
Mama Jaden mengajak Jaden dan suaminya pergi dari sana agar Nara dan Jacob dapat berbicara berdua.
Di ruang tengah. Jaden tampak duduk terdiam, sedangkan ayah dan mamanya sedang berbincang. "Jaden, kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa, Ma. Aku hanya memikirkan tentang bisnisku yang sedang di tangani oleh Leo."
"Kamu tenang saja jika Leo sudah mengurusnya. Ayah yakin bisnis kamu akan berhasil dengan baik."
"Iya, aku percaya pada Leo." Pria dingin itu memberikan senyumannya. Jaden sebenarnya memikirkan Nara dan Jacob. Dia memikirkan untuk mendapat maaf dari gadis yang sangat dia cintai itu.
"Jaden, ayah ingin tau tentang asal usul Nara. Dia tinggal dengan siapa dan bagaimana kamu bisa menemukan dia?" tanya pria tampan berkacamata itu.
Jaden membalas memandang ayahnya. "Dia hidup dengan paman dan bibinya yang memiliki sifat yang tidak baik, Yah. Nara sangat menderita sejak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan itu."
Wanita cantik dengan kulit kuning langsatnya itu melihat pada suaminya. "Kasihan sekali gadis itu."
"Bahkan pamannya menjual Nara untuk membayar hutang-hutangnya di meja judi."
"Apa? Nara di jual oleh pamannya?" Wanita cantik itu mendelik mendengar hal itu.
"Iya, dan aku yang sudah membeli Nara. Kalau tidak dia bisa berakhir di rumah hiburan di Las Vegas."
"Nak, terima kasih. Kalau begitu sekarang biarkan kami yang mengurus hidup Nara. Kita akan membuat gadis itu tidak lagi merasakan penderitaan akibat ulah keluarga kita." Wanita cantik itu melihat pada Jaden.
"Aku percaya kalian akan bisa membuat Nara bahagia. Dia juga gadis yang baik."
"Sayang, aku lihat memang benar apa kata Jaden, Nara terlihat seperti gadis yang sangat baik, apa kira-kira dia akan mau kita jadikan menantu di keluarga kita? Apa dia akan mau menerima Jacob dengan keadaannya yang seperti ini?"
Rasanya ada yang melempari Jaden dengan batu yang sangat besar tepat di kepala Jaden. "Kalian dekatkan mereka perlahan-lahan, dan aku yakin Nara akan dapat menerima Jacob walaupun keadaan Jacob seperti saat ini." Jaden sebenarnya tidak ingin mengatakan hal itu.
Di tempatnya, Nara dan Jacob sedang berbicara berdua. Nara duduk di sofa dan di depannya Jacob terlihat memandangi Nara. "Nara, apa kamu tidak takut berkenalan denganku?"
__ADS_1
"Takut? Untuk apa aku takut?"
"Kamu lihat keadaanku, Kan? Aku lumpuh dan kata dokter aku tidak akan bisa berjalan untuk selamanya karena kecelakaan waktu itu."
"Apa? Jadi dokter sudah memvonis kamu tidak akan bisa jalan?"
Jacob mengangguk perlahan. "Aku benar-benar menjadi pria yang tidak berguna. Bahkan kekasihku takut dan tidak mau mengenalku lagi."
"Wanita seperti itu tidak perlu kamu pikirkan lagi, Jacob." Tangan Nara mengusap tangan Jacob yang berada di atas kursi rodanya.
Jacob tersenyum merasakan sentuhan lembut tangan Nara. "Nara, coba ceritakan tentang dirimu? Sekolah kamu, dan keluarga kamu."
"Aku baru saja lulus sekolah, Jacob."
"Lalu, apa sekarang kamu kuliah?"
"Kuliah?" Nara tersenyum miris. "Aku bisa lulus sekolah saja sudah bersyukur, Jacob. Pamanku sudah malas mengurusku dan bahkan dia tidak menginginkan aku di rumahku sendiri yang sudah dia klaim milik mereka."
"Keterlaluan sekali mereka."
Tangan Jacob mengangkat dagu Nara, sampai wajah Nara terlihat oleh Jacob. "Kamu tidak perlu bersedih lagi. Apa kamu mengizinkan aku untuk membahagiakan kamu, Nara?"
