Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Akhirnya ... Jaden Kalah


__ADS_3

"Dia bukan kekasihku, Nara," ucap Jaden sekali lagi menjelaskan pada Nara, tapi seolah gadis di depannya ini belum puas hanya dengan Jaden menjawab seperti itu.


"Tapi dulu kalian kekasih, bukan?"


"Dulu, dulu sekali, Nara. Aku bahkan sudah lupa pernah menjalin hubungan dengannya."


"Tapi Tuan sampai sekarang masih mencintainya, Kan?"


"Tidak, dia hanya masa lalu yang sudah aku lupakan."


"Bohong. Tuan tadi sangat mesra dengannya, itu berarti Tuan masih ada rasa cinta dengannya dan dia juga karena dia tadi berani mengancamku agar tidak mendekati Tuan."


Jaden menarik lembut tangan Nara. Mendekatkan Nara pada tubuhnya. "Dia mungkin memang masih mencintaiku, tapi aku sama sekali tidak mencintainya."


"Siapa yang Tuan cintai?" tanya Nara seketika.


"Nara, kita tidak perlu membahas tentang hal tadi. Kamu juga sudah berjanji padaku." Seketika Jaden melepaskan tangan Nara.


"Tuan, apa karena ancaman wanita itu jadi Tuan takut jika mencintai seseorang?" Nara menatap serius.


"Tidak hanya itu, Nara, tapi banyak hal."


"Lalu, kenapa Tuan tidak takut mencintai Wanita cantik itu? Apa Tuan tidak takut dia disakiti oleh musuh Tuan nantinya?"


"Kamu dan Mauren berbeda, Nara."


Nara malah menarik senyum devilnya. "Berbeda, akhirnya Tuan kembali mengingatkan lagi tentang siapa aku."


"Oh God! Bukan itu maksudku, Nara."


"Lalu, apa?"


"Nara, bisa tidak, kita tidak perlu berdebat masalah ini lagi? Percayalah padaku, bahwa Mauren itu sudah bukan siapa-siapaku lagi dan hubungan kita tetap seperti apa yang sudah kita bicarakan."

__ADS_1


"Ck! Baiklah. Tuan, kamu pernah memberiku pilihan waktu itu. Aku boleh keluar dari rumah Tuan dan Tuan akan menjamin kehidupanku, atau aku tinggal di sini dan menjalani semuanya seperti biasanya, tanpa menuntut apapun. Aku sekarang memutuskan lebih baik aku pergi saja dari sini."


Kedua alis Jaden hampir menyatu. Tatapannya berubah tajam. "Apa kamu sudah memutuskan hal itu?"


"Iya, aku sudah memutuskannya, walaupun pasti sangat menyakitkan buatku karena aku sangat mencintai Tuan, tapi akan lebih menyakitkan jika nanti harus melihat Tuan bersama wanita lain."


"Tidak akan ada wanita lain, Nara, dan tidak akan pernah karena--." Jaden lagi-lagi tidak meneruskan kata-katanya.


"Karena apa?"


"Pergilah kalau kamu memang ingin pergi. Aku membebaskan kamu." Jaden memberikan sebuah ATM pada Nara. Dia ingin tau apa Nara benar akan berani pergi darinya.


"Apa ini, Tuan?"


"Itu gaji kamu selama kamu di sini dan janjiku akan menjamin masa depan kamu. Kamu bisa pergunakan uang yang ada di sana. Nomor pinnya akan aku kirim sama kamu."


Nara tidak percaya jika Jaden melakukan hal ini. Feeling Nara yang mengira Jaden memiliki perasaan yang sama dengannya hanya saja Jaden tidak mau mengatakan ternyata salah. Dalam benaknya juga, Nara menanggap Jaden tidak jujur karena tidak mau mengatakan kenapa dia bisa mencintai Mauren? Tapi tidak bisa mencintainya. "Terima kasih." Nara memutuskan mengambil ATM itu dan akan mempergunakan uang itu untuk melanjutkan hidupnya.


Tampak setetes air keluar dan jatuh perlahan dari pelupuk mata Nara. "Tuan, sebenarnya aku tidak takut dengan ancaman wanita itu atau bahaya apapun jika aku bersama dengan Tuan Jaden asal aku mengetahui jika Tuan memang mencintaiku, hanya saja Tuan takut karena tidak mau aku dalam bahaya. Namun,


"Karena memang aku tidak mencintai siapapun, Nara." Jaden membuang mukanya.


