
Jaden tau apa yang membuat neneknya menangis seperti itu. Dia memeluk erat neneknya dan mendekapnya hangat.
Mereka menuju rumah nenek dengan di kemudikan oleh Leo. Mas Leo tampak senang melihat tuan Jadennya dan Nara serta nenek sekarang hidup dengan bahagia.
"Tuan Jaden, apa perlu saya berputar untuk menuju rumah sakit guna memeriksakan keadaan kandungan Nara?"
"Iya, kita ke rumah sakit, Leo, Nenek juga ingin memeriksakan keadaan cucu dan cicit Nenek."
"Aku tidak apa-apa, Nek. Nenek dan Nara yang harus diperiksa," terang Jaden.
Mereka menuju rumah sakit di mana Will bertugas dan ada dokter pribadi nenek. Sesampai di sana Nara diperiksa oleh dokter kandungan dan nenek oleh dokter Areta.
"Apa? Bagaimana bisa dia kabur dari sana? Lalu, bagaimana dengan keadaan Jacob?"
"Adik tuan Jaden mengalami koma dari kejadian itu."
"Oh Tuhan! Kenapa malah seperti ini?" Leo tampak bingung di depan kamar periksa Nara.
Jaden yang baru saja keluar dari dalam kamar periksa bingung melihat sikap Leo.
"Leo, ada apa?" tanya Jaden penasaran.
"Tuan, saya mau mengatakan jika tadi saya mendapat kabar tidak menyenangkan."
"Kabar apa, Mas Leo?" Nara pun tampak penasaran.
"Renata menghilang dan mereka tidak menemukan di mana keberadaan Renata sekarang, dan sedangkan Tuan muda Jacob mengalami koma."
" Apa?" Berdua terkejut bersamaan...
"Nanti aku akan bicara dengan nenek tentang masalah ini."
Tidak lama Jaden dan Nara melihat nenek keluar bersama dengan dokter Areta dan nenek tampak terlihat bahagia.
"Nek, bagaimana dengan hasil pemeriksaan Nenek? Apa ada yang serius?"
Tangan dokter cantik yang memeriksa nenek Jaden menepuk perlahan pundak Jaden. "Semua baik-baik saja dan nenek kamu sangat sehat sampai nanti dia akan menjadi seorang buyut."
"Areta, kamu bisa saja. Tapi benar nenek masih mau melihat cicitku lahir dan bermain dengannya."
"Nenek pasti baik-baik saja." Nara memeluk nenek Miranti.
***
__ADS_1
Waktu berjalan dengan cepat, dan tidak terasa usia kandungan Nara sudah memasuki delapan bulan.
Jaden semakin protektif menjaga Nara dan bayi dalam kandungannya. "Sayang, aku beberapa hari ini melihat Nenek kadang sering melamun sendirian. Apa Nenek memikirkan masalah Jacob."
"Mungkin saja hal itu benar. Bagaimanapun Jacob adalah cucu kandung satu-satunya."
"Sayang, bagaimana jika besok aku ajak Nenek untuk pergi belanja kebutuhan bayi kita? Supaya nenek senang dan tidak memikirkan tentang Jacob lagi."
"Apa tidak apa-apa? Waktu persalinan kamu sudah hampir dekat dan aku tidak mau kamu kecapekan."
Mereka berdua ini sedang duduk di teras depan rumah pada waktu sore hari, sedangkan Nenek sedang sibuk mengurus kue buatannya yang baru saja matang.
Nara beranjak dari kursinya dan sekarang dia duduk di pangkuan Jaden. Tak lepas tangannya pun melingkar pada leher Jaden.
"Mau merayu?" tanya Jaden yang sudah tau sifat istrinya. Nara Mengangguk dengan cepat.
Cup
Nara menyematkan kecupan kecil pada bibir Jaden. "Kamu lupa apa yang dokter katakan kepada kita kalau mau melahirkan secara normal, aku harus sering jalan kaki dan melakukan hubungan suami istri.'
Tertarik senyum melengkung dari bibir Jaden. "Kalau yang terakhir aku akan melakukannya sekarang. Kamu mau?"
"Huft! Kenapa bagian itu cepat sekali tanggapnya?"
"Mau melakukan yang disuruh oleh dokter kandungan kamu."
