
Nara mencoba menolong Jaden, tapi pria itu dengan kasar menolak sentuhan yang dilakukan oleh Nara.
"Tuan JL, apa kamu baik-baik saja? Aku minta maaf jika membuat kamu sakit seperti ini."
"Pergi!" bentak Jaden sekali lagi.
Salah satu pengawal Jaden yang tau tentang siapa Nara mencoba mendekati Nara dan menyuruh Nara menjauh dari Jaden. Pengawal itu ingin melindungi Nara agar tidak sampai dilukai oleh Jaden.
"Nara, Tuan Jaden tidak ingat siapa kamu. Dia bisa saja berbuat kasar sama kamu. Sebaiknya kamu pergi dulu."
"Tapi Pak. Aku sangat khawatir dengan Jaden."
"Setelah minum obat keadaanya akan baik-baik saja. Aku akan membawa Tuan kembali ke tempatnya."
Nara memikirkan juga tentang bayi dalam perutnya. Dia takut jika Jaden bisa melukainya. Nara berjalan pergi dari sana. Kepala pengawal itu memberikan air untuk Jaden. Jaden agak sedikit tenang sekarang, bahkan dia mencari di mana Nara. "Di mana wanita itu?"
"Dia sudah saya suruh pergi, Tuan."
"****! Dia tidak boleh pergi karena dia sudah melihat apa yang aku lakukan. Aku tidak mau mendapat masalah karena wanita itu. Kalian pergi saja dari sini dan aku akan segera menyusul."
"Baik, Tuan." Para pengawal yang bersama dengan Jaden pergi dari sana.
Jaden menjalankan mobilnya dan tidak lama dia melihat Nara yang berjalan sendirian. Jaden segera turun dan menggandeng tangan Nara, menyeretnya pergi dari sana.
"Jaden? Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membawaku ke mana?" Nara bingung tangannya yang di gandeng paksa oleh Jaden.
"Jangan banyak bicara. Sekarang kamu harus ikut denganku!"
Nara masuk ke dalam mobil Jaden, dan pria di sampingnya fokus mengemudikan mobil menuju tempat yang entah ke mana Nara sendiri tidak tau.
"Kita mau ke mana? Antarkan aku pulang."
"Pulang? Apa kamu kira aku bodoh? Setelah kamu melihat aku dan pria yang aku siksa itu, aku akan melepaskan kamu? Kamu harus aku singkirkan."
"Aku tidak akan mengatakan apapun tentang apa yang aku lihat. Aku tidak mungkin menyakiti kamu."
"Aku sudah bilang, jangan mencoba merayuku karena aku tidak akan bis tertarik dengan wanita sepertimu."
Nara hanya terdiam di tempatnya. Dia sedih dari tadi mendapat penghinaan dari Jaden. Nara hanya duduk terdiam sekarang.
__ADS_1
Nara hanya memperhatikan Jaden yang sedang fokus menyetir sambil memegangi perutnya. Perut Nara kembali lapar, Nara bingung mau mengatakan jika ingin makan sesuatu.
"Jaden, apa aku boleh makan? Perutku lapar."
"Ck! Memangnya aku peduli? Biar saja kamu mati kelaparan. Aku tinggal melempar kamu di jalanan."
Nara yang mendengar jawaban Jaden teringat dengan awal dia bertemu dengan sosok Jaden Luther. Nara mengusap perutnya. Dia memikirkan bayinya yang lapar. Andai nasi goreng tadi tidak jatuh saat Jaden menyeret tangannya pasti anak yang dalam kandungannya tidak sampai keguguran.
Jaden melihat pada Nara yang duduk terdiam. Entah kenapa hatinya merasa iba. Dia melihat ada sebuah warung yang masih buka dan Jaden memutar mobilnya menuju ke arah sana.
"Ayo turun!"
Nara melihat sekitar. "Kita mau apa di sini!"
"Kamu katanya mau makan. Cepat turun!" bentak Jaden.
Nara yang memang lapar dan dia memikirkan tentang bayinya segera turun. Nara memesan semangkuk sup dan teh hangat.
"Kamu tidak makan?"
"Aku tidak lapar. Cepat habiskan makanan kamu dan kita segera pergi."