"Terima kasih sekali lagi, sekarang aku sudah mendapat kejelasan dan aku tidak mau menjadi pelayan bodoh terus dengan tetap di sini."


"Kalau begitu, saya mau izin untuk pergi dari rumah, Tuan JL. Tolong katakan pada nenek aku minta maaf, mungkin aku tidak bisa bertemu dengan nenek lagi karena aku mau benar-benar pergi dari jauh dari orang-orang masa laluku termasuk, Tuan."


Nara keluar dari kamar Jaden dan menuju kamarnya untuk mengambil tas sekolahnya. Jaden masih tetap berdiri diam di tempatnya tanpa melakukan apapun.


Nara yang berada di dalam kamarnya menangis terduduk di bawah lantai. Dia benar-benar bingung. Dia berat sekali ingin meninggalkan rumah itu, apa lagi harus meninggalkan Jaden.


"Aku harus mengambil sikap. Selama ini aku bisa menerima alasan dia tidak bisa mencintai seseorang karena dia tidak mau wanita yang dia cintai dalam bahaya karena dunia gelap yang dia jalani, tapi kenapa dia bisa mencintai wanita cantik itu? Jaden tidak mencintai kamu sama sekali Nara. Sadarlah!" Nara berdialog kesal dengan dirinya sendiri.


Nara beranjak dari tempatnya dan mengambil tas sekolahnya. Nara tidak membawa baju pemberian Jaden, hanya baju yang dia pakai dan seragam sekolahnya saja yang dia bawa.

__ADS_1


Nara keluar dari kamarnya dan kembali menuju kamar Jaden karena ada yang harus dia berikan pada Jaden. Nara melihat pria yang sangat dia cintai masih berdiri di sana dengan membelakanginya.


Nara berjalan perlahan dengan sekuat tenaga menahan air matanya. "Tuan, tolong berikan cincin ini pada nenek karena aku tidak pantas memilikinya. Simbol dari cincin ini begitu bermakna, tapi cincin ini tidak pantas untukku." Nara mengulurkan tangannya, tapi Jaden masih tidak bergeming pada tempatnya.


"Buang saja kalau kamu tidak mau menerimanya karena aku tidak mau harus menjawab pertanyaan dari nenek jika aku mengembalikan cincin itu," Jaden berkata dengan tidak melihat pada Nara.


Nara tidak mungkin membuang cincin itu berjalan dan sekarang dia berada di depan Jaden. Kedua pasang mata saling menatap, tapi dengan sorot yang berbeda.


"Aku tidak mungkin membuangnya. Ini pemberian mendiang kakek kamu--orang yang sangat dicintai oleh Nenek kamu, dan cincin ini memiliki arti cinta yang kuat. Cinta kakek Tuan pada nenek." Nara membuka telapak tangan Jaden dan meletakkan di dalamnya. Kemudian dia menggenggamkan tangan Jaden.


Klinting!


Terdengar suara benda berdenting, apa lagi kalau bukan cincin yang dilempar Jaden seenak jidatnya.


Nara yang melihat, terkejut. "Kenapa Tuan JL buang?" Nara mencoba mencari cincin itu di bawah Jaden.


"Tidak perlu kamu cari, Nara! Pergilah kalau kamu memang ingin pergi!" usir Jaden kasar.


Nara yang mendengar itu mendongakkan kepalanya melihat pria yang menunduk menatapnya dengan tajam.


Nara terdiam sejenak dan mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap cincin yang ada dibawah lemari. Nara segera mengambilnya dan meletakkan di atas meja nakas samping ranjang Jaden.


Nara melihat tidak percaya pada Jaden. "Aku permisi dulu, Tuan." Dengan langkah berat Nara melangkah menuju pintu kamar Jaden.


"****!" Jaden kesal dan berbalik, dia menarik tubuh Nara dan memeluknya dari belakang. "Aku mengaku kalah, Nara. Jangan jauh dariku karena aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu." Jaden mengeratkan pelukannya pada Nara dan agak membungkuk mengecup lembut ceruk leher Nara.


"Aku mencintai kamu Nara."


Nara memejamkan kedua matanya sampai terlihat air matanya menetes perlahan di pipinya.


Hatinya seolah tidak percaya mendengar apa yang baru saja Jaden katakan.


"A-apa kamu bilang Tuan JL? Kamu jangan membodohi aku lagi."

__ADS_1


"Aku mencintai kamu, Naraya Sabila gadis pelayanku. Kamu menang sekarang, apa kamu puas membuatku kelihatan bodoh seperti ini?" ucap Jaden.


__ADS_2