengan bodyguard aku? Huft! Jangan asal bicara Diaz. Sudah, kamu nikmati saja pestanya dan aku mau tidur! Terserah kamu mau datang apa tidak. Bye, Diaz." Denna langsung mematikan panggilannya.
Denna tampak kembali berbaring di kamarnya dan sekarang Denna mengambil buku bacaan dekat laci samping ranjangnya.
"Mending aku belajar saja bagaimana pola mengasuh anak kecil yang baik, agar aku bisa menjelaskan pada ibu-ibu calon pasienku kelak." Denna tersenyum kecil. Denna memang sangat ingin menjadi dokter spesialis anak dari dulu.
Tok ...
Tok ...
"Denna! Kamu kenapa masih di sini? Kamu tidak pergi ke acara pesta perpisahan sekolah kamu?"
"Aku sedang malas ke mana-mana, Ma," ucapnya lirih.
"Malas bagaimana? Lalu Dimas kamu suruh datang sama siapa?"
"Dimas?" Seketika dua bola mata cantik Denna mendelik saat mamanya menyebut nama Dimas.
"Iya. Dimas sudah menunggu kamu di bawah. Katanya kamu mengajaknya untuk menghadiri acara pesta perpisahan sekolah kamu. Kamu lupa?" Nara tampak bingung.
Denna segera berlari menuju lantai bawah dengan tergesa-gesa sampai akhirnya dia menabrak tubuh pria dengan penampilan rapinya yang dari tadi menunggu Denna.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Dimas.
Denna melihat wajah Dimas tertegun. "Kamu mau datang ke acara pesta perpisahan sekolah denganku?"
Dimas mengangguk. "Bukannya Nona bilang ingin datang ke sana? Tapi kalau Nona berubah pikiran saya akan kembali pulang saja."
"Eh, tunggu!" Denna spontan memegang tangan Dimas. "Aku akan datang, kamu tunggu saja di mobil."
__ADS_1
Denna kembali menaiki anak tangga perlahan sambil melihati Dimas yang berjalan dengan gagahnya menuju pintu keluar.
"Dia tampan sekali malam ini," dialognya sendiri.
Nara kembali ke dalama kamar di mana mamanya sudah menyiapkan gaun berwarna merah darah di atas tempat tidur.
"Warna merah, Ma?" tanya Denna heran. "Ini terlalu mencolok Ma."
"Tidak mencolok, Denna. Justru ini serasi dengan dasi merah yang Dimas pakai." Dimas tadi memakai setelah kemeja berwarna hitam dan memakai dasi panjang berwarna merah darah.
"Mama ini! Kita bukan pasangan kekasih, jadi tidak perlu di serasikan. Aku mengajak Dimas karena Diaz sudah pergi dengan kekasihnya."
"Kalau begitu anggap saja kamu pergi dengan kekasih kamu. Beres, Kan?"
"Terserah Mama saja." Denna mengambil baju yang dipilihkan mamanya masuk walk in closetnya.
Denna sudah tampil cantik dengan gaun merahnya. Rambutnya di biarkan tergerai rapi.
"Cantik sekali putri mama."
"Terima kasih, Ma. Ma, aku sudah terlambat. Aku mau mencari ayah dan nenek untuk berpamitan."
Setelah berpamitan pada ayah dan neneknya, Denna segera menuju ke mobil di mana Dimas sudah berdiri di sana.
Kedua mata pria yang berdiri dengan memegang handel pintu mobil itu tampak tidak berkedip memandang sosok Denna yang berjalan ke arahnya.
"Silakan Nona." Dimas membukakan pintu depan dan Denna masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan, Denna tampak terdiam, tapi sebenarnya dia ingin berbicara dengan Dimas.
Akhirnya sampai di tempat acara pun mereka berdua tidak mengeluarkan satu kata pun.
Dimas membukakan pintu dan Denna keluar dengan melihat sekeliling tempat
mau kalau sampai mereka mengetahui aku datang ke sini dengan diikuti seorang bodyguard." Denna melihat Dimas serius.
Dimas mengangguk perlahan. Pria itu kemudian berjalan di samping Denna dan dengan tanpa aba-aba dia menggandeng tangan Denna masuk ke dalam ballroom.
Denna yang tiba-tiba tangannya di gandeng Dimas hanya bisa tertegun tidak percaya sambil mengikuti langkah Dimas.
Bodyguardnya Denna.
__ADS_1