Nara yang memang kelaparan langsung menyantap makanan di depannya.
"Habiskan makanan kamu. Setidaknya kamu masih bisa menikmati makanan terakhir kamu," ucap Jaden lirih.
Nara melihat ke arah Jaden. "Aku tidak akan menyesal jika harus mati di tangan kamu," balas Nara yang membuat Jaden terdiam.
Setelah selesai perjalanan kembali mereka teruskan. Namun, di tengah-tengah perjalanan Nara merasakan perutnya yang seperti di gulung-gulung.
"Jaden tolong berhenti sebentar. Aku mau muntah."
"Apa?" Jaden seketika menghentikan mobilnya ke tepi dan Nara dengan cepat keluar dari dalam mobil Jaden. Nara mengeluarkan isi perutnya di dekat selokan yang ada di sana.
"Menjijikan!" ucap Jaden kesal. "Apa kamu sakit?"
"Aku sedang ha--. Maksudku, aku sedang tidak enak badan saja."
"Kamu sakit? Aku kira wanita keras kepala seperti kamu tidak bisa sakit."
__ADS_1
"Apa ada minum? Aku haus."
"Apa? Itu ada air di selokan. Kalau perlu minum itu! Menyusahkan!" bentak Jaden marah.
Nara hanya memandangi Jaden dengan tatapan sayunya. Jaden sendiri sebenarnya tidak tega melihat Nara. Dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa dia yang biasanya kejam mendadak tidak tega melihat Nara, terutama mata Nara.
"Tunggu di sini, aku akan membelikan air minum."
Jaden bahkan rela berjalan menuju warung yang tadi dia dan Nara makan karena masih tidak jauh dari mobilnya berhenti.
Setelah memberikan minuman pada Nara. Mereka kembali ke dalam mobil.
Perjalanan yang cukup panjang membuat Nara tertidur di dalam mobil Jaden, sampai akhirnya mereka sampai rumah di mana Nara dulu diculik Jaden. Jaden ternyata membawa Nara ke sana dan juga pria yang tadi sedang disiksa oleh Jaden.
Jaden yang akan membangunkan Nara tampak mengurungkan niatnya. Dia malah melihati wajah Nara yang tidur dengan pulas.
"Wajahnya kenapa terlihat polos sekali? Tapi kenapa dia mudah sekali dekat dengan seorang pria? Tadi saja dia mengatakan mencintai padaku. Cih! Dasar wanita tidak tau diri."
"Bangun .... bangun, Nara!" Jaden menepuk pipi Nara.
Nara yang baru bangun dari tidurnya tampak heran dia ada di mana?
"Cepat turun!"
"Kamu membawaku ke rumah persembunyian kamu?"
Jaden mengkerutkan kedua alisnya. "Bagaimana kamu tau jika ini adalah rumah persembunyian?"
"A-aku--?" Nara bingung mau menjawab apa. Dia tidak mau Jaden sampai sakit kepala lagi.
"Jawab aku, Nara?" bentaknya.
"Karena rumah ini sangat aneh terletak di hutan. Kamu pasti seorang mafia seperti di televisi yang suka menyiksa orang dan memiliki banyak pengawal bersama kamu." Nara mencoba mencari jawaban lain.
Jaden hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu pasti mata-mata seseorang yang ditugaskan untuk mengawasiku. Setelah urusanku dengan pria itu selesai. Kamu akan aku urus." Jaden menarik lengan tangan Nara dan membawanya masuk ke dalam rumah. Setiap tempat di sana masih sama saat Nara dan Jaden memutuskan tinggal di rumah nenek. Sayangnya di sana tidak ada foto mereka berdua.
Jaden melempar Nara ke atas sofa dan melepaskan suit bajunya. Nara melihat sebotol obat menggelinding dari dalam saku suit Jaden dan dia mengambilnya.
"Jaden, apa kamu sudah minum obat untuk sakit kepala kamu?" tanya Nara yang ingat ucapan pengawalnya.
__ADS_1
"Bukan urusan kamu."
"Kamu tidak minum obat kamu karena kamu takut minum obat, kan?" tanya Nara yang memang tau kebiasaan Jaden.