Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Perasaan Leo pada Renata


__ADS_3

Jaden berjalan santai sambil menggendong Nara melewati ruang makan yang menyambung dapur. Di mana semua ada di sana.


"Turunkan aku, jangan buat aku malu," ucap Nara lirih.


"Maaf, kalau kalian lama menunggu kami, kalian makan saja duluan."


"Kalian ini ya, sukanya mengkontaminasi otakku yang masih polos ini," ujar Renata kesal.


Nenek Miranti hanya bisa tersenyum melihat tingkah cucunya.


Beberapa menit kemudian Nara dan Jaden turun dengan berpegangan tangan dan mereka menuju meja makan.


"Kalian lama sekali, aku sampai kelaparan," celetuk Renata kesal.


"Salah sendiri. Aku sudah bilang untuk makan lebih dulu tidak perlu menunggu aku dan Nara."


"Nek, boleh tidak itu cucunya aku culik dan aku kirim ke negara yang tidak ada di dalam peta. Enak sekali kalau dia bicara."


"Kita makan sekarang saja. Aku sudah lapar." Jaden seolah tidak memperdulikan omongan Renata.


"Nara, kamu kenapa bisa betah dengan suami seperti dia?"


"Dia akan bersikap beda jika denganku, dan aku tau siapa Jaden Luther yang sangat aku cintai itu."


"Aku benar-benar salut dengan kalian berdua yang bisa melewati banyak cobaan."


"Tentu saja karena aku yakin pada suamiku jadi tidak akan ada yang membuat aku dan Jaden berpisah." Nara menatap tegas pada Renata.


"Tapi yang aku pahami, tentang suatu hubungan. Ada satu yang bisa membuat suatu hubungan yang benar-benar terjalin baik bisa retak, yaitu perselingkuhan. Aku pernah melihat sendiri dari kedua orang tuaku. Aku mengatakan hal ini hanya ingin kalian berdua jangan sampai hal itu menimpa kalian." Wajah Renata seketika tampak sedih.


"Memangnya kedua orang tua kamu kenapa?" tanya Nenek.


"Orangtuaku berpisah, Nek, karena perselingkuhan diam-diam yang ayahku lakukan dengan mantan kekasihnya."


"Perselingkuhan memang tidak dapat dimaafkan, Renata, dan mungkin jika hal itu terjadi, aku juga tidak akan bisa memaafkannya."


"Tapi mamaku bisa memaafkannya, hanya saja sekarang hubungan mereka tidak seperti dulu. Ah sudahlah! Kenapa juga membahas masalahku. Aku bodoh sekali malah membahas hal sedih."


Tangan Nenek Miranti menggenggam erat tangan Renata. "Tidak apa-apa jika kamu ingin mengurangi kesedihan yang kamu rasakan, Renata."


"Aku bukan pria seperti itu dan Nara tau hal itu. Buatku hanya satu cinta di hatiku dan tidak akan ada ruang untuk orang lain."


Mereka kemudian melanjutkan makan paginya, dan siang harinya Renata izin untuk pulang ke rumah karena harus menyiapkan keberangkatannya.

__ADS_1


"Jangan lupa untuk menghubungi nenek jika kamu sudah sampai di sana."


"Iya, aku akan menghubungi kalian semua. Leo, kamu juga jangan matikan ponsel kamu walaupun tengah malam."


"Saya tidak pernah mematikan ponsel, bahkan ponselku selalu menyala dua puluh empat jam."


"Oh ya? Kenapa aku pernah menghubungi kamu, tapi tidak aktif?"


"Mungkin waktu itu baterai saya habis."


"Kalau begitu jangan sampai kehabisan baterai lagi."


Leo mengangguk. Renata pamit dan pergi dari rumah itu. Jaden memeluk Nara dengan erat dan mendekatkan bibirnya pada telinga Nara.


"Sekarang rumah menjadi damai tidak ada yang berisik, dan aku pastikan nanti malam kamu bisa memenuhi janjimu dengan baik."


"Kenapa yang diingat hanya hal itu?"


"Supaya kamu tidak pura-pura lupa. Nek, Leo, apa kalian mau pergi makan malam denganku dan Nara malam ini?"


"Nenek tidak bisa ikut karena nanti malam teman-teman nenek yang baru datang dari Swiss mau berkunjung ke sini."


