
Nala langsung mengangguk cepat setelah Jaden memberikan pilihan baru pada Nara yang dianggap Nara lebih baik daripada dia harus menjadi seorang wanita penghibur.
"Aku mau, Tuan JL. Aku mau!" serunya semangat.
"Apa kamu tau tugas menjadi pelayan pribadiku?" tatap Jaden dingin.
"Nanti aku dapat belajar lebih cepat, yang aku tau sebagai pelayan aki membuatkan masakan untuk kamu, dan menyiapkan makanan untuk kamu, serta menyiapkan semua kebutuhan kamu. Apa itu benar?"
"Salah satunya," jawab Jaden singkat.
"Aku bisa, tapi bukannya di rumah kamu sudah banyak pelayan?"
"Aku tidak memiliki pelayan pribadi, dan kamu sepertinya cocok untuk pekerjaan itu sebagai ganti agar aku tidak rugi membeli kamu dari paman kamu."
"Iya, tapi tidak perlu diingatkan terus akan hal itu," ucap Nara sambil mengerucutkan bibirnya. "Setiap mendengar kata-kata kalau aku dijual oleh pamanku, seolah aku barang yang tidak berguna."
"Tunjukkan kalau kamu barang yang berguna." Jaden melihat pada jam tangannya. "Kembali ke kamar kamu dan jangan coba-coba untuk berusaha kabur lagi, atau aku tidak akan main-main untuk menyiksa bahkan membunuh kamu."
"Enak saja main bunuh orang, memangnya aku nyamuk yang bisa kamu bunuh begitu saja?"
__ADS_1
Nara berjalan perlahan sambil mengomel. Jaden yang mendengar omelan Nara malah tersenyum tidak percaya. Nara memang belum tau siapa Jaden sebenarnya. Setahu Nara Jaden hanya seorang pengusaha yang kaya karena bisnis club malam miliknya. Bisnis yang sebenarnya bukan hal yang baik bagi Nara.
"Gadis bodoh, tunggu!" seru Jaden cepat sebelum Nara membuka pintu kamar Jaden.
"Ada apa lagi, Tuan JL?" tanya Nara malas.
"Jika aku sedang berbicara dengan pelayanku, kamu harus memasang wajah yang manis."
Nara langsung meringis memperlihatkan deretan gigi kelincinya. "Sudah? Ada apa?"
"Pakai ini." Jaden dengan kasar melemparkan handuk putih miliknya tepat pada kepala Nara. "
"Ih! Kenapa melemparku dengan handuk? Memangnya kenapa apa aku harus memakai handuk?"
Nara baru sadar lagi jika bajunya masih menerawang dan dia dengan cepat memakai handuk dari Jaden. Menyelimutkan pada tubuhnya.
"Nanti malam aku tunggu di kamarku," ucap Jaden sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Nara masih mencoba mencerna kata-kata Jaden barusan. "Maksud dia apa menungguku di kamarnya? Oh...! Mungkin dia ingin aku nanti malam menyiapkan makanan untuk kebutuhannya di dalam kamar. Orang kaya seperti dia, kan mungkin malas makan di meja makan. Apalagi sepertinya dia tinggal sendirian di sini." Nara berjalan keluar dari kamar Jaden.
__ADS_1
Nala yang hendak turun tangga bertemu dengan Leo asisten pribadi Jaden. "Silakan." Leo mempersilakan Nara untuk lewat dulu.
"Kamu siapa? Kamu yang tadi mengetuk pintu kamar JL, Kan?"
"JL? Siapa JL?" tanya Leo heran.
"Itu si penculik dingin-- Jaden Luther. Kamu siapa?"
"Oh Iya! Perkenalkan nama saya Leo dan saya asisten pribadi Tuan Jaden Luther."
"Kamu kenapa sopan sekali? Kamu beda sekali dengan bos kamu itu." Muka Nara di tekuk.
"Tuan Jaden memang begitu orangnya, tapi sebenarnya dia baik."
"Baik dari mananya. Dia kalau baik tidak mungkin menculikku."
"Dia tidak menculik kamu, dia hanya mengambil apa yang menjadi haknya. Bukannya kamu sudah--."
"Stop! Jangan lanjutkan bicaranya. Sakit sekali setiap mendengar tentang aku yang dijual oleh pamanku sendiri."
__ADS_1
"Kamu mengatakannya sendiri." Leo dan Nara malah tertawa berdua di anak tangga.
"Ehem ...."