Mr. Mafia & His Little Maid

Mr. Mafia & His Little Maid
Leo Pergi


__ADS_3

Mereka sarapan pagi bersama, dan Nara tampak senang melihat Jaden yang menyukai sup buatannya walaupun Jaden mengira itu sup buatan Mba Sandra.


"Bagaimana? Enak, Kan sup buatan saya Tuan Jaden?"


"Enak, aku menyukainya," jawab Jaden singkat dan jelas.


Uhuk ... uhuk


Leo tiba-tiba terbatuk dan dengan sigap Nara segera mengambilkan minuman untuk Leo.


"Mas Leo minum dulu." Nara menepuk perlahan punggung Leo. "Mas Leo pelan-pelan kalau makan."


Leo menghabiskan air yang diberikan oleh Nara dengan sekali teguk. "Terima kasih, Nara. Aku terlalu bersemangat menghabiskan nasi goreng yang enak buatan kamu ini."


"Nasinya masih banyak kalau Mas Leo mau, aku tiap hari bisa buatkan untuk Mas Leo."


"Kenapa kamu manja sekali hari ini, Leo. Kamu tidak seperti biasanya," sungut Jaden. "Aku harap jaga sikap kalian. Ini rumahku dan aku tidak suka orang berbuat di luar batasannya."


"Maaf, Tuan, tapi apa yang saya katakan benar tentang nasi goreng itu."


"Kamu berlebihan."


Nara dan Jaden saling melihat. Dalam hatinya Jaden tampak kesal pada sikap Nara yang perhatian dan manis pada Leo. Sedangkan beda lagi, dalam hatinya Nara merasa Jaden tidak suka jika Nara terlalu dekat dengan Leo karena Nara hanya seorang pelayan dan Leo asisten pribadinya yang statusnya di atas Nara.


"Tuan sendiri sudah pernah mencoba nasi goreng buatan Nara, Kan? Tuan juga mengakui nasi goreng buatan Nara enak."


"Memang, tapi tidak berlebihan seperti kamu. Nara mana obatku? Aku mau minum sekarang. Aku sudah bosan sakit seperti ini, andai waktu itu aku biarkan saja kamu jatuh, aku tidak akan seperti ini!" ucapnya kesal.


"Aku minta maaf, Tuan." Nara meletakkan sendok makan miliknya. Dia seolah merasa kenyang mendengar omelan Jaden.


"Tuan JL, sebenarnya saya sangat salut dengan kebaikan Tuan yang rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan pelayan Tuan saat akan jatuh. Padahal cederan yang Tuan alami sangat parah."


"Aku benar-benar minta maaf, dan tidak akan melakukannya lagi."


"Makannya jangan ceroboh ingin mencari bunga sendirian di hutan sana," terang Jaden cepat agar Nara tidak mengatakan kenapa Nara bisa sampai hampir jatuh.

__ADS_1


"Tuan, kamu tenang saja, aku akan berusaha agar kamu segera bisa pulih dan berjalan serta beraktifitas seperti dulu lagi." Tangan Sandra mengusap lembut lengan tangan Jaden. Pria itu hanya menatapnya datar.


"Tuan, obatnya sudah di ada di Mba Sandra. Katanya, Mba Sandra yang akan memberikan obatnya pada Tuan Jaden."


Jaden melihat pada Sandra, dan Sandra memberikan obat pada Jaden serta buah pisangnya. Nara memilih tidak melihat hal itu dan lebih menyibukkan diri dengan membersihkan peralatan makan. Hatinya terasa sakit saat melihat Jaden bersama dengan Sandra.


"Nara aku bantu." Leo membantu membereskan peralatan makannya.


Setelah minum obat, Jaden dibawa oleh Sandra keluar rumah karena mereka ingin melakukan terapi di luar. Jaden akan mulai belajar berjalan perlahan.


"Mas Leo duduk saja, biar aku yang menyelesaikan."


"Tidak apa-apa. Oh ya, Nara, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu."


"Mau mengatakan apa, Mas Leo? Katakan saja."


"Nara, kamu harus sabar dalam menghadapi Tuan Jaden. Dia memang orangnya seperti itu, tapi dia sebenarnya orang yang sangat baik. Dia berubah seperti itu karena keadaan yang membuatnya menjadi seperti sekarang."