"Maksud kamu?" Wajah Nara tampak bingung dengan pertanyaan Jacob.
"Tinggallah di sini, dan kamu bisa melanjutkan kuliah di sini. Kebetulan aku mengajar di salah satu kampus di sini, hanya saja waktu itu aku berhenti lama karena koma dan aku butuh waktu menerima keadaanku."
"Kamu mau menguliahkan aku?" Jacob mengangguk perlahan. "Anggap saja ini sebagai penebus kesalahan keluargaku yang sudah membuat hidup kamu menderita selama ini."
"Ini bukan kesalahan kamu atau keluarga kamu, tapi kesalahan kakak kamu yang memang tidak punya hati itu." Nara bergetar mengatakan hal itu.
"Bagaimana, Nara. Apa kamu mau menerima tawaranku?"
__ADS_1
"Soal itu?" Nara masih bimbang, bagaimanapun juga dia baru mengenal Jacob dan keluarganya. Apa lagi mereka tinggal di Kanada. Negara yang asing bagi Nara.
"Apa yang kamu pikirkan? Bukankah kamu bilang kalau kamu tidak diinginkan paman dan bibi kamu. Lalu, selama ini kamu tinggal dengan siapa?"
"A-aku tinggal di rumah Tuan JL-- Kakak kamu. Aku dijual oleh pamanku pada kakak kamu untuk melunasi hutang judinya di tempat kakak kamu, Jacob. Aku bekerja sebagai pelayan di sana."
"Apa? Jadi kamu menjadi pelayan Jaden?" Nara mengangguk. "Kalau begitu akan aku bilang pada Jaden untuk membiarkan kamu lepas dari hutangnya karena aku akan mengganti hutang paman kamu."
Nara terdiam. Dia di rumah Jaden bukan sebagai pelayan yang Jacob pikirkan, tapi dia dan Jaden adalah dua orang yang saling mencintai. Namun, sekarang di hati Nara sedang tidak ingin membahas cintanya dengan Jaden, di hati Nara yang ada rasa sakit yang sudah Jaden berikan.
"Nara, apa kamu mau tinggal di sini?"
"I-iya aku mau." Akhirnya kata-kata itupun keluar dari mulut Nara. Nara pun bingung jika menolak tawaran Jacob, dia akan tinggal di mana? Tidak mungkin Nara satu rumah dengan orang yang sudah menyebabkan penderitaannya sejak kecil.
Mereka berdua menemui kedua orang tua Jacob yang berada di ruang tengah. Nara mendorong kursi roda Jacob.
"Ma, Ayah, Nara sudah mengambil keputusan bahwa dia akan tinggal di sini, dan dia akan kuliah di universitas di mana aku mengajar."
Kedua mata Jaden membelalak lebar. Sorot matanya langsung menatap pada Nara yang berdiri dengan wajah datar yang juga sedang melihatnya.
"Apa benar yang dikatakan oleh Jacob, Nara? tanya mama Jacob tidak percaya.
Nara mengangguk. "Apa boleh saya di sini sesuai keinginan Jacob?"
"Oh ... tentu saja!" seru wanita cantik itu tampak bahagia. Dia kemudian menghampiri dan memeluk Nara dengan erat.
Nara dapat merasakan ketulusan dan kehangatan dari wanita cantik yang seusia mamanya jika mamanya masih hidup.
"Kak, aku akan membayar hutang paman Nara yang membuat Nara sebagai jaminannya. Tolong bebaskan Nara sebagai pelayan kamu karena dia akan berada di sini."
Jaden terdiam sejenak. Ada rasa yang ingin sekali dia keluarkan. Jaden sama sekali tidak mau melepaskan Nara untuk tinggal di rumah keluarganya, tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa. Nara juga tidak akan mau kembali ke rumahnya setelah kebenaran yang sudah diketahui Nara.
__ADS_1
Nara lebih baik tinggal di rumah ini sebagai keluarga dari pada harus hidup sendiri di luar.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Aku sudah membebaskan Nara dari dulu. Dia berhak mendapat kebahagiaan." Jaden menatap Nara dengan lekat.