
Nara melihat suaminya yang tidur di sebelahnya dengan membalikan tubuhnya. Nara sekali lagi mengamati sekelilingnya.
"Ini seperti rumah, tapi bentuknya minimalis sekali." Nara beranjak dari tidurnya dan berkeliling ke dalam rumah. Nara tampak tersenyum senang.
"Rumah ini kecil, tapi indah sekali." Nara berjalan ke dekat jendela yang terbuat dari kayu dan bau kayu itu harum.
Saat membuka jendela dia disuguhkan oleh pemandangan jalanan yang banyak sekali anak bermain bola. Di sana juga Nara dapat melihat laut yang indah.
"Halo!" Salah satu anak yang bermain bola tepat di bawah jendela rumah Nara melambaikan tangan menyapa Nara. Nara tampak tersenyum dan membalas lambaian tangan bocah laki-laki itu.
"Dia tampan sekali," puji Nara.
"Pagi, Istriku." Sebuah kecupan kecil mendarat pada pipi Nara dan tangan pria yang adalah suami Nara itu memeluk perut Nara erat.
"Pagi, Tuan JL." Nara berbalik badan dan mereka saling berciuman.
Jaden melepaskan ciumannya dan mengusap lembut bibir Nara dengan telunjuknya. "Nara, bisa tidak memanggilku dengan sebutan lainnya? Kalau Tuan JL kedengarannya sangat aneh. Kamu bukan pelayan aku lagi sekarang. Kamu ratuku."
Nara tampak berpikir sejenak. "Memangnya kamu mau aku panggil apa? Suamiku, sayangku, cintaku atau priaku?"
"Panggil sayang saja, kamu tidak keberatan, Kan?"
"Baiklah, Sayangku," ucap Nara dan Jaden tampak tertawa kecil. "Kenapa tertawa?"
"Kedengarannya agak aneh, kenapa aku lebih suka kamu memanggilku Tuan JL ? Kedengarannya seperti kamu sangat menginginkan aku."
"Pikiranku tidak semesum itu, Sayang."
"Apa benar kamu tidak menginginkan aku?" Jaden mendekatkan wajahnya pada Nara.
Nara menggelengkan kepalanya cepat. Dia bermaksud menggoda suaminya itu. "Aku tidak menginginkan kamu, Sayang." Nara berlari dan Jaden yang gemas mengejarnya. Jadilah mereka saling mengejar satu sama lain.
Nara tampak bahagia, sampai akhirnya Jaden dapat menangkap istri kecilnya itu dan mengukungnya pada daun pintu.
"Katakan! Apa kamu tidak menginginkan aku?" Tatap Jaden tajam.
Nara sekali lagi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menginginkan kamu, Tuan Mafia Kesayanganku," ucap Nara dengan memainkan mimik wajahnya menggoda suaminya itu.
__ADS_1
Jaden yang melihatnya malah tertawa dengan kerasnya. "Kenapa istriku berubah seperti ini?"
"Berubah bagaimana? Aku sedang menggodamu." Nara yang kesal malah memukuli dada suaminya.
Jaden dengan cepat menangkup kedua tangan Nara dan meletakkan di atas kepalanya. Mereka kembali berciuman dengan mesra dan sangat dalam kali ini.
"Tuan JL, em ... maksudku, Sayangku. Ini sebenarnya kita berada di mana? Dan ini rumah siapa?"
"Aku membawamu ke Brazil dan kita akan tinggal di sini dengan orang-orang yang aku tau di sini mereka sangat baik."
"Brazil? Jauh sekali. Kenapa di sini? Tapi memang tempat ini sangat indah dan aku menyukai anak-anak kecil di luar sana, mereka tadi menyapaku sangat ramah."
"Ini tempat yang dua kali ini aku kunjungi dan di sini kita akan merasa aman."
"Apa orang-orangmu ada banyak di sini? Katanya kita akan tinggal di mana tidak ada yang mengenal kita. Kita benar-benar hidup seperti pasangan yang tidak akan memikirkan rasa takut lagi." Nara mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja. Kamu percaya saja denganku." Jaden mengecup kening Nara.
"Aku percaya padamu."
"Nara, ada satu lagi yang ingin aku tunjukkan buat kamu."
