Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Tidur yang Rumit


__ADS_3

Jaden sudah duduk di atas tempat tidurnya. Nara juga sudah siap tidur di sofa panjang tepat di depan ranjang Jaden.


"Nara, tolong ambilkan laptopku karena aku mau memeriksa pekerjaanku."


"Ini, kan, sudah malam Tuan. Apa Tuan Jaden tidak mau tidur saja?"


"Kamu kalau sudah mengantuk tidur saja, jangan cerewet. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Iya-iya." Nara mengerucutkan bibirnya dan berjalan mengambilkan laptop untuk Jaden. Tidak lama Nara bersiap benar-benar akan tidur. Di luar sudah terdengar suara rintik hujan yang perlahan mulai deras.


"Apa kamu yakin mau tidur di sana? Kamu tidak takut nanti dengan suara petir?"


"Aku yakin, Tuan dan nanti kalau aku takut, aku tinggal memeluk sofa saja," Nara mulai menyelimuti tubuhnya dengan selimut putih yang tebal.


Jaden duduk bersandar pada ranjangnya hanya bisa terdiam. Saat melihat Nara mulai nyaman dalam tidurnya, kemudian pria itu mulai membuka laptopnya dan mulai fokus pada pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian. Jaden mendengar suara Nara yang mengingau akan suatu hal yang tidak jelas, tidak hanya itu Jaden mendengar Nara seperti sedang menangis memohon sesuatu.


"Anak itu kenapa? Pasti dia mimpi buruk lagi?" Jaden tidak bisa mendekati Nara karena dia tidak bisa bangkit dan duduk di kursi rodanya tanpa bantuan orang lain.

__ADS_1


Tidak lama Nara mulai terlihat tenang. "Jangan ...!" Nara berteriak sampai terbangun dari tidurnya.


Jaden yang melihatnya terkejut dan kedua pasang mata itu saling bertatapan. "Nara, kamu kenapa?" tanya Jaden yang sebenarnya panik.


Terdengar suara petir yang amat keras yang membuat Nara seketika memeluk kedua lututnya karena kaget bin takut.


"Kenapa aku dari tadi bermimpi yang buruk terus?" omel Nara.


"Kemarilah, Nara. Aku sudah bilang supaya kamu tidur di sampingku, dan tadi kamu mengingau tidak jelas sampai menangis."


"Aku tidak apa-apa, Tuan."


"Tapi aku ingin tidur di sini saja, Tuan." Nara masih teringat dengan ucapan Sandra.


"Kamu mau membantah?"


"Aku benar tidak apa tidur di sini, Tuan. Tadi aku hanya mimpi buruk saja."


"Dasar keras kepala!" Jaden berusaha turun dari tempat tidurnya dengan menahan rasa sakit. Nara yang melihat hal itu menjadi khawatir. Dia segera meloncat dari tempat tidurnya dan segera menahan agar Tuannya tidak sampai turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Tuan mau apa?"


"Mau menggendong kamu agar mau tidur di sampingku."


"Iya-iya, aku mau tidur di samping Tuan." Nara akhirnya menyerah daripada nanti Jaden malah tambah sakit dan tidak sembuh-sembuh, bisa-bisa dia tambah lama menjadi perawat Jaden.


Nara mengambil bantal dan selimutnya. Dia naik ke atas ranjang dan tidur di samping Jaden.


"Tuan tidak tidur?"


"Kamu tidur saja karena pekerjaanku belum selesai."


Nara mengangguk lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Jaden tersenyum melihat punggung Nara. Pria itu kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Sekitar satu jam, Jaden sudah mulai merasakan kantuk. Dia menutup laptopnya dan sekali lagi melihat ke arah gadis yang tidur di sampingnya. Nara tampak mengeratkan tubuhnya seperti memeluk kedua lututnya saat terdengar suara petir yang keras.


Jaden perlahan berbaring di samping Nara. Entah kenapa Jaden ingin memeluk tubuh Nara. Dengan menahan rasa sakit pada punggungnya. Pria tinggi besar itu memiringkan tubuhnya dan tidur dengan memeluk tubuh gadis yang menjadi pelayannya. Tangan Jaden menarik tubuh Nara lebih dekat padanya.


"Aku sengaja memelukmu agar kamu tidak kabur dan berpindah tempat diam-diam," bisik Jaden pada telinga Nara.

__ADS_1


__ADS_2