Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Pembuktian Part 2


__ADS_3

Nara sudah melepas bagian atas kemeja yang dia kenakan. Jaden dapat melihat bra cantik berwarna hitam yang Nara kenakan.


"Apa kamu melupakan semua ini?" tanya Nara.


Jaden hanya berdiri datar di depan wanita yang sebenarnya sudah membuat sesuatu dari dirinya timbul.


"Aku tidak bisa mengingat semuanya."


Nara terdiam. "Jangan memaksakan ingatan kamu. Aku juga tidak ingin kamu terluka bahkan dalam bahaya." Nara mengambil kemejanya dan berjalan pergi ke dalam kamar tidurnya.


"****!" Jaden mengejar Nara dan dia ikut masuk ke dalam kamar Nara. Jaden tanpa bertanya langsung membalikkan tubuh Nara dan mendaratkan ciumannya pada bibir Nara.


Nara yang merasakan Jaden menginginkan dirinya pun mengikuti permainan suaminya. Jujur saja Nara juga merindukan sentuhan seorang Jaden Luther.


"Kamu yang memulainya, maka selesaikanlah," ucap Jaden


"Aku akan selesaikan," jawab Nara.


Terlukis senyum pada bibir Jaden. "Aku tidak tau kenapa aku menginginkan kamu."


"Karena kamu selalu menginginkan aku. Lakukan pelan-pelan seperti biasanya." Maksud Nara, dia berharap Jaden tidak melukai kandungannya dengan melakukan pelan-pelan.


"Biasanya?"


Malam romantis mereka pun terjadi. Sang ayah sedang menengok bayinya. Jaden pun melakukannya dengan pelan sesuai permintaan Nara.


Jaden tidur tengkurap di samping Nara. Nara tampak memiringkan tubuhnya memandangi wajah suaminya yang tampak sangat dekat dengannya.


"Aku tidak menyesal melakukan hal ini walaupun kamu tidak mengingatku." Jemari Nara mengusap lembut pipi suaminya.


Tidak lama ponsel Jaden berdering dan Nara mengambilnya. Nara melihat nama Renata di sana. Nara langsung mematikan ponsel Jaden. Dia memilih untuk ikut menyusul Jaden di alam mimpi.


Pagi harinya. Nara yang bangun lebih dulu beringsut turun dari tempat tidurnya perlahan agar tidak membangunkan suaminya. Nara memunguti bajunya dan membawanya keluar dari dalam kamar.


Nara mandi dan segera membuatkan sarapan pagi untuk dirinya dan Jaden.


Di dalam kamar Jaden tampak terganggu oleh suara seseorang yang sedang muntah. Nara ternyata mengalami morning sick dan kamar mandinya memang dekat dengan kamar Nara.


"Apa itu Nara? Oh God! Aku beneran sudah meniduri wanita itu." Jaden tersenyum seolah merutuki kebodohannya sendiri. "Tapi entah kenapa dia begitu membuatku bersemangat? Mauren saja, tidak ingin aku tiduri."


Jaden beranjak dari tempat tidur Nara dan hanya menggunakan celana panjang miliknya.


"Tolong ambilkan air minum."

__ADS_1


Jaden mengambilkan Nara segelas air minum. "Kamu masih sakit?" Jaden menempelkan telapak tangannya pada dahi Nara.


Nara hanya terdiam merasakan telapak tangan suaminya yang hangat. "Tidak apa-apa? Lantas, kenapa kamu setiap bertemu denganku selalu mengeluarkan isi perut kamu begitu?"


Nara, kan, tiap hamil selalu begitu bila dekat Jaden. Itu bayi tidak mau dekat-dekat ayahnya yang auranya agak sangar.


"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kamu mandi dan segera sarapan pagi karena aku sudah membuatkan makanan kesukaan kamu."


Jaden melihat dari jauh di atas meja sudah tersedia makanan. "Nara, tunggu!" Jaden menarik lengan tangan Nara sampai wanita itu menabrak dada bidang Jaden.


Dua pasang mata saling memandang lekat. "Ada apa?"


"Sihir apa yang kamu gunakan sehingga aku merasa kamu seperti magnet yang menarikku dengan kuat?"


"Sihir? Aku tidak melakukan sihir apapun sama kamu. Aku dapat menarik kamu karena aku memiliki cinta yang tulus sama kamu."


