
Pagi itu Nara meminta izin untuk masuk ke ruangan nenek dia ingin bicara dengan nenek sebentar. Nara masuk ke dalam ruangan nenek menggunakan baju khusus.
"Nek," panggil Nara lirih dengan memegang tangan nenek yang terdapat jarum infusnya. "Nenek harus sembuh, Jaden pasti akan sangat sedih jika melihat keadaan Nenek seperti ini."
Wanita yang masih memejamkan kedua matanya itu sama sekali tidak merespon sama sekali ucapan Nara.
"Nek, Nara tau pasti Nenek sangat merindukan cucu Nenek. Begitupun denganku juga sangat merindukannya. Nek, Nara akan membawa cucu Nenek kembali di samping Nenek, tapi Nara minta maaf jika nanti Nara tidak bisa menemaninya. Nara harus pergi, Nek." Tangisan Nara perlahan mulai terdengar agak keras.
Nara benar-benar tidak kuat untuk menahan sesuatu yang menyesakkan di dalam dadanya. Di luar ruangan, tepatnya di depan jendela kaca besar itu Leo sedang berdiri melihat Nara yang menangis di samping ranjang nenek.
"Aku minta maaf sama kamu, Nara. Aku sudah berusaha dengan sebaiknya untuk membuat tuan Jaden dapat kembali bersama dengan kalian, tapi masalah ini begitu berat." Leo menundukkan kepalanya.
Nara beranjak dari tempat duduknya, dan sekali lagi menatap nenek dengan lekat. "Aku harap suatu hari nanti jika kita bertemu lagi, nenek mau memaafkan aku."
Nara berjalan pergi dari sana, dan tanpa Nara ketahui jika nenek Miranti mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
"Nara, kamu baik-baik saja? Kalau kamu mau pulang, kamu bisa pulang dulu biar aku di sini yang menjaga nenek."
"Mas Leo, aku mau pulang dulu dan nanti ke tempat suamiku, Jaden. Aku akan membawakan dia makanan buatanku."
"Iya, Nara, Tuan Jaden bilang jika dia sangat merindukan kamu."
Nara mengangguk perlahan. "Mas Leo, tolong jaga nenek dengan baik."
"Pasti Nara."
Nara pulang ke rumah dan dia segera menyiapkan makanan untuk suaminya. Nara membuatkan sup ayam yang Jaden sukai. Merapikan baju-bajunya dan dia mengambil sebuah koper berukuran sedang. Nara memasukkan beberapa baju di dalamnya dan ada uang tabungan yang diberikan Jaden yang Nara simpan. Nara meletakkan ATM berwarna hitam di atas laci serta ponsel yang dberikan oleh Jaden di sana.
"Aku hanya akan membawa satu foto saat kita menikah. Aku bahagia bisa menjadi istri kamu." Nara memandangi foto dirinya dan Jaden saat pernikahan di rumah sakit. Nara juga membawa satu baju yang sangat disukai oleh Jaden sebagai nantinya jika dia merindukan suaminya.
Nara memeluk baju itu dengan erat sambil menangis. "Maafkan aku, Sayang. Aku harus melakukan ini. Kamu tidak boleh sampai dihukum berat karena kesalahan yang tidak kamu lakukan. Aku tidak bisa melihat kamu menderita di dalam sana." Nara menghapus air matanya, dia tidak mau kalau sampai nanti saat menemui Jaden matanya terlihat sembab.
__ADS_1
Ponsel Nara berdering dan lagi-lagi tidak ada nomor pemanggil.
"Halo,"
"Hai, bagaimana? Apa sudah kamu pikirkan penawaran yang aku berikan kemari? Kalau belum tidak apa-apa karena surat tulisan tangan Mona sudah berada di orang suruhanku yang akan mengantarkan ke rumah paman dan bibi kamu."
"Jangan lakukan itu. Aku akan pergi meninggalkan suamiku jika kamu benar-benar memenuhi ucapan kamu untuk membuat dia bebas."
"Baiklah, aku setuju, Nara."
"Pada saat hari kebebasannya aku akan pergi meninggalkan dia. Kamu boleh pegang ucapanku."
