
Nara melihat dengan mata lelahnya pada Jaden yang kembali duduk di kursinya.
"Tuan JL mau makan apa?" tanyanya dengan suara lirih.
"Kamu kenapa? Jangan berpura-pura sakit dan meminta dikasihani karena aku tidak akan kasihan sama kamu. Sekarang kamu buatkan nasi goreng yang waktu itu kamu buatkan untukku."
Nara terdiam di tempatnya. "Tunggu apa lagi?" bentak Jaden kasar dan membuat Nara yang memang merasakan badannya tidak enak menjadi kaget.
"I-iya," ucap Nara terbata dan lirih.
Nara berjalan menuju dapur dan membuka kulkas untuk mencari bahan masakan. "Badanku kenapa sakit begini? Tapi aku tidak boleh lemah. Aku tidak mau di marahi terus oleh pria dingin itu."
Nara mulai membuat nasi goreng yang di minta oleh Jaden. Beberapa menit kemudian nasi gorengnya sudah jadi. Nara meletakkan piring Jaden tepat di depannya.
"Silakan makan, Tuan."
"Piring kamu mana? Temani aku makan, aku tidak mau makan sendirian."
Nara tidak menjawab hanya langsung duduk di samping Jaden. Jaden mulai menikmati makan paginya.
"Makanan apa ini? Kamu mau meracuniku dengan membuat nasi goreng tidak enak begini?" sungut Jaden marah, bahkan dia langsung melempar piringnya.
__ADS_1
Nara sekali lagi sangat terkejut mendengar suara pecahan piring yang tadi dilempar Jaden.
"Masakan aku kenapa? Aku memasak seperti biasa."
"Cicipi," ucapnya tegas.
Nara menyendokkan nasi goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya. Sedetik kemudian wajah Nara mengerut dengan lidah menjulur keluar. "Aneh sekali. Apa aku salah memasukkan bumbu?"
"Dasar bodoh!"
"Badanku tidak enak. Apa kamu minta tolong bi Ima saja untuk membuatkan sarapan untuk kamu? Aku izin hari ini untuk istirahat."
"Enak sekali ucapan kamu. Bi Ima hari ini dan mungkin sampai satu minggu ke depan tidak akan masuk bekerja karena dia sudah minta izin ingin pulang ke kampungnya. Jadi, kamu yang harus melayaniku dan membereskan semua yang ada di sini."
"Tapi--."
"Tidak ada tapi." Jaden memotong ucapan Nara. "Sekarang buatkan lagi nasi gorengnya. Cepat!"
Nara beranjak dari tempatnya dan berjalan perlahan menuju dapur. Tidak lama terdengar suara benda terjatuh dengan keras ke lantai. Jaden menoleh ke asal suara itu dan mendapati tubuh Nara yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai.
"Nara?" Jaden segera mendekat pada Nara dan memeriksanya. "Dia pingsan dan tubuhnya panas sekali." Jaden segera menggendong Nara dan membawanya ke kamar Nara.
__ADS_1
Jaden membaringkan tubuh Nara di atas ranjangnya dan mengambil ponselnya. "Dia menyusahkan saja."
"Halo, ada apa temanku, Jaden?" tanya suara pria di seberang telepon santai.
"Aku membutuhkan kamu datang ke rumahku."
"Maaf, Jaden, aku tidak bisa datang karena aku sekarang berada di luar negeri dan akan kembali lusa. Memangnya ada apa?"
"Gadis yang aku bawa kemarin mengalami demam. Tubuhnya panas lagi."
"Apa dia sudah makan? Atau dia bekerja di rumah kamu terlalu berat?"
"Semalaman aku mengurungnya di kamar mandi karena dia sudah berani membangkang perintahku."
"Apa? Kamu jangan terlalu kejam pada gadis itu."
"Apa aku meminta pendapat darimu? Cepat ke sini dan urus dia, kalau perlu aku akan mengirim jet pribadi untuk memulangkan kamu secepatnya."
"Selalu begitu. Kamu beri saja obat penurun panas dan kompres saja kepalanya dengan waslap dan air biasa. Nanti juga demamnya akan turun."
"Bagaimana kalau tidak turun?"
__ADS_1
"Lakukan saja metode skin to skin dengannya, itu juga dapat menurunkan demamnya. Kalau belum turun juga, kamu harus membawanya ke rumah sakit."
"Skin to skin?" ucap Jaden lirih.