Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Extra Part End


__ADS_3

Mereka makan siang bersama, Nara memesankan makanan dan mereka berada di sana sampai jarum jam menunjukkan angka sepuluh malam.


"Besok biar mama menyuruh maid ke sini membantu kamu membersihkan rumah."


"Aku saja yang membersihkan, Ma."


"Iya, Ma. Nanti aku juga akan membantu Denna.


"Lagi pula aku dan Dimas masih belum masuk kuliah dan kerja, jadi kita mau menghabiskan waktu bersama."


Nara melihat ke arah suaminya. "Senang sekali memiliki suami yang sangat romantis walaupun terkesan dingin," celetuk Nara.


"Memangnya aku tidak romantis? Kalau aku tidak romantis, Denna tidak akan lahir," ucap Jaden datar.


"Jangan meniru ayah mertua kamu, Dimas. Jangan." Jari tangan Nara memberi isyarat.


Mereka semua pulang dari rumah Denna dan Dimas. Denna menghela napasnya pelan melihat banyak piring dan gelas kotor di atas meja.


"Aku akan membantu kamu membersihkannya." Dimas mengambil piring dan dan gelas yang kotor kemudian membawanya ke wastafel.


Denna mencuci semua piring-piringnya, dan Dimas membersihkan meja makan.


"Denna, apa kamu tidak keberatan jika kita di sini tidak memakai pelayan seperti di rumah kamu?"


Denna menggeleng perlahan. "Aku senang bisa tinggal hanya berdua saja dengan kamu di sini."


Dimas yang berdiri di samping Denna mengelap tangannya kemudian dia menarik tangan Denna mendekat ke arahnya.


"Terima kasih sudah mau hidup sederhana denganku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu." Tangan Dimas mengusap lembut pipi gadis yang baru saja dia nikahi.


"Aku juga berterima kasih kamu mau menjadi suami yang mau menerima aku yang masih belajar menjadi seorang istri."


Dimas mengangkat tubuh Denna dan mendudukkannya di atas meja dapur kemudian menatap wajah Denna lekat.


"Kita masih sama-sama belajar." Tangan Dimas menelusup dia antara sela rambut Denna dan menariknya mendekat kemudian mengecup bibir Denna.


Mereka berdua saling menautkan bibir dengan begitu dalam, dan perlahan turun pada ceruk leher Denna.


Dimas memberikan tanda kepemilikannya di sana. Terdengar suara Denna mendesah pelan. "Dimas," suara Denna terdengar parau.


Dimas melepaskan kecupan kecilnya. "Maaf sudah memberikan tanda di sana."


Denna memegang lehernya yang terdapat tanda merah. "Tidak apa-apa, aku, kan, memang sudah jadi milik kamu."


Dimas menyematkan kecupannya pada kening Denna. "Ya sudah, kalau begitu aku akan membereskan dulu barang-barang yang ada di ruang tamu. Kamu setelah ini tidur saja duluan."


"Dimas." Dimas yang ingin pergi, kembali menoleh karena tangannya di pegang oleh Denna.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Aku ingin melakukannya," ucap Denna lirih dan terlihat malu.


"Melakukan apa maksud kamu?"


Denna mengerucutkan bibirnya. Dia kesal Dimas tidak paham apa yang dia katakan.


"Tidak jadi, kita tidur saja."


"Apa kamu benar-benar siap?"


Denna melihat pada suaminya dan kemudian kepala Denna mengangguk beberapa kali.


Dimas tidak menunggu lagi dia kembali mencium bibir Denna. Dimas menggendong Denna, kaki Denna melingkar pada pinggangnya, tanpa melepaskan ciumannya.


Dimas membawa Denna ke dalam kamar mereka yang belum tertata rapi. Kecupan semakin liar dan sekarang Denna sudah dalam keadaan polos sama seperti Dimas.


"Kata Diaz malam pertama itu sakit. Apa kamu bisa pelan-pelan?" tanya Denna dengan wajah malunya.


"Aku baru pertama melakukan hal ini. Aku akan mencoba membuat kamu tidak kesakitan."


Tangan Denna memegang lengan tangan Dimas saat pria itu berusaha menerobos pertahanan Denna.


Sebuah kelengahan dan air mata beradu menjadi satu. "Sakit?"