"Tentu saja karena aku tidak takut. Aku akan mengawasi kamu terus Nara, dan jika kamu berbohong datang untuk menjemput Jaden. Aku pastikan kamu akan melihat Jaden meninggal di hadapan kamu."
Nara memutus panggilan teleponnya dia terdiam di tempatnya.
"Sebaiknya segera kulakukan. Nyawa nenek juga dalam bahaya, waktuku juga tidak banyak." Nara bangkit dan melihat sebentar sekeliling kamarnya yang nanti jika dia pergi pasti dia akan merindukan tempat ini.
"Apa kamu tau keadaan nenek?" Pria itu mengangguk perlahan. "Nenek akan segera sembuh, kamu di sini jangan khawatir." Nara mengusap lembut pipi suaminya.
"Aku tau. Dia nenekku dan dia akan sangat kuat untuk menghadapi semua ini. Kamu sendiri apa baik-baik saja?"
"Aku baik, bahkan sangat baik, kamu jangan khawatir. Sayang, sekarang kita makan dulu aku mau menyuapi kamu." Nara tersenyum.
Jaden tampak terdiam melihat lekat wajah Nara. "Nara, apa kamu akan menungguku jika nantinya aku masih harus lama di sini?"
"Tentu saja aku akan menunggu kamu, bahkan seribu tahun lamanya karena Nara hanya milik Tuan JL." Nara memberikan senyum manisnya.
Nara menyuapi Jaden sampai akhirnya makanan di mangkuk habis. Mereka berbicara banyak sekali, bahkan tentang masa depan dan nama anak mereka jika nanti Nara hamil.
"Sayang, waktu berkunjung ke sudah habis. Aku mau menemui nenek lagi. Semoga nenek segera sadar dari komanya dan pulih seperti sedia kala. Aku benar-benar tidak tega melihat keadaan nenek seperti ini."
__ADS_1
"Aku mencoba meminta izin untuk dapat melihat nenek, tapi tidak diperbolehkan. Leo tadi sudah menunjukkan foto nenek padaku. Jujur, aku tidak pernah melihatnya seperti itu dan hatiku sangat sakit sekali."
"Kita hanya bisa berdoa saja sekarang dan mendoakan nenek segera pulih."
Nara kembali memeluk suaminya dan mereka berciuman sebentar. Nara berjalan pergi dari sana dengan menahan air matanya.
Jaden yang melihat Nara berjalan pergi dari sana, entah kenapa hatinya terasa ada yang hilang, tapi entah apa?"
Dua hari berlalu dan keadaan nenek masih sama saja belum ada perubahan. Nara masih setia menjaga nenek di rumah sakit dan Jaden tau akan hal itu.
"Tuan, saya mendapat berita yang bisa membuat Anda akan terbebas dari kasus ini."
"Apa maksud kamu, Leo?"
"Mereka sudah menemukan siapa dalang di balik semua ini, dan benar dugaan saya, dia musuh terbesar Anda."
"Siapa? Damian?" Wajah Jaden tampak terlihat serius.
"Siapa lagi yang ingin melihat Anda merasakan kekalahan? Pihak kepolisian menemukan banyak bukti jika dialah yang melakukan semua ini karena memang ingin membalas dendam pada Anda," terang Leo.
Jaden yang mendengar hal itu malah seolah tidak percaya jika ini perbuatan Damian.
"Tuan, Anda kenapa?" Leo nampak heran melihat wajah Jaden.
"Tidak apa-apa. Leo, tolong kamu cari lagi informasi tentang apa benar Damian yang melakukan ini."
"Memangnya kenapa, Tuan? Harusnya Tuan Jaden bersyukur karena musuh Tuan akan segera mendapat balasan dari perbuatannya."
Jaden wajahnya datar mendengar apa yang dikatakan oleh Leo. "Kamu tetap cari tau saja."
"Iya, Tuan." Leo ini juga semakin heran dengan apa yang Tuannya inginkan, tapi dia merasa sekarang sedikit lega karena kebebasan Jaden akan segera terjadi.
__ADS_1