Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Cinta Tulus Jacob


__ADS_3

Jaden hanya berdiri dengan bersidekap menatap neneknya dan dokter cantik yang sedang memeriksa.


"Jaden, kamu jangan membuat nenek kamu sakit begini. Kasihan, dia." Pemilik mata sayu itu menatap pada Jaden.


"Pemintaan Nenekku terlalu sulit untuk aku kabulkan, jadi dia lebih memilik sakit."


"Dasar cucu tidak sayang neneknya. Di suruh menikah dan memberikan aku cucu saja dia sulit sekali melakukannya."


"Kamu normal, kan, Jaden?"


"Dokter! Cucuku ini sangat normal." Tangan wanita paruh baya itu menepuk tangan dokter cantik yang sedang melihat pada Jaden.


"Hem ... kenapa sekarang Dokter Areta malah menanyakan hal itu?"


Dokter Areta tersenyum kecil. "Habisnya! Nenek kamu ini selalu mengeluh masalah kamu yang tidak mau menikah. Padahal usia kamu seharusnya sudah memiliki istri dan anak. Aku saja sudah memiliki empat orang putra."


"Aku bisa saja memberi nenek banyak cucu, tapi aku tidak mau menikah."


"Jangan bicara sembarangan, Jaden. Hati seroang wanita itu lembut, dan kamu jangan mempermainkannya. Coba kamu jadi adikku. Sudah aku pitis kamu seperti nyamuk," terang dokter yang sudah sangat akrab dengan nenek Miranti itu.


"Coba saja, Dokter Areta belum menikah. Sudah nenek jodohkan saja sama cucuku ini."


"Bisa mati berdiri Dokter Areta jika menjadi istriku," celetuk Jaden sambil berjalan dengan tegas keluar dari kamar Nenek Miranti


"Begitulah cucuku, tapi dia orang yang sangat baik, bahkan rela memberikan kebahagiaannya untuk orang lain."


***


Kanada, tepat pukul dua belas malam. Nara yang gelisah tidak dapat tidur, membuka tutup selimut yang dia gunakan untuk menutupi kepalanya.


"Cathy, apa aku bisa bicara sebentar sama kamu?"


Tatapan tegas seorang wanita dengan sebotol minuman di tangannya melihat pada Nara.


"Mau bicara soal apa?"


"Tuan Jaden."


"Untuk apa kamu ingin bicara tentang Jaden. Dia itu kekasihku, Nara."

__ADS_1


"Aku tau dia kekasih kamu, Cathy, tapi kenapa tadi kamu mengatakan pada pria itu jika aku adalah milik Jaden?" Tatap Nara curiga.


"Aku mengatakan hal itu agar pria itu takut dan melepaskan kamu. Itu saja."


"Cathy, apa kamu mencintai Tuan JL?"


"Cinta? Aku dan Jaden hanya bersepakat untuk saling melengkapi saja. Cinta itu nomor kesekian buat kita. Kenapa? Apa kamu mencintai Jaden?"


Nara terdiam sejenak. "Aku mencintai Tuan JL, bahkan aku sudah memaafkan kesalahannya pada kedua orang tuaku dulu, tapi aku sadar jika dia hanya mempermainkan aku saja. Terima kasih kalau begitu. Aku permisi dulu." Nara berjalan pergi dari sana.


"Kenapa aku malah bertanya pada Cathy tadi? Lebih baik aku benar-benar melupakan Tuan JL. Dia sudah ada yang memiliki Nara," Nara berdialog sendiri.


Nara menjalani hari-hari di rumah Jacob dan kampus seperti biasa. Dia juga sering diajak oleh Jacob makan malam. Kedua orang tua Jacob sangat senang melihat Jacob yang tampak lebih ceria dan semangat hidupnya seperti kembali sepenuhnya sejak bersama Nara.


"Ma, aku mau menjalani terapi untuk kakiku."


"Apa? Kamu serius?"


"Iya, Ma. Kata Nara aku harus tetap yakin akan suatu hal yang baik, dan aku yakin aku pasti bisa berjalan walaupun dokter mengatakan kemungkinannya sangat kecil."


"Aku mau menemani Jacob menjalani terapi untuk kesembuhan kakinya Mama Miranda."


"Terima kasih, Nara." Tangan Nara di genggam oleh Jacob.


"Aku akan menjadi orang yang paling senang jika melihat kamu nanti bisa berjalan lagi, Jacob."


"Setelah aku bisa berjalan aku akan mengajak kamu lomba lari. Apa kamu mau?"


Nara tertawa mendengar permintaan Jacob. "Aku setuju."


"Kalau begitu kalian bicaralah berdua. Mama dan ayah tidak mau mengganggu kalian." Kedua orang tua Jacob meninggalkan Nara dan Jacob berdua di ruang tengah.


"Nara, apa aku boleh bicara serius dengan kamu?"


"Tentu saja, kamu mau bicara apa?"


"Nara, selama beberapa hari ke depan aku dekat dengan kamu. Aku sangat yakin jika aku benar-benar jatuh cinta sama kamu."


"Jacob," ucap Nara lirih.

__ADS_1


"Aku minta maaf jika aku membuat kamu terkejut atau bahkan membuat kamu marah karena hal ini, tapi aku hanya ingin jujur dengan perasaanku, Nara."


"Jujur saja, aku pernah mencintai seseorang, tapi dia ternyata menyakitiku, dan sekarang aku sangat sulit untuk mempercayai apa itu cinta. Bukan kebahagiaan yang aku dapatkan melainkan hanya rasa sakit."


"Nara, aku berjanji tidak akan menyakiti kamu. Aku benar-benar mencintai kamu." Tangan Jacob mengusap lembut pipi Nara.


Nara tampak terdiam dengan apa yang Jacob lakukan padanya. Dia merasakan kelembutan dan ketulusan dari pria yang ada di depannya ini.


"Jacob, aku tidak tau apa yang harus aku katakan sama kamu. Aku tidak berani menjawab sesuatu yang bahkan hatiku sendiri belum yakin akan hal itu."


Dalam hatinya, Nara ingin sekali melupakan Jaden. Mungkin jika dia membuka hatinya untuk Jacob, dia akan bisa melupakan Jaden.


"Kamu tidak perlu terburu-buru mengatakan apapun Nara. Aku senang kamu selalu menemaniku dan tidak meninggalkan aku. Kamu selalu memberi dukungan untukku."


"Kamu pria yang baik, Jacob, dan kamu pantas mendapatkan kebahagian."


"Kamu juga adalah salah satu kebahagian buatku Nara."


Nara menunduk. Tiba-tiba air mata Nara menetes perlahan dan Jacob tampak bingung. Kenapa Nara seolah sangat bersedih?


"Nara, kamu kenapa?" Jari telunjuk Jacob menarik dagu Nara agar gadis itu melihat padanya.


"Nara, jangan menangis." Jacob mengusap air mata Nara pelan. "Kamu jangan merasa terbebani dengan pernyataan cintaku. Kamu boleh menolakku kalau memang kamu tidak bisa menerimaku. Aku tidak akan marah sama kamu." Jacob menunjukkan senyum manisnya.


"Aku bukannya menolak kamu, tapi aku butuh waktu untuk melupakan cinta yang ada di hatiku. Aku tidak mau kamu menjadi pelarianku karena hal itu."


"Ya sudah! Sekarang kembali tersenyumlah karena aku merasa ada yang kurang jika tidak melihat senyum kecil kamu itu." Jacob mencubit kecil hidung Nara.


Nara sekilas teringat dengan apa yang Jaden lakukan.


***


Setelah selesai mengajar, Nara dan Jacob pulang bersama. Mereka menuju rumah sakit untuk memeriksakan kaki Jacob. Dan Jacob mau melakukan terapi agar dia bisa berjalan lagi.


"Seperti sejak awal sudah saya katakan jika Tuan Jacob sangat kecil sekali kemungkinannya untuk bisa berjalan lagi, tapi kalau keinginan kamu sangat kuat. Kita akan mencoba melakukan terapi untuk kaki Jacob."


"Saya masih berharap bisa berjalan kembali, Dok. Saya bersedia melakukan terapi untuk kaki saya."


Jacob melihat pada Nara.

__ADS_1


Nara tampak tersenyum dan memegang tangan Jacob.


__ADS_2