Malam itu menjadi malam pertama buat keduanya. Dimas tampan tersenyum puas dengan apa yang sudah dia berikan pada gadis yang sudah sah dia nikahi dan benar-benar dia miliki saat ini.


***


Kehidupan pernikahan Denna dan Dimas berjalan dengan sangat harmonis dan penuh kebahagiaan. Denna belajar terus untuk bisa menjadi istri yang baik bagi Dimas. Pun dengan Dimas melakukan hal yang sama.


"Denna, aku lusa harus pergi ke San Fransisco untuk mengikuti suatu acara di sana. Apa kamu mau ikut?"


"Berapa hari kamu berada di sana?"


"Sekitar tiga hari saja."


"Lusa, Ya?" Dimas mengangguk. "Aku besok ada ujian sampai satu minggu. Ujiannya juga tidak mungkin aku lewati karena sangat penting."


"Kalau begitu kamu tidak bisa ikut. Aku akan ke sana saja sendirian, dan kamu fokus sama ujian kamu."


"Sendirian?" Denna mulai menunjukkan sifat manjanya.


"Sayang, hanya tiga hari dan kalau acara utamanya sudah selesai, aku akan segera pulang." Dimas mengusap lembut pipi Denna.


"Aku pasti kesepian di rumah ini jika kamu di San Fransisco."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu tinggal saja di rumah mama untuk sementara sampai nanti aku pulang dan akan menjemput kamu di rumah mama. Bagaimana?"


"Ya sudah, aku menunggu di rumah mama saja kalau begitu, daripada aku kesepian di sini."


Hari keberangkatan Dimas pun tiba. Denna dan keluarga lainnya mengantar Dimas pagi-pagi ke bandara.


Denna memberikan mainan ikan pada Dimas untuk selalu mengingatkan Dimas pada Denna.


"Aku akan selalu ingat kamu di hatiku, Sayang."


"Tidak apa-apa, kamu bawa saja." Denna mengecup Dimas dengan dalam.


Dimas berangkat ke San Fransisco. dan mereka semua pulang ke rumah. Denna menggelayut manja pada mamanya. Baru kali ini Denna ditinggal Dimas dan entah kenapa dia sudah kangen saja sama suaminya.


"Kamu tidur saja di kamar, lagian ini sudah malam. Dimas mungkin besok akan menghubungi kamu."


"Iya, Ma. Aku akan menunggu besok dia menghubungiku."


"Kalau begitu nenek akan menemani kamu di kamar sampai kamu tertidur. Nenek kangen berbicara sama kamu." Tangan dengan keriputan itu mencubit pelan pipi Denna.


Denna menuju ke atas kamarnya. Nara dan lainnya yang belum tidur berada di ruang tengah. Beberapa jam kemudian, Leo yang berada di sana mendapat panggilan telepon dari temannya.


"Apa? Kamu serius? Oh Tuhan!" Leo memegang kepalanya. Wajahnya tampak cemas.


"Leo, ada apa?" tanya Nara.


Leo hanya terdiam di tempatnya. Dia melihat pada Nara dan Jaden. "Tuan Jaden, ada berita buruk yang baru saja teman saya sampaikan."


"Berita buruk apa, Leo?"


Leo kembali terdiam. Dia benar-benar bingung harus memulai dari mana. "Leo, aku bertanya sama kamu. Katakan sekarang!"


"Tuan, pesawat yang ditumpangi oleh Dimas baru saja mengalami kecelakaan dan jatuh ke sebuah tempat yang masih tidak diketahui di mana pastinya."


"Apa?" Nara dan Jaden seketika terkejut bersama.


"Apa kamu yakin dengan berita itu, Leo?"


"Saya yakin karena teman saya yang bekerja di bandara baru saja mendapat kabar buruk ini."


Nara memegang tangan Jaden. Dia melihat ke arah suaminya dengan tatapan sudah dipenuhi butiran air mata yang siap keluar.


Jaden memeluk Nara agar suara tangis Nara tidak didengar oleh Denna yang pasti belum tidur.


**Tunggu kisah Denna dan Dimas selanjutnya.


Jangan lupa baca dulu kisah Aira dan Addrian yang ngeseli, tapi manis melebihi gula.

__ADS_1



__ADS_2