Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Nara Dalam Bahaya


__ADS_3

Tampak tangan pria itu menggenggam erat setir kemudi mobilnya seolah ingin menghancurkan setir kemudi itu. Tampangnya juga terlihat marah sahu bympai kedua rahangnya mengeras.


"Wanita itu! Dia seperti Mauren sukanya mempermainkan hati seseorang, tapi entah kenapa aku malah seolah penasaran dengannya? ****! Dia itu wanita menyebalkan dan tidak perlu aku urusi."


Jaden yang di dalam mobil segera melajukan mobilnya pergi dari sana.


Di rumah nenek. Renata yang baru saja datang dari Kanada segera menemui nenek Miranti.


"Malam, Nek." Renata memeluk wanita paruh baya itu.


"Renata? Kamu sudah kembali dari Kanada? Kenapa cepat sekali?"


"Aku merindukan Nenek dan si muka dingin itu. Eh, Nek, si muka dingin ke mana?" Renata celingukan mencari keberadaan Jaden.


"Dia sedang tidak berada di rumah. Jaden ada urusan keluar kota dengan Juan. Mungkin lusa dia pulang."


"Ya ampun! Dia itu sedang sakit, tapi kenapa dia malah masih mengurusi urusan bisnisnya?"


Wanita paruh baya itu menepuk pundak Renata. "Kamu lupa siapa cucuku?"


Renata mengangguk perlahan. "Iya, cucu Nenek itu memang manusia super. Super nyebelin. Eh, tapi dia itu kuat, Nek. Buktinya dia dua kali kecelakaan dia masih bisa bertahan." Dahal, Renata berharap dia meninggal dalam kecelakaan kali ini.


Wanita paruh baya itu terdiam sejenak. "Itu mungkin karena Nara, Renata. Cucuku masih bisa kuat dan bertahan untuk tetap hidup karena dia sangat mencintai Nara." Wajah nenek terlihat sedih.


"Nek." Renata memeluk Nenek. "Kenapa Nenek malah memikirkan lagi soal Nara. Aku sudah menunjukkan buktinya jika Nara itu bukan wanita baik-baik. Dia itu jahat sebenarnya dan hanya mempermainkan Jaden."


"Nenek juga tidak menyangka jika Nara akan melakukan hal itu, tapi Jaden masih sangat mencintainya.


Renata tampak sedang berpikir sesuatu. Dia kemudian melihat ke arah nenek. "Nek, bagaimana jika kita kenalkan si muka dingin itu pada seseorang?"


"Maksud kamu?" Lihat wanita tua itu bingung.


"Maksudku kita kenalkan Jaden dengan wanita lain yang nantinya bisa membuat Jaden lupa akan Nara."

__ADS_1


"Tapi Nara dan Jaden itu masih suami istri, Renata."


"Kalau soal itu mudah sekali, Nek. Nanti aku uruskan saja perceraian mereka. Ini semua, kan, salah Nara. Dia yang berselingkuh duluan dengan orang lain. Jaden juga sedang mengalami hilang ingatan, jadi tidak perlu khawatir kita akan membuang Nara jauh dari hidupnya."


Nenek tampak berpikir sejenak. Beliau seolah tidak setuju dengan cara Renata, tapi melihat bukti foto Nara dengan Paijo membuat wanita tua itu membenci Nara sekarang.


"Apa cucuku akan mau dekat dengan wanita lain? Dulu saja dia anti sekali berdekatan dengan seorang wanita."


"Nanti kita cari tau caranya, dan wanita itu harus paham juga soal Jaden. Selain itu, wanita itu juga bisa mengambil hati Jaden."


"Sulit, Renata. Cucuku itu seolah dulu menutup dirinya dari kata cinta, tapi entah bagaimana seorang Nara bisa membuat kebekuan hatinya mencair lagi."


Renata terdiam sejenak. Dia memikirkan cara bagaimana menjauhkan Jaden dan Nara. Renata dan Jacob ingin benar-benar membuat Jaden dan Nara berpisah karena hal itu sangat diinginkan Jacob. Membuat hidup Jaden menderita.


"Nanti aku akan cari caranya. Kalau perlu aku sendiri yang akan membuat Jaden melupakan Nara."