"Kita mandi dulu lalu ikut aku pergi ke suatu tempat."
Nara mengangguk dan beberapa menit kemudian mereka sudah siap. Nara dan Jaden pagi ini memakai baju kasual berwarna senada, yaitu putih.
Jaden menggandeng Nara dan membawanya keluar dari rumah mereka.
"Kita mau ke mana?"
"Kamu ikut saja, kita akan berjalan kaki ke sana karena di sini tidak bisa jika kita naik kendaran seperti mobil."
"Tidak apa-apa. Aku malah suka berjalan menikmati pemandangan yang indah dan tanganku digandeng oleh suami yang aku cintai."
Jaden tampak tersenyum pada Nara. Mereka menyurusi jalanan naik turun anak tangga di sana. Nara tampak sangat senang sekali, apalagi dia beberapa kali di sapa anak-anak kecil di sana yang sedang bermain.
"Tuan, tolong lempar bolanya!" teriak seorang bocah laki-laki yang usianya sekitar enam tahun meminta bolanya yang menggelinding dekat Jaden.
__ADS_1
Jaden mengambil bola itu dan berjalan mendekat pada anak itu. Nara tidak menyangka jika Jaden malah mengajak anak itu main bola.
Jaden seperti seorang bocah yang sedang bermain bola dengan teman-temannya.
"Aku membayangkan jika kita memiliki seorang anak. Dia pasti akan mengajak anaknya bermain seperti itu.
Tidak lama Jaden berjalan mendekat pada Nara dengan napas naik turunnya. "Mereka anak-anak yang hebat dan menyenangkan. Aku kira dulu seorang anak kecil itu pasti akan membuat susah, tapi ternyata mereka sangat menyenangkan."
Nara tampak terdiam melihat wajah bahagia Jaden. Nara kembali teringat dengan bayi dalam kandungannya dulu.
"Pasti menyenangkan jika kita memiliki seorang anak," ucap Nara lirih.
Jaden menarik tangan Nara dan mendekapnya. "Suatu hari nanti kita akan memiliki seorang anak yang seperti apa yang kita harapkan, bahkan aku mau memiliki banyak anak dengan kamu."
"Banyak? Kamu saja yang melahirkan."
"Kalau aku bisa, aku mau. Kita akan memiliki lima orang anak saja. Bagaimana?"
Nara berpikir sebentar. "Setuju." Nara tersenyum senang.
Mereka kembali melakukan perjalanan menuju ke tempat di mana Jaden sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil untuk Nara.
Tidak lama mereka Sampai di sebuah cafe minimalis dengan desain Eropa Klasik yang sangat unik.
"Selamat datang di cafe baru milik kita."
"Apa? Cafe milik kita? Bukannya aku sudah kamu belikan di Indonesia. Itu saja belum bisa aku jalankan. Sekarang membuka di sini?"
"Yang di sana sudah aku minta seseorang untuk menjalankannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir, tapi di sini kita akan menjadi pasangan suami istri yang bekerja mengelola tempat ini. Kita akan benar-benar menjadi orang baru yang datang ke sini untuk berbulan madu sekaligus membuka usaha. Pokoknya kita akan hidup secara normal tanpa rasa takut dan penuh cinta seperti apa yang kamu harapkan."
"Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga mencintaimu, Nara."
Jaden menggandeng tangan Nara dan masuk ke dalam, ternyata di sana sudah ada wanita paruh baya yang kemarin memberikan kunci rumah pada Jaden dan sekarang dia yang mengatur semuanya di cafe itu.
Jaden membuka cafenya dengan berbagai hidangan yang istimewa yang sudah dia siapkan secara gratis untuk para warga yang datang ke sana.
__ADS_1
Jaden membuat pesta kecil untuk pembukaan cafe barunya, dan sebenarnya ini Jaden lakukan untuk membuat Nara melupakan kejadian kehilangan anaknya itu agar hati Nara bahagia dan mereka bisa secepatnya dapat memiliki anak lagi.
Stella memberitahu jika Nara tidak boleh terlalu stres agar keadaannya dapat pulih lebih cepat. Nara butuh dukungan dari orang yang paling dia sayangi, yaitu Jaden agar dia tidak merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik.