
Nara segera menyalahkan wastafel dan mencuci mukanya bahkan dia mengusap bibirnya berkali-kali seolah-olah dia ingin membersihkan bekas ciuman Jaden, walaupun itu percuma saja karena ciuman pertama Nara sudah direnggut secara tiba-tiba oleh pria dingin yang Nara benci.
"Kenapa dia tadi malah menciumku? Dan kenapa juga aku malah diam saja dicium sama dia? Paijo... Kenapa ini semua terjadi padaku? Aku ingin sekali bercerita dan meminta tolong sama kamu, tapi aku tidak tau bagaimana caranya?" Nara perlahan melorot ke bawah cabin dan duduk dengan wajah yang amat sedih.
Tidak lama Nara mendengar suara telepon berdering di dekatnya. Nara yang terkejut segera mencari di mana asal suara telepon itu. Nara melihat ke atas pojok kanan. dan ternyata di dinding itu ada pesawat telepon yang menempel.
Nara mengangkat perlahan gagang telepon dengan agak takut. Terdengar suara bariton yang Nara kenal.
"Apa kamu ingin terus di kamar mandi? Jangan buat aku lama menunggu, Gadis Bodoh! Cepat keluar dan layani keperluanku!" seru Jaden kesal.
"A-aku masih berganti baju, Tuan JL." Nara seolah punya kesempatan saat mengetahui ada pesawat telepon di kamar mandi.
__ADS_1
"Cepat selesaikan dan keluar. Kamu aku ingatkan untuk tidak coba-coba menggunakan pesawat telepon itu jika kamu masih mau nyawa sahabat laki-laki kamu dan neneknya itu baik-baik saja." Jaden langsung memutus panggilannya.
"Halo....! Halo... Kenapa dia mengatakan tentang sahabat laki-lakiku dan neneknya?" Nara berpikir sebentar. Dia baru sadar jika yang dimaksud Jaden pasti Paijo. Kenapa Jaden seolah tau apa yang dipikirkan oleh diri Nara?
Nara segera mengganti bajunya dengan seragam pelayannya dan keluar dari dalam kamar mandi Jaden. Nara melihat pria itu masih memakai handuk mandinya dan duduk pada sofa panjang dengan kaki diluruskan, tangannya pun memegang sebuah gelas minuman. Jaden melihat Nara dari atas sampai bawah.
Nara tampak bingung kenapa Jaden tidak memakai baju dari tadi? Apa dia tidak kedinginan? Padahal AC kamarnya sangat dingin.
"Apa maksud kamu? Aku sama sekali tidak ingat dengan ciuman itu?" ucap Nara kesal.
"Hei, Pelayan! Panggil aku dengan sebutan Tuan Jaden. Sekarang kamu ambilkan baju untukku dan bawa ke sini."
__ADS_1
"Iya, aku ambilkan, Tuan JL, tapi sebelum itu aku mau bertanya sama kamu, Tuan. Darimana kamu mengetahui tentang sahabat aku Paijo dan neneknya?"
"Aku tau segalanya tentang kamu, dan sekarang kamu segera layani aku dengan baik karena jika kamu tidak mau melayaniku dengan baik, aku tidak akan menyakitin kamu karena aku tau betapa keras kepalanya kamu, tapi aku akan menyakiti si polos sahabat kamu itu. Aku Jaden Luther dapat melakukan apapun yang aku inginkan." Jaden menunjukkan senyuman devilnya.
Nara masih tidak percaya jika semua ini benar-benar terjadi. Hidupnya kali ini benar-benar dibawah kendali pria dingin yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya. Nara sebenarnya tidak takut karena dia tidak peduli jika dia disakiti, tapi Paijo dan nenek? Mereka tidak ada urusan dengan semua ini.
"Kamu tau Tuan JL? Andai kamu meminjamkan aku pistol kamu itu. Orang pertama yang ingin aku tembak dengan pistol itu adalah pamanku." Nara berjalan pergi dari hadapan Jaden. Dia menuju walk in closet milik Jaden. Jaden yang melihat hal itu sontak terkekeh pelan. Jaden mengira jika dirinya lah yang akan ditembak oleh Nara lebih dulu.
"Gadis ini benar-benar sulit untuk diduga."
"
__ADS_1