
Nenek tersenyum dan memegang tangan Nara. "Jadi, sekarang juga adalah hari lahir kamu?" Nara mengangguk. "Pantas saja kamu hampir mirip dengan Jaden."
"Tidak ada miripnya, Nek. Aku tidak ada yang mirip dengan Tuan mafia ini. Ups!" Nara langsung menutup mulutnya karena dia malah keceplosan.
Nenek melihat ke arah Jaden, Lalu pindah pada Nara. "Kamu sudah tau siapa Jaden? Kok bisa? Dan kamu tidak takut?"
Nara melihat pada Jaden. "A-aku tidak takut, Tuan JL bagiku orang baik."
Sekarang wanita paruh baya itu melihat curiga pada Nara. "Kamu mencintai cucuku?"
Nara langsung melihat pada Nenek yang sedang menunggu jawaban. "A-aku tidak mungkin jatuh cinta pada Tuan JL, Nek. Aku ini hanya seorang pelayan."
"Nenek tidak keberatan memiliki cucu menantu seperti kamu karena nenek tidak pernah memandang status seseorang. Iya, kan, Tuan JL?" Mata nenek Miranti melihat pada Jaden.
"Nenek ini bicara apa? Kalau tidak ada yang penting lagi dan Nenek sudah bertemu dengan Nara. Kita mau pulang."
"Enak saja pulang. Kalau kamu tidak mau dirayakan ulang tahunnya, kamu pulang saja, tapi biarkan Nara di sini karena pesta ini untuk Nara saja. Mulai hari ini nenek sudah menganggap Nara sebagai cucu nenek. Ayo, Nara, ikut nenek."
Wanita paruh baya itu menggandeng tangan. Nara dan membawanya ke tengah pesta. "Kalian para wanita memang memusingkan," gerutu Jaden.
Nenek malah mengenalkan Nara pada teman-teman sebayanya, dan mengatakan jika Nara adalah cucu angkatnya.
"Dia cantik sekali Miranti," puji salah satu teman nenek Miranti sambil tangannya mengusap rambut Nara.
"Terima kasih, Nek." Nara pun terlihat sopan pada semua teman Nenek.
"Jadikan dia juga cucu menantu kamu, Miranti. Bukannyan kamu ingin cucu kamu segera menikah?"
"Para wanita tua yang cantik. Jangan memprovokasi Nenekku terus agar aku cepat menikah. Aku bisa gila tiap hari di kejar-kejar terus dengan pertanyaan itu," celetuk Jaden.
"Jaden, sudah lama nenek Kania tidak melihat kamu. Kamu kenapa tambah ganteng saja?"
"Nenek juga kenapa di usianya yang bertambah malah tambah cantik?" Jaden tersenyum dan langsung memberikan pelukan hangat pada wanita paruh baya yang sudah terlihat rambutnya memutih karena uban.
__ADS_1
Nara tidak menyangka jika Tuan JLnya yang terkenal dingin dan kejam itu bisa bersikap sangat hangat pada wanita tua seperti para nenek ini.
"Nara, kamu melamun apa?"
"Nenek, aku tidak melamun apa-apa, aku hanya tidak percaya Tuan JL bisa bersikap semanis itu."
"Dia memang penuh kejutan, Nara. Kamu belum tau saja tampilan luar Jaden bisa berbeda dengan tampilan dalamnya."
Nara uda tau luar dan dalam Jaden, Nek. Jaden pun sudah tau semua luar dalamnya Nara.
Acara hari ini pun di mulai. Mau tidak mau Jaden mengikuti acara pesta yang selama ini tidak dia sukai. Bahkan saat di suruh meniup lilin berdua dengan Nara, Jaden terpaksa melakukannya.
Acara pesta ulang tahun Jaden kali ini berbeda dengan acara ulang tahun yang biasanya.
"Nara, ini hadiah dari nenek untuk kamu." Miranti melepaskan cincin yang dia kenakan dan memberikan pada Nara.
"Nek, kenapa memberiku sebuah cincin?"
"Itu cincin milik nenek pemberian mendiang suamiku. Itu hanya ada beberapa di dunia ini. Cincin itu memiliki simbol hati keabadian. Nenek berikan ini sama kamu semoga kamu memiliki cinta yang kuat jika kamu benar-benar mencintai seseorang, seperti mendiang suami nenek dulu."
