
Nara menoleh dengan gerakan patah-patah melihat pada pria yang ada di belakangnya.
"Tuan sudah bangun? Aku mau mandi dan berganti baju, aku juga mau membuatkan sarapan pagi untuk semua penghuni rumah ini."
"Bawa saja baju-baju kamu ke sini dan lakukan semua di kamarku. Aku tidak akan keberatan." Jaden berusaha bangun dari tidurnya. Nara yang melihat Jaden mengalami kesulitan untuk bangun seketika. membantu Jaden.
"Kamu tidak keberatan akan hal itu, tapi aku yang keberatan. Hubungan kita ini hanya sebatas Tuan dan pelayannya saja. Ini saja aku aneh kenapa mau tidur satu ranjang sama kamu, Tuan?"
"Kitakan tidak melakukan apa-apa, lagipula aku punya alasan mengajak kamu tidur satu ranjang agar aku tidak kesulitan saat memerlukan bantuan kamu tengah malam. Kamu tau sendiri aku tidak bisa bangun dengan cepat dari tempat tidur."
"Iya, tapi tetap saja salah. Kita itu bukan suami istri. Kasihan suamiku kelak," oceh Nara.
"Kasihan kenapa?"
"Ya kasihan. Istrinya sudah pernah tidur dan dicium oleh pria lain. Apalagi pernah dilihat seluruh tubuhnya oleh pria lain," Nara menerangkan sambil menata bantal untuk sandaran Jaden.
Tangan Jaden seketika menarik pinggang Nata mendekat ke arahnya. Jarak mereka sangat dekat, bahkan Nara dapat mencium aroma napas segar Jaden, walaupun Jaden baru bangun tidur.
Mata Nara mendelik melihat wajah pria itu. " Kalau begitu tidak perlu menikah dengan orang itu." Nara hanya terdiam mendengar ucapan Jaden. "Kamu jadi saja pelayanku seperti ini, dan aku jamin hidup kamu akan bahagia."
"Aku tidak bisa berpikir apa-apa, aku jalani saja semua ini." Nara menarik dirinya menjauh dari Jaden. "Aku akan menyeka tubuh Tuan JL, setelah itu aku akan membuatkan sarapan terus mandi."
"Kamu dengar, kan, apa yang aku perintahkan tadi?"
"Soal apa?" Nara pura-pura lupa saja.
Jaden menghela napasnya kecil. "Jangan pura-pura lupa kamu, Nara."
"Apa boleh aku tetap memiliki kamar sendiri di rumah Tuan? Setidaknya aku masih ada privasi untuk diriku."
"Privasi? Kamu tidak berhak memiliki privasi di sini, semua yang kamu lakukan tidak boleh lepas dari pengawasanku. Bawa semua baju kamu ke sini selama kamu merawatku."
"Iya, Tuan." Nara beranjak ke kamar mandi dan mengambil alat tempur untuk menyeka tubuh Jaden.
Nara menyeka tubuh Jaden dengan sangat telaten dan Nara sudah tidak merasa aneh lagi dengan semua yang dilihat pada tubuh Jaden.
__ADS_1
"Nanti Leo akan membawa kursi roda untukku, jadi nanti kamu hanya perlu mengantarkan aku ke dalam kamar mandi. Aku akan mandi sendiri."
"Iya." Nara berjalan mencarikan baju untuk Jaden ganti. Setelah selesai merawat Jaden. Nara izin pergi untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi ...," sapa seseorang pada Nara yang sedang sibuk memasak dengan alat penggorengannya.
"Mas Leo, Mas Leo sudah datang ke sini? Aku kok tidak dengar tadi ada orang masuk?"
"Maaf, aku mengagetkan kamu, tadi penjaga di luar yang membukakan pintu untukku."
"Mas Leo, sarapan pagi dulu di sini sama aku. Nanti aku antar makanan dulu ke kamar Tuan Jaden, lalu kita bisa sarapan pagi bersama."