"Hah? Lalu, kalau nenek datang ke sini membawa kue buatannya bagaimana?"
Jaden yang sudah menggendong Nara tidak menjawab dia hanya tersenyum saja sambil berjalan masuk.
"Kalian berdua mau ke mana? Kenapa Nara digendong seperti itu, Jaden?"
Nenek yang berjalan berpapasan dengan mereka bertanya heran. Nara sangat bingung mau menjawab apa? Dia berharap suaminya tidak menjawab ngasal yang membuat malu nantinya.
"Kami mau ke atas sebentar melakukan apa yang dokter minta, Nek dan juga Nara sedang melakukan penawaran denganku agar aku mengizinkan dia untuk jalan-jalan dengan Nenek besok. Nenek tau, kan?"
"Nenek tau, Sayang." Wanita tua itu terseyum manis pada mereka berdua
Nara benar-benar malu kali ini. Kenapa juga nich punya suami bicaranya semaunya saja
Nara meringis pada Nenek kemudian menyuruh suaminya cepat pergi dari sana karena malu.
Di dalam kamar Jaden menurunkan Nara kemudian melepaskan kancing Dress panjang tanpa lengan yang di pakai oleh Nara.
__ADS_1
Jaden sekarang dapat melihat tubuh Nara dengan perut buncit Nara yang sudah membesar.
"Cantik sekali." Jaden berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada perut Nara yang besar. "Hai, anak ayah. Apa kamu sehat di dalam? Ayah tau kamu pasti sehat di dalam perut mama kamu. Sebentar lagi kamu akan bisa bertemu dengan ayah."
Tiba-tiba terjadi gerakan pada perut Nara dan hal itu membuat Jaden tampak terkejut. "Nara, lihat gerakannya! Dia seolah mengetahui apa yang aku ucapkan."
Nara mengangguk beberapa kali. "Aku dapat merasakan pergerakannya, Sayang. Dia seperti mengerti akan ucapan kamu."
"Apa ayah boleh menjenguk kamu?" Jaden melirik mendongak pada Nara. Jaden ingin melihat wajah Nara yang tampak malu.
"Apa hal itu perlu di tanyakan pada anakmu?" Nara memutar bola matanya jengah.
Jaden berdiri dari tempatnya dan mulai mencium bibir Nara. "Kata anakku boleh, asal aku harus berhati-hati dan pelan-pelan."
Nara tertawa dengan senangnya. "Kata anak kamu? Mana mungkin bayi bisa bicara? Kamu itu memang menggemaskan calon ayah baru." Nara mencubit hidung Jaden.
Jaden pun seolah mendapat lampu . sangat hati-hati pada perut Nara.
"Hati-hati, Sayang."
"Iya, ini aku hati-hati."
Di tempatnya Leo sedang bicara dengan seorang pria dengan membawa map di tangannya.
"Pak Leo, saya sudah menuliskan semua informasi yang saya dapat tentang wanita yang sedang Pak Leo cari."
Leo membaca sekilas apa yang di tuliskan oleh pria itu. "Jadi, kamu tidak mendapat kabar terakhir dari wanita itu?"
"Iya, dia wanita yang pintar."
"Dia tidak hanya pintar, tapi juga sangat licik. Ke mana dia saat ini?" Leo tampak berpikir.
"Pak Leo, wanita itu juga sedang hamil."
"Apa?" Leo tampak terkejut. "Dia sedanh hamil?"
Pria di depannya itu mengangguk perlahan. "Apa kamu tau siapa ayah dari bayi yang sedang dia kandung?"
"Sepertinya adiknya tuan Jaden, yaitu Jacob karena setahu informasi yang saya dapatkan jika Renata hanya memiliki hubungan dengan satu orang pria."
"Benar apa kata kamu. Bisa saja yang membuat Renata hamil adalah Tuan Muda Jacob karena mereka sepasang kekasih."
"Kandungan dia juga sudah besar. Aku waktu itu mengikutinya dan dia sepertinya tau. Dia langsung menghilang dengan cepat dan setelah itu aku tidak dapat informasi lagi."
__ADS_1
"Terima kasih atas informasinya dan aku akan segera mengatakan hal ini pada Tuan Jaden."