Dia memiliki cinta yang sangat besar dan kuat, tapi untuk pria yang dia sendiri tidak tau perasaannya.
"Nek, aku tidak bisa menerimanya." Nara mengembalikan cincin itu pada nenek Miranti.
"Nenek sudah putuskan berikan sama kamu. Jadi, nenek tidak mau menariknya kembali." Miranti membuka tangan Nara dan meletakkan pada telapak tangannya kemudian menggenggamnya.
"Tapi, Nek!"
"Bawa saja, Nara, atau nenek tidak mau mengenal kamu lagi."
"Hem ... ancaman yang sama," celetuk Jaden. "Kamu terima saja, Nara. Setidaknya aku tidak perlu mencarinya sejagat raya jika nenekku lupa meletakkan cincinnya." Jadi bersedekap.
"Terima kasih, Nek. Aku akan menjaganya." Nara memakai langsung cincin itu dan ternyata pas di jari Nara.
__ADS_1
Acara kembali berlangsung, sampai malam hari. Dari kejauhan sorot mata tajam itu tidak lepas memperhatikan Nara yang sedang bersama wanita tua kesayangannya sedang bercengkrama bahagia. Nara terlihat bisa membaur dengan sangat baik dengan nenek dan teman-teman neneknya.
"Apa aku harus mengakui perasaanku pada Nara? Aku sangat mencintainya, bahkan aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku benar-benar takut kehilangan Nara, tapi aku juga takut akan membawanya dalam bahaya."
"Nek, aku mau ke kamar mandi dulu sebentar."
"Kamar mandi nenek sebelah sana, kamu lurus saja dan nanti ada pintu kayu besar. Itu kamar mandinya."
"Baik, Nek."
Nara berjalan menuju ke kamar mandi sendirian. Saat akan membuka pintu, tiba-tiba dia di halangi oleh seseorang yang berdiri di depan pintu.
"Maaf, saya mau ke kamar mandi." Nara bicara dengan wanita yang terlihat menatapnya dengan dingin.
"Gadis polos dan bodoh! Apa yang sudah kamu berikan pada Jaden sehingga bisa mendapatkan hati priaku itu?"
Nara agak kaget dengan ucapan wanita yang tidak dia kenal itu. "Maaf, mba siapa?"
Tiba-tiba tangan wanita itu mencengkeram dagu Nara dengan kuat dan menariknya kasar. "Dengar ya gadis bodoh! Kamu jangan
coba-coba merayu bahkan menggunakan tubuh kamu untuk mendapatkan Jaden Luther karena dia adalah milikku. Jaden adalah kekasihku! Kamu dengar itu!" Wanita yang ternyata Mauren itu menekankan kata-katanya.
"Tuan JL tidak memiliki kekasih, kenapa kamu mengakuinya?" Nara berbicara dengan terbata.
Mauren melepaskan cengkeramannya. "Aku adalah wanita yang dicintai oleh Jaden selama ini, kamu lebih baik pergi darinya, daripada kamu hanya dijadikan boneka mainan olehnya. Dia hanya mencintaiku, Nara."
Nara terkejut kenapa wanita ini bisa mengetahui namanya. "Aku memberi kamu kesempatan untuk menjauh dari hidup Jaden karena jika tidak kamu lakukan. Aku akan membuat kamu menderita bahkan ingin mati."
"Kamu bohong, Tuan Jaden tidak mencintai siapapun. Dia takut untuk mencintai seseorang karena dia tidak ingin orang yang dia cintai dalam bahaya."
"Ahahah! Kamu benar-benar bodoh! Dia itu hanya mencintaiku. Apa kalian sudah tidur bersama? Jika iya, pantas saja dia mengatakan hal itu agar kamu tidak menuntut dirinya bertanggung jawab atas diri kamu. Kamu hanya boneka mainan Jaden, dan aku orang yang benar-benar dia cintai."
Mauren berjalan pergi dari Nara. Nara tampak lemas mendengar hal itu. Apa benar yang dikatakan wanita itu? Tanda tanya besar ada di atas kepala Nara.
__ADS_1