"Aku mungkin tidak bisa sarapan pagi dengan kamu, Nara. Aku mau menemui tuan Jaden sebentar untuk membantunya memakai kursi roda, lalu aku akan ke kantor untuk memimpin sebuah rapat karena tuan Jaden belum bisa masuk kantor hari ini."
"Sayang sekali. Ya sudah nanti malam saja Mas Leo ke sini untuk makan malam, aku akan membuatkan makanan spesial, atau kita bisa buat grill bersama. Di kulkas aku lihat ada daging slice dan beberapa udang."
Leo tampak tersenyum. "Kamu sedang mencari teman buat ngobrol ya?"
"Iya, sih, habis di sini lama-lama aku agak bosan juga tidak berbuat hal lainnya selain mengurus Tuan JL."
"Suka, memangnya kenapa, Mas Leo?"
"Kalau mau, kamu bisa membaca di ruangan kerja Tuan Jaden, di sana ada beberapa buku bacaan yang bisa kamu pinjam, tapi ingat, kamu jangan menyentuh hal lainnya nanti."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Nanti aku juga akan meminta izin pada Tuan JL."
"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar Tuan Jaden dulu untuk mengantar kursi rodanya." Nara mengangguk dan dia kembali berkutat dengan masakannya.
Beberapa menit kemudian Leo datang dengan dua pengawal. "Mas Leo mau langsung ke kantor?"
"Iya, Nara. Nanti kalau kamu memerlukan bantuan, kamu minta tolong saja sama beberapa penjaga di sini."
"Iya, Mas Leo. Mas Leo beneran tidak mau makan di sini?"
"Terima kasih, Nara. Oh ya, Nara, nanti akan datang terapis yang akan melakukan terapi pada tuan Jaden. Dia akan datang dengan dokter Will. Tolong bantu mereka juga karena memang hari ini aku sangat sibuk di kantor. Mungkin nanti malam aku baru bisa ke sini lagi atau bahkan tidak bisa datang."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa Mas Leo. Mas Leo tenang saja."
Leo dan dua penjaga keluar dari dalam rumah. Nara segera membawakan beberapa makanan untuk Jaden karena Jaden harus segera minum obatnya.
"Nara, apa kamu mau meminjam buku di ruang kerjaku? Tadi Leo bercerita denganku."
"Iya, apa boleh aku meminjam beberapa buku di sana? Aku suka selalu membaca buku."
"Kamu boleh meminjamnya, tapi jangan menyentuh apapun selain buku yang ingin kamu baca."
Nara mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulut Jaden. Setelah makanan di piring Jaden habis. Nara mengambilkan obat yang harus diminum oleh Jaden.
"****! Kenapa harus minum obat lagi?" ucap Jaden kesal.
"Tuan, kan, memang harus minum obat selain nanti di terapi, supaya cepat sembuh. Tuan menurut saja, lagian tidak enak kalau sakit seperti ini terus."
"Apa tidak ada obat lewat suntikan saja daripada harus minum obat seperti ini?"
Nara tampak berpikir sebentar agar pria besar yang tampak sadis, tapi takut obat ini bisa minum obat tanpa memakai drama.
"Sebentar kalau begitu. Tuan di sini dulu, aku mau mengambil sesuatu."
Nara berlari keluar kamar dan menuju dapur, tidak lama Nara kembali dengan satu buah pisang berukuran sedang di tangannya.
"Jadi kamu cepat-cepat berlari keluar tadi hanya untuk mengambil pisang? Dasar gadis aneh." Jaden menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Pisang ini untuk kamu Tuan Jaden."
"Untukku? Kenapa aku kamu beri pisang? Memangnya bisa sembuh dengan makan pisang itu?" Sekarang kedua alis Jaden mengkerut.
Nara yang mendengarnya mengerucutkan bibirnya lucu. "Tidak pintar," celetuk Nara.
"Apa kamu bilang?"
"A-aku tidak bilang apa-apa. Tuan JL obat kamu mana?" Tangan Nara menjulur meminta obat yang tadi Nara sudah berikan pada Jaden, tapi memang belum Jaden minum."
__ADS_1