Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Aku Milikmu


__ADS_3

Nara masih terdiam dalam pelukan Jaden. Perlahan Nara melepas tangan Jaden yang memeluk perut Nara. Pria itu menarik tubuhnya dan sekarang Nara melihat wajah pria yang sangat dia cintai itu.


"Siapa yang bilang kalau kamu bodoh karena sudah mengakui perasaan kamu itu? Aku malah merasa sangat lega mendengar apa yang sudah Tuan katakan padaku tadi."


"Kalau ingin menertawakan aku tertawa saja."


Nara menggeleng. "Aku tidak ingin menertawakan kamu, tapi aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah memberi kado terindah untukku."


"Kado? Aku tidak memberi kamu kado apa-apa, Nara." Jaden jadi bingung.


"Apa yang baru saja Tuan katakan itu menjadi kado terindah buatku."


"Oh ... lalu, aku tidak mendapat kado dari kamu?"


Nara berjinjit dan menangkup wajah Jaden kemudian dia memberikan kecupan kecil pada bibir Jaden.


"Selamat ulang tahun Tuan JL yang aneh."


Jaden dengan cepat menahan tubun Nara sebelum gadis itu berdiri seperti biasa. "Selamat ulang tahun, gadis pelayan milikku." Jaden mengecup gantian bibir Nara.


Kedua bibir itu saling mengecup secara lembut, tapi lama kelamaan ritmenya mulai agak liar. Bahkan tangan Jaden sudah menerobos belakang baju Nara. Jaden mengusap lembut punggung Nara dengan tidak melepaskan ciumannya.


Nara yang sepertinya terbawa suasana saat itu sudah tidak bisa berpikir kembali.


Mereka pun kembali melakukan hal yang pernah mereka lakukan sebelumnya, tapi sekarang tanpa pengaruh obat perangsang. Pun Nara melakukan bukan karena dia terpaksa.


Jaden mengecupi setiap inci tubuh gadis yang sedang berada di bawahnya.


"Tuan, aku sangat mencintaimu?" Sekali lagi Nara merasakan sesuatu memasuki dirinya dan Jaden mengecup bibir Nara dengan sangat lembut sekarang.


Jaden kali ini benar-benar merasakan hal luar biasa yang baru dia rasakan karena dia melakukannya tanpa pengaruh obat perangsang.


Kedua napas mereka saling beradu. Nara bersandar pada dada Jaden. "Kenapa kita melakukannya lagi?"


"Kenapa? Kamu menyesal?" Jaden mengecup rambut Nara.


"Aku hanya takut, Tuan."


"Takut apa? Katanya kamu sudah tidak takut jika menjadi seorang kekasih pria dengan dunia gelapnya seperti aku?"

__ADS_1


Nara memutar dirinya melihat pada Jaden. "Bukan itu yang aku takutkan, aku hanya takut jika nanti aku hamil."


Jaden mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak akan hamil, Nara. Kita hanya melakukan dua kali, dan itu tidak akan langsung membuat hamil."


Nara terdiam sejenak. "Kalau sampai hamil bagaimana?"


"Aku akan mengurusnya, atau kalau mau kita akan memeriksakan ke rumah sakit milik Will. Sudahlah! Kamu jangan membuat suasana menjadi tidak baik lagi. Hari ini aku merasa sangat lega bisa mengatakan jika aku sangat mencintai kamu, Nara." Jaden memeluk Nara erat dan kembali mengecupnya.


Nara mencoba tidak membuat suasana buruk. "Aku sendiri, tidak menyangka bisa sangat mencintai, Tuan, padahal dulu waktu kecil aku ingin sekali bisa bertemu dengan seseorang yang dulu pernah menyelamatkan aku dari kecelakaan waktu itu. Aku ingin sekali menikah dengan malaikat penyelamatku itu. Eh, tapi malah aku jatuh cinta sama malaikat pencabut nyawa." Nara melirik pada Jaden.


"Ahahahah!" Terdengar suara tawa lepas dari pria yang jarang tertawa itu.


"Aku malah tidak pernah bermimipi jatuh cinta sama siapapun, tapi aku bahagia bisa jatuh cinta dengan gadis keras kepala dan susah sekali di tebak seperti kamu." Jaden menggigit kecil hidung Nara.


"Sakit, Tuan!" Nara memukul dada Jaden.


"Aku gemas dengan kamu. Mau melakukannya lagi?"


"Apa? Tidak mau! Aku capek dan mau tidur. Apalagi besok aku banyak pekerjaan." Nara malah mapan tidur.


Jaden mengecup kening Nara. "Tidur saja dulu." Nara mengangguk. Sebenarnya Nara masih ada hal yang mengganjal, tapi tubuhnya terlalu lelah. Dia memilih tidur dulu.


"Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis seperti kamu? Padahal kamu sangat jauh berbeda dengan Mauren." Jaden mengecup bibir Nara yang masih tertidur dengan nyenyak.


Tidak lama ponsel milik Jaden ada yang menghubungi. Jaden tampak heran, siapa yang menghubungi di jam segini.


"Ada apa dia menghubungiku?"


"Halo, Jaden. Apa aku bisa meminta bantuan sama kamu?"


"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?"


"Aku ingin kamu mencari seseorang untukku, Jaden."


"Seseorang? Apa dia punya masalah denganmu?"


"Tidak, tapi dia sangat penting."


Jaden beranjak dari tempatnya agar tidak mengganggu Nara yang sedang tidur. Pria itu menceritakan kenapa dia menginginkan seseorang itu. Setelah berbicara cukup lama. Jaden menutup panggilannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Nara yang terbangun dari tidurnya. Tangannya mencari sesuatu di atas tempat tidur, dia mencari sosok yang semalam menemaninya tidur, tapi ternyata tidak ada.


"Tuan?" Nara mengedarkan pandangannya mencari Jaden. Ternyata pria yang dicintainya itu sedang berdiri di depan pintu yang menuju ke kolam renang yang masih di dalam kamarnya.


Pria itu berdiri tanpa memakai atasan dan hanya menggunakan celana panjang. Jaden menatap tegas pada arah kolam renang.


Nara hanya memakai selimut tidurnya dan berjalan mendekati Jaden. "Kamu kenapa sudah bangun, Tuan?" Nara memeluk Jaden dari belakang memasukkan Jaden dalam selimutnya.


"Aku tidak bisa tidur, Nara. Kamu sendiri kenapa sudah bangun?" Jaden berbalik dan memeluk Nara dari depan.


"Aku mencarimu, Tuan. Tadi juga entah kenapa aku mimpi buruk tentang kamu yang tertembak dan jatuh di depan mataku dengan bersimbah darah. Aku sangat takut, Tuan." Nara memeluk Jaden sangat erat.


"Kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang dapat melukaiku." Jaden menggendong Nara ala briday style dan membawanya kembali ke tempat tidur.


"Kita tidur saja lagi, dan besok pagi aku akan mengajak kamu makan pagi di cafe yang berada di kota. Apa kamu mau?"


Nara mengangguk dengan cepat. Lalu mereka mulai memejamkan kedua mata sambil berpelukan dalam tidurnya.


***


Pagi itu Nara sudah bersiap dengan memakai dress selutut warna putihnya dan ternyata Jaden juga memakai baju dengan warna yang senada dengan Nara.


"Tuan, tampan sekali dengan setelah putih itu," puji Nara.


"Kamu juga sangat cantik dengan baju yang kamu kenakan, ternyata pilihanku sangat pas buat kamu."


"Iya, aku menyukainya. Oh ya! Tuan, aku ambil kembali cincin yang diberikan oleh nenek waktu itu padaku. Bolehkan?"


"Tentu saja boleh karena memang itu sudah menjadi milik kamu, Nara. Simpan baik-baik cincin itu." Jaden mengusap lembut pipi Nara.


"Kita pergi sekarang saja, aku sudah lapar karena kemarin malam sangat melelahkan." Nara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Jaden melepas tangan Nara. "Kenapa? Mau lagi?"


Nara menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak mau lagi dan semoga aku tidak khilaf dengan melakukannya lagi."


"Kalau aku ingin lagi?"


"Jadikan aku istri kamu, Tuan JL," jawab Nara tegas.

__ADS_1


__ADS_2