"Kalau kamu, Leo?"


"Saya, tidak bisa ikut karena tidak mau mengganggu kalian berdua."


Plak


Lengan tangan Jaden mendapat pukulan dari Nara. "Kenapa mengajak kalau aslinya tidak berniat mengajak Leo?"


"Aku punya niat mengajak, tapi kalau Nenek tidak bisa ikut sebaiknya Leo juga tidak ikut. Benar apa kata dia, nanti dia malah mengganggu."


"Dasar! Tapi, kenapa kamu tidak tanya aku mau makan malam atau tidak? Kenapa mendadak seperti ini?"


"Aku tidak perlu tanya kamu, aku yakin kamu tidak akan menolak."


"Kalau aku menolak bagaimana?"


"Aku tinggal menculik kamu dan menyuruh pengawalku membawa kamu ke restoran di mana aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita." Jaden melepaskan pelukannya dan berjalan pergi dari sana.


"Dia itu menyebalkan ya, Nek?"


"Dia itu suami kamu, Nara."

__ADS_1


"Di juga cucu nenek." Nara tersenyum dan memeluk wanita paruh baya itu.


"Em! Nara, apa kita bisa bicara sebentar?" Leo tiba-tiba bertanya pada Nara.


"Kalian bicaralah dan nenek mau menghubungi teman-teman nenek dulu."


Nara dan Leo pergi dari sana dan berjalan menuju kolam renang. Entah apa yang mereka bicarakan, mereka berdua terlihat serius.


Jaden di dalam kamarnya sedang menghubungi seseorang. "Bagaimana dengan tugas yang sudah aku suruh? Apa kamu mendapat sesuatu yang bisa kamu laporkan padaku?"


"Selama saya pantau, tidak ada hal yang aneh yang dilakukan oleh Tuan Jacob, Tuan. Tuan Jacob tampak biasa saja."


"Ya sudah kalau begitu. Kamu terus awasi dia saja. Kalau ada hal yang penting segera kamu laporkan padaku."


"Baik, Tuan."


Jaden dan anak buahnya mengakhiri panggilan teleponnya. Pria itu tampak berdiri di dekat jendela kamar tidurnya. Dia melihat Nara dan Leo sedang berbicara berdua. Jaden mengkerutkan alisnya, dia penasaran dengan apa yang sedang Leo dan Nara bicarakan.


Tidak lama Nara berjalan menuju kamar tidurnya. Dia melihat suaminya yang berdiri dengan salah satu matanya memicing.


"Kenapa melihatku begitu?"


"Apa kamu dan Leo sedang merencanakan sesuatu hal?"


"Apa? Merencanakan apa?"


"Apa kamu dan Leo ada affair di belakangku?" Jaden berjalan mendekat pada Nara dan menarik dengan cepat pinggang Nara sampai tubuh wanita itu sangat dekat dengan Jaden.


Nara tersenyum miring. "Kenapa? Kamu takut kalau aku dan Leo ada hubungan di belakang kamu?"


"Coba saja kalau kamu berani. Aku habisi Leo tanpa tersisa."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan terhadapku?"


"Aku akan menjadikan kamu tawananku dan akan aku siksa setiap hari sampai kamu memohon ingin mati saja."


"Kejam sekali." Tangan Nara malah menggelayut pada leher suaminya.


Jaden dengan cepat mengangkat tubuh Nara dan menggendongnya di depan. "Aku bisa sangat kejam jika hatiku benar-benar merasakan sakit." Bibir pria itu mengecup lembut bibir Nara.


"Kenapa kamu selalu berpikiran buruk pada Leo? Dia tadi sedang membicarakan tentang Renata. Leo juga tidak akan berani bermain api denganku, dia cerdas, tau siapa lawannya."


"Memangnya apa yang dia bicarakan? Apa dia ingin mengatakan cinta pada Renata?"

__ADS_1


"Dia tidak tau bagaimana perasaannya pada Renata. Dia merasa tidak pantas jika harus disandingkan dengan Renata yang kamu tau sendiri siapa dia dan siapa Renata."


"Dasar Leo Bodoh! Kenapa dia harus berpikiran seperti itu? Renata itu orang yang terbuka, jadi dia tidak perlu memikirkan hal itu." Nara hanya terdiam di dalam gendongan Jaden.


__ADS_2