"Mas Leo pernah mengatakan hal ini beberapa kali jika aku harus bersabar, tapi aku ini bukan istrinya yang harus mengerti dia terus. Huft!" Nara menghela napasnya pelan.


Leo malah terkekeh pelan. Nara yang melihatnya langsung mengerutkan kedua alisnya. "Maaf, Nara, aku tertawa karena lucu sekali mendengar apa yang kamu katakan."


"Tentang kamu yang bukan istrinya, dan kamu harus mengerti tentang Tuan. Aku membayangkan jika Tuan Jaden dan kamu menjadi pasangan suami istri pasti lucu."


"Hah? Mas Leo kenapa membayangkan sampai sejauh itu? Lucu apanya? Yang ada kita tiap hari akan bertengkar terus dan aku tidak akan mau mengalah dengan si dingin itu."


Tidak lama salah satu pengawal Jaden datang dan memberitahu jika Tuan Jaden meminta segelas air pada Nara.


"Mas Leo, aku mau memberikan air minum dulu pada Tuan Jaden."


"Iya, kamu ke Tuan dulu karena aku mau ke ruang kerja lagi, ada dokumen yang belum aku bawa."


Nara mengangguk dan keluar dengan membawa segela air untuk Jaden. Nara berjalan menghampiri Jaden dan Sandra yang tengah berpelukan karena Jaden sedang belajar berjalan dan Sandra membantu dengan memapahnya.


Nara memperhatikan posisi mereka berdua yang tampak romantis. "Tuan ini minumnya." Nara menyodorkan segelas air minum.

__ADS_1


"Lama sekali! Kamu sedang apa di dalam? Pasti sibuk dengan Leo. Apa kamu lupa tugas kamu di sini?" omel Jaden marah.


Nara hanya terdiam dimarahi oleh Jaden seperti itu, padahal hatinya sangat sedih. Dia sedih bukan karena omela Jaden yang mengingatkan dia, Nara sedih karena diomeli oleh Jaden di depan Sandra.


"Aku tadi sedang mencuci peralatan makan dan membereskan dapur, Mas Leo ada di ruang kerja Tuan."


"Ya sudah kamu bawa ini ke sana, Nara karena aku mau melanjutkan terapinya dengan Jaden


"Iya, Mba Sandra, aku tidak akan mengganggu." Nara berjalan pergi dari sana.


Hari itu Nara hanya bisa melihat dari kejauhan Jaden dan Sandra sedang berlatih berdua. Sandra tampak sangat telaten pada Jaden, apalagi terlihat senyum bahagia di sepanjang Sandra menerapi Jaden.


"Nara, kamu lihat apa?" suara Mas Leo mengagetkan Nara yang melamun.


"Aku melihat Tuan Jaden tampak cocok dengan Mba Sandra."


"Mana?" Leo memperhatikan Jaden dan Sandra. "Tidak cocok karena aku lihat Sandra itu sangat ambisius, dan Tuan juga, kalau mereka bersama yang ada tidak akan bakal menyatu."


"Kok bisa? Mereka sama-sama ambisius."


"Tuan tidak suka wanita yang memiliki ambisius berlebihan karena dia dapat memakai segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, biasanya dia akan tega melakukan hal buruk pada orang lain."


Nara mendengarkan apa yang dikatakan oleh Leo dengan serius.


"Leo, kamu belum bersiap-siap untuk berangkat?" Leo dan Nara tidak sadar jika Jaden ada di depan mereka dengan Sandra.


"Iya, ini saya mau berangkat, Tuan, tadi saya masih menunggu kabar dari orang yang aku suruh mengurus barang Tuan di sana."


"Apa sudah ada kabar?"


"Sudah. Nara, aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di sini, dan ingat apa yang aku katakan tadi." Tangan Leo menepuk perlahan kepala Nara.


"Leo, aku harap kamu melakukan semua dengan baik, dan kalau ada masalah langsung kabari aku." Tangan Jaden mengulur mengajak Leo berjabatan tangan.


"Tuan tenang saja, semua akan aku atasi dengan baik." Tangan Leo membalas jabatan tangan Jaden.

__ADS_1


"


"


__ADS_2