"Maksud kamu?"


Wanita yang usianya memasuki kepala enam, tapi masih terlihat awet muda itu agak terkejut mendengar apa yang baru saja Renata katakan.


"Kamu mencintai Jaden?"


"Sebenarnya tidak, Nek, tapi kalau untuk membuat Jaden bahagia dan bisa lepas dari wanita pembohong serta pengkhianat seperti Nara aku mau."


Nenek Miranti tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya akan memikirkan tentang semua rencana Renata.


Tepat pukul dua belas malam. Nara merasakan perutnya yang lapar, dan dia bangkit dari tempat tidurnya.


"Kamu kenapa lapar di jam seperti ini, Sayang?" Nara bicara dengan perutnya yang masih rata.


Nara mencoba mencari makanan di dapur rumahnya, tapi tidak ada apa-apa di sana.


"Huft! Aku sangat bodoh! Kenapa aku malah tidak menyediakan camilan di sini? Padahal aku sedang hamil dan pasti banyak membutuhkan banyak makanan." Nara teringat pada Jaden.

__ADS_1


Jika dirinya dan Jaden bersama sekarang. Pria itu akan memperlakukan dirinya sangat istimewah dan perhatian dengan semua yang dia inginkan.


"Apa aku keluar saja dan mencari orang berjualan makanan di luar?" Nara mengambil jaketnya dan berjalan keluar malam-malam walaupun agak takut, tapi Nara ingat tidak jauh dari rumahnya ada gerobak orang berjualan nasi goreng dan capjay yang biasa pemilik rumah kontrakan Nara beli.


Nara melangkah perlahan-lahan dan sesekali mengedarkan pandangannya mencari gerobak penjual nasi goreng lainnya yangh berada di sekitar sana.


Nara akhirnya melihat penjual nasi itu dan ada sekitar dua orang pembeli di sana sedang menunggu.


Nara duduk dan ikut mengantri di sana, dan sampai tiba gilirannya dia banyak di tanyai oleh penjual nasi itu karena dia tidak pernah melihat Nara.


"Iya, saya orang baru di sini, Pak. Saya tinggal di rumah kontrakan ibu Lira."


"Oh ... ibu Lira. Dia orang yang baik, Mba. Ini nasi gorengnya dan Mba segera pulang karena ini sudah malam sekali. Lain kali Mba bisa minta nomor telepon saya ke ibu Lira untuk pesan nasi goreng, nanti biar saya yang antar. Jangan keluar sendiri malam-malam, Mba."


"Iya, kalau begitu terima kasih." Nara berjalan pergi dari sana.


Nara mengeratkan jaketnya karena udara malam yang semakin dingin. Pada saat beberapa langkah lagi mendekati gank rumahnya. Nara berpapasan dengan dua orang pria yang penampilannya tidak karuan dan berjalan agak sempoyongan.


"Wanita, dia cantik sekali." Pria itu berjalan cepat mendekati Nara. Nara yang tau jika dua orang pria itu pasti memiliki niat jahat sama dia segera berjalan cepat menghindar.


"Kamu mau ke mana, Sayang." Satu orang temannya berhasil memegang tangan Nara.


"Lepaskan!" Nara yang memegang erat bungkusan nasi gorengnya mencoba memukul pria itu dengan bungkusan nasi gorengnya.


Nara akhirnya menendang kaki pria itu dan mencoba melawan kedua pria itu dengan ilmu bela diri yang pernah Kak Esme ajarkan. Namun, dia tiba-tiba merasakan badannya yang tidak enak, membuat perlawanan Nara melemah.


Hal itu dimanfaatkan oleh kedua pria itu untuk memegang kedua tangan Nara. "Lepaskan!" teriak Nara yang akhirnya dibungkam oleh tangan salah satu pria di sana.


Nara merasa ketakutan sekarang karena ini tengah malam dan tidak akan ada yang menolongnya saat ini. Dia tidak mau kedua pria ini berbuat buruk padanya. Nara berusaha terus meronta ditengah rasa sakit pada tubuh dan kepalanya yang agak pusing.


"Lepaskan wanita itu," suara tinggi dan berat tepat di belakang mereka.


"

__ADS_1


__ADS_2