"Cinta? Apa hal itu bisa dipercaya?"


"Tentu saja, bahkan seorang Jaden Luther percaya dengan cinta." Nara menatap Jaden lekat.


Suara bel mengganggu adegan saling pandang memandang mereka. Jaden mengerutkan kedua alisnya penasaran dengan siapa yang datang ke rumah Nara.


"Siapa yang datang? Apa kamu ada janji dengan orang lain?"


"Mengantar kamu ke rumah sakit? Dia perhatian sekali sama kamu."


"Kamu mau ke mana?" Tangan Nara menahan tangan Jaden yang hendak berjalan menuju pintu utama.


"Biar aku yang membuka pintu dan mengatakan jika dia tidak perlu mengantar kamu. Kalau kamu mau ke rumah sakit, nanti aku yang akan mengantarkannya." Jaden melepaskan tangan Nara dan berjalan ke arah pintu.


"Kenapa dia tidak hilang ingatan akan sifatnya yang arogan itu?"


"Hai, Na--. Kok ada kamu di sini?"


Jaden bersidekap menatap datar Paijo yang heran melihat ada Jaden di rumah Nara.


"Aku menginap di sini semalaman."


"Apa? Menginap?" Paijo tampak bingung.


"Paijo, kamu masuk dulu."


"Eh! Siapa yang mengizinkan dia masuk? Aku tidak mengizinkan dia masuk, Nara."

__ADS_1


"Memangnya ini rumah siapa? Ini rumah kontrakan Nara."


"Tapi aku suaminya Nara dan aku tidak mengizinkan kamu masuk," ucap Jaden dingin.


Paijo melihat Nara lalu melihat pada Jaden. "Kamu sudah ingat jika kamu adalah suami Nara?"


"Aku belum ingat apapun, tapi setelah semalam aku dan Nara tidur bersama. Sepertinya memang Nara adalah istriku."


"Apa? Dasar gila?" celetuk Paijo seenaknya.


"Apa kamu bilang?" Jaden seketika marah mendengar ucapan Paijo. Bahkan Jaden langsung mencengkeram kra baju Paijo


"Hei! Kamu kira aku takut sama kamu? Aku tidak takut walaupun kamu seorang mafia yang kejam. Aku juga memiliki kekuasaan di sini."


Nara sampai melolot melihat dua orang yang mau berkelahi. "Kalian jangan seperti anak kecil. Jaden, hentikan! Paijo, kamu juga. Kalian mau aku nanti diusir dari sini gara-gara kalian?" teriak Nara kesal.


"Aduh!" Nara memegangi perutnya.


"Nara, kamu tidak apa-apa?" Paijo yang tau Nara sedang hamil menepis tangan Jaden kemudian dia mendekat pada Nara.


"Aku tidak apa-apa."


Jaden memicing melihat kedekatan mereka. "Kalian itu memang benar ada hubungan, kan? Kenapa tidak jujur padaku?"


"Kami memang memiliki hubungan. Hubungan persahabatan yang orang lain mungkin tidak akan bisa menyamai."


"Jaden, aku dan Paijo hanya sebatas sahabat baik, mungkin bisa diartikan juga seperti saudara kandung."


"Kalau kamu memang istriku, aku tidak mau kamu memiliki teman atau sahabat dekat seorang laki-laki. Kamu dengar itu, Nara?" suara Jaden seolah memberi peringatan keras.


"Enak saja main putus hubungan baik aku dengan Nara yang terjalin cukup lama, bahkan sebelum Nara kenal sama kamu." Muka Paijo sudah kesal saja."


"Jangan seperti itu, Jaden. Paijo dan aku juga tidak akan terlibay hubungan yang lebih dari sahabat."


"Memangnya kamu bisa jamin?"


"Nara, kamu kenapa bisa menikah dengan pria seperti dia? Apa tidak ada pilihan lain," gerutu Paijo pada telinga Nara.


"Jangan dekat-dekat kamu."


Nara hanya bisa memejamkan kedua matanya melihat perdebatan Paijo dan Jaden.


"Nara, kamu pusing ya. Kita periksakan saja kandungan kamu sekarang," ucap Paijo yang melihat Nara yang sepertinya sakit.

__ADS_1


"Apa? Kandungan?" Jaden tampak terkejut